Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 63 - Go to Bali


__ADS_3

Saat Mama Ida tengah terpuruk akibat penipuan yang dilakukan Della, di tempat lain seorang ibu tengah sumringah mendengar kabar dari detektif yang ia sewa bahwa wanita muda yang ia duga adalah putri kandung yang dicarinya selama ini diketahui tengah berada di Bali.


"Apa? Ke Bali?" tanya Bu Jihan terkejut.


"Iya Bu. Informasi yang kita peroleh mengatakan begitu. Setelah Ibu mengirim foto wanita muda itu dan kita melacaknya. Hasilnya, ternyata dia pergi ke terminal bus tak lama setelah keluar dari kediaman keluarga Atmajaya. Lalu membeli tiket bus dari Jakarta menuju Denpasar, Bali. Saat ini kita masih berusaha mencari titik keberadaanya di Bali," tutur sang detektif.


"Baiklah, kalian lakukan terus pelacakan putriku. Dan segera kabari aku jika memang sudah menemukan lokasi atau tempat tinggalnya. Jangan sampai kehilangan jejak tetapi jangan mengagetkannya. Sebab dirinya tengah hamil muda khawatir kandungannya kenapa-napa. Hari ini juga aku akan berangkat ke Bali," titah Bu Jihan.


"Siap Bu," ucap sang detektif seraya menutup teleponnya.


Tak lama setelah Bu Jihan keluar dari kantor Faizan beberapa waktu lalu, dirinya langsung menghubungi detektif yang ia sewa guna mencari Aisha. Bahkan ia memberikan foto Aisha yang ia peroleh dari Faizan guna mempermudah pencarian.


Terlebih keesokan harinya, ia mendapat kabar dari Faizan bahwa saat ini Aisha dalam kondisi hamil muda. Tentu senangnya bukan main hati Bu Jihan. Jika memang Aisha adalah putri kandungnya berarti dirinya juga akan segera menimang cucu kandungnya yang saat ini ada di dalam rahim Aisha.


Faizan berkeluh kesah layaknya seorang anak pada ibunya. Bu Jihan sangat paham perasaan sedih dan bahagia yang tengah dialami oleh Faizan.


Di sisi lain bahagia mendengar kabar bahwa Aisha hamil. Namun di sisi lain juga sedih. Sebab saat Aisha hamil, dirinya sebagai suami tak mampu berdiri dan ada di samping sang istri.


Konon katanya trisemester awal biasanya wanita hamil akan mengalami mual atau muntah yang biasa disebut morning sickness. Bahkan fase mengidam juga. Lalu apa kabar Aishanya. Jika setiap hari mengalami hal itu, siapa yang mendampingi dan membantunya.


Hal itu terus berkecamuk dalam diri Faizan. Padahal faktanya, Aisha tidak mengalami itu semua. Seakan si jabang bayi mengerti kondisi sang Mama tengah berjauhan dari Papanya sehingga dia jarang rewel.


Justru tiap pagi Faizan harus muntah hebat. Bahkan pernah saking lemasnya, ia sampai pingsan di kamar mandi. Beruntung ada Bik Imah yang dengan sigap menolongnya. Sejak kejadian pingsan tersebut, Bik Imah memutuskan untuk tinggal di apartemen Faizan.

__ADS_1


Sebab ia tak tega jika harus pulang ke rumah kontrakannya meninggalkan sang majikan seorang diri di apartemen. Dirinya khawatir ada apa-apa dengan Tuannya. Terlebih saat ia tahu bahwa Nyonya mudanya yang tengah pergi dari rumah dalam kondisi hamil muda. Dan Tuannya sebagai suami yang mengalami fase mual dan mengidam.


"Sabar, Den. Pasti gak lama lagi neng Aishanya segera ditemukan. Nanti kalau sudah ketemu, neng Aishanya perlu di hukum itu," ucap Bik Imah seraya terkekeh bermaksud menghibur Faizan saat membawakan sarapan ke kamar Tuannya.


"Hukuman apa itu, Bik?" tanya Faizan dengan polosnya.


Mengalami morning sickness setiap pagi, mendadak otaknya sedikit lola alias loading lama.


"Eh, ya Tuan muda pasti tahu lah hukuman begituan sama neng Aisha di dalam kamar mah ngapain saja. Masak harus bibik yang ngajarkan," ledek Bik Imah seraya tertawa kecil.


Faizan yang otaknya sudah kembali ke mode lurus akhirnya paham tentang hukuman yang dimaksud Bik Imah. Dirinya mengulum senyum membayangkan Aishanya ia hukum di atas ranjang seharian. Ia berharap segera dipertemukan dengan sang istri.


Kini Faizan tengah lemas selepas mual hebat hingga dirinya untuk bangun dari tempat tidur rasanya tak kuat. Ia bersyukur sebab hal ini tidak dialami oleh istrinya melainkan dirinya. Faizan telah paham dengan baik setelah dokter pribadinya menjelaskan sakit yang menimpanya.


Tentu rasa bersalah yang bercokol dalam hatinya semakin menjadi-jadi jika sampai Aishanya mengalami susah dan kepayahan mengandung buah hatinya. Hal ini semakin membuat calon ayah yang terlihat garang ini menjadi melankolis.


Entah mengapa sejak mengalami fase tersebut, dirinya mudah cengeng dan rindu makin menumpuk hingga tidur pun susah.


Faizan baru bisa tidur nyenyak setelah matanya ditutupi oleh benda penyangga buah melon milik istrinya. Bahkan jika hal itu tak berhasil juga, dengan terpaksa dirinya harus mengendus-endus kain segitiga bermuda yang biasa digunakan sang istri untuk menutupi area pentingnya yang sering ia kunjungi tiap malam agar bisa tertidur.


Faizan terpaksa mengobrak-abrik lemari milik istrinya di apartemen saat dirinya kesusahan memejamkan matanya. Beruntung ada benda-benda keramat milik istrinya yang masih tertinggal sehingga ia dengan mudah menemukan penawarnya.


Walaupun tidurnya akan jauh lebih nyenyak bila ia bisa memeluk guling hidup favoritnya. Tetapi ia sudah sangat bersyukur sebab benda-benda tersebut menyelamatkan dirinya untuk bisa tidur sejenak dengan baik agar fisiknya tetap kuat dalam mencari sang istri yang belum juga ia temukan.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Faizan yang ada di atas ranjangnya bergetar dan ia melihat nama Bu Jihan tertera. Faizan pun langsung mengangkatnya.


"Halo Zan," panggil Bu Jihan.


"Iya, Bu. Ada apa? Tumben sepagi ini telepon," tanya Faizan lirih sebab tubuhnya sedang kurang fit.


"Kamu kenapa, Zan? Kok sepertinya suaramu lemas. Apa kamu sakit?" tanya Bu Jihan khawatir.


"Iya, Bu. Saya kurang enak badan karena mual-mual setiap pagi," jawab Faizan apa adanya.


"Selamat ya calon Ayah yang baik sudah mau menggantikan kesakitan istrinya yang tengah hamil muda. Sabar ya, Zan. Jika nanti Aishanya sudah kita temukan, biar Ibu suruh dia nina bobokkan kamu. Pasti dijamin langsung sembuh total," ledek Bu Jihan seraya tersenyum.


"Ah, Ibu bisa saja meledek. Semakin rindu nih aku, Bu. Huft..." rengek Faizan sendu.


"Ibu telepon cuma mau bilang, sekarang Ibu baru sampai di Bali. Selain acara ulang tahun Ibu besok malam, di sini Ibu juga mau mencari Aisha. Sebab informasi dari detektif yang Ibu sewa bilang kalau Aisha saat ini ada di Bali," tutur Bu Jihan penuh semangat.


"Apa, di Bali?" tanya Faizan terkejut.


"Iya," jawab Bu Jihan singkat.


"Baik Bu, terima kasih informasinya. Hari ini juga saya berangkat ke Bali," ucap Faizan yang langsung semangat 45 seraya mendapat oase di tengah gurun pasir tandus.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2