
Faizan menggerutu sebal pada Agung sebab dirinya ingin segera tiba di Bali. Namun semua rencananya meleset. Dikarenakan acara ulang tahun Bu Jihan tepat pada akhir pekan sehingga membuat tiket pesawat dari Jakarta ke Denpasar banyak yang telah terjual habis.
Jika pun memesan privat jet baru bisa dilakukan minimal sehari sebelum keberangkatan. Agung menawarkan privat jet untuk besok pagi namun Faizan bersikeras tak mau. Sebab dirinya ingin berada di Bali hari ini juga bagaimanapun caranya.
Keluarga Atmajaya memang belum memiliki privat jet. Sehingga jika membutuhkannya baik untuk urusan bisnis maupun pribadi, seringkali menyewa pada pihak lain.
Sedangkan Keluarga Artanegara sudah memiliki privat jet. Bahkan Jihan bertolak dari Batam ke Jakarta lalu menuju Denpasar, Bali, menggunakan privat jet miliknya.
"Aku enggak mau tahu Gung. Pokoknya hari ini juga aku harus sampai di Bali. Berapapun harga tiketnya aku beli!" ucap Faizan dengan nada agak tinggi tanpa sadar.
Dikarenakan rindu yang membuncah sejak mendengar bahwa belahan jiwanya yang sedang mengandung buah hatinya itu tengah berada di Pulau Dewata, Bali, maka otomatis membuat Faizan kehilangan akal sehatnya. Pikirannya saat ini hanya tertuju untuk segera menemukan Aisha dan memeluknya lalu menghukumnya.
__ADS_1
"Sabar Gung, sabar... " batin Agung tengah dongkol tetapi juga kasihan melihat bosnya yang satu ini.
"Semua tiket sudah terjual habis dan yang tersisa hanya ada tiga tiket kelas Ekonomi biasa untuk jam sebelas malam nanti, Tuan. Apa jadi ambil yang itu saja atau naik privat jet besok jam tujuh pagi?" tanya Agung.
"Apa? Kelas Ekonomi biasa? Yang kelas Ekonomi Premium, Bisnis atau First Class apa tak ada? Coba kamu cek ulang. Jangan-jangan kamu perlu pakai kaca mata biar enggak rabun lihat tiket apalagi cewek cantik buat melepas status jomblo abadi kamu itu," ucap Faizan tanpa tedheng aling-aling.
"Apa hubungannya kaca mata sama status jomblo? Lah dia sendiri tidur pakai kaca mata melon punya bininya. Ya Tuhan, luaskan sabarku menghadapi bos yang tengah super bucin dan rindu menggunung di puncak asmara yang mengalahkan tingginya puncak Gunung Semeru. Padahal itu gunung sudah paling tinggi di Pulau Jawa. Dasar bos aneh. Suka ngadi-ngadi semaunya sendiri. Emang bandara dan seisinya ini punya nenek moyangnya!" batin Agung menjerit.
Di dalam pesawat pun Faizan masih berdebat kecil dengan Agung. Hal ini dikarenakan menjelang dini hari di atas pesawat yang tengah mengudara, tiba-tiba bosnya itu ingin makan lontong pecel.
"Astaga, apa dosa hamba ya Tuhan? Malam-malam cari lontong pecel di udara, di mana coba yang jual? Ini yang ada cuma nasi goreng. Lontong pecel kan biasanya pagi buat sarapan. Bukan malam begini, Bos!" batin Agung ingin berteriak dan menangis.
__ADS_1
Rasanya Agung ingin sekali melempar bosnya ini dari atas pesawat. Gemasnya sudah ada di ubun-ubun menghadapi tingkah bosnya yang seringkali aneh bin ajaib tetapi nyata.
Namun pada akhirnya Agung pura-pura tertidur seraya mendengarkan ocehan bosnya yang langka ini. Biarlah bosnya mengomel terus. Toh nanti ujungnya akan diam sendiri ketika mendapat lirikan tajam dari penumpang lain atau disemprot ibu-ibu yang merasa terganggu.
Tak lama Faizan pun diam sesuai tebakan Agung sebab ditegur oleh seorang pramugari yang sedang bertugas.
"Ya ampun, sejak tadi aku cerita sama dia malah ditinggal molor. Dasar asisten enggak ada akhlak! Nanti aku dikira sakit jiwa ngomong sendirian," keluh Faizan lirih dengan hati dongkol. Saat menoleh, dirinya melihat Agung tertidur dengan pulas di sampingnya.
"Syukurin, haha..." batin Agung tertawa.
🍁🍁🍁
__ADS_1