
"Bu Jihan," ucap Faizan terkejut.
"Pagi, Zan. Kamu mual lagi pagi ini?" tanya Bu Jihan yang melihat Faizan sedang lemas.
"Iya, Bu. Cuma hari ini enggak separah sebelumnya," ucap Faizan lirih.
"Ini Ibu bawakan teh hangat tawar buat kamu. Karyawan Ibu yang buat, karena ibu kepikiran kamu. Kan kemarin-kemarin kena morning sickness terus sampai pucat. Teh hangat tawar baik untuk meredakan mual. Cepat pulih ya, Zan. Nanti malam siapkan tenagamu," ucap Bu Jihan seraya tersenyum dan memberikan segelas teh hangat tawar pada Faizan.
"Eh, makasih Bu. Jangan repot-repot Bu," ucap Faizan sedikit kikuk.
Bu Jihan pun berpamitan kembali ke kamar. Lalu Faizan menutup pintu dan membawa segelas teh hangat tadi di meja makan. Ia sedikit termenung dengan kalimat ambigu yang Bu Jihan lontarkan barusan.
"Siapkan tenagamu nanti malam? Memangnya nanti malam ada acara pacuan kuda? Ada-ada saja Bu Jihan," batin Faizan seraya geleng-geleng kepala dan terkekeh sendiri.
Tok... tok... tok...
"Ya ampun baru saja minum seteguk sudah ada gangguan lagi. Siapa sih?" gerutu Faizan seraya bangkit dari duduknya guna membuka pintu kamarnya.
Ceklek...
"Hai, Bro. Apa kabar nih calon Papa? Wajahmu terlihat bahagia seperti menang lotre saja," ledek Benny.
"Dasar ganggu saja. Aku masih jetlag mau istirahat sebentar tapi kamu gangguin saja, huh! Pergi sana ke pantai kek. Lihat-lihat bule yang cantik-cantik. Siapa tahu kamu langsung ngajak dia kawin," balas Faizan seraya tertawa.
"Dasar teman apaan nih! Bahagia banget lihat temannya terjerumus ke jurang nestapa. Aku suka yang asli pribumi saja. Lebih legit katanya," ucap Benny seraya tertawa terbahak-bahak.
"Tapi sayangnya itu cewek enggak mau sama kamu. Kelamaan jadi jomblo kayak si Agung jadi adiknya lama hibernasi. Perlu ikut tes uji kelayakan dulu," ledek Faizan terkekeh.
Keduanya saling bercengkerama dan bersenda gurau layaknya sahabat rasa saudara. Tanpa terasa segelas teh hangat tawar pun ludes di minum Faizan.
"Kok rasa teh hangat ini kayak buatan Aisha. Ah rindu ini benar-benar membunuhku seperti lagu saja," batin Faizan sendu menatap gelas yang sudah kosong itu karena isinya telah berpindah ke dalam perutnya.
Setelah minum teh hangat tersebut, perutnya lebih baik dan mual itu pun hilang dengan sendirinya. Bahkan wajahnya tampak bersemangat dan sudah tidak pucat seperti tadi.
__ADS_1
Benny pun pamit, dirinya ingin membantu tantenya melihat persiapan pagelaran pesta nanti malam yang sangat dinantikan.
"Jangan lupa banyak istirahat, Bro. Siapkan tenagamu nanti malam. Jangan sampai kalah duluan," ucap Benny seraya terkekeh lalu bergegas pergi dari kamar Faizan.
"Apaan sih? Otak itu bocah sudah geser kali ya. Siapkan tenaga nanti malam. Emang di acara Bu Jihan ada acu panco apa? Suka ngadi-ngadi itu bocah ababil," batin Faizan menggerutu sambil menutup pintu kamarnya.
🍁🍁🍁
Malam yang ditunggu pun tiba, semua karyawan Ji's boutique dan keluarga masing-masing sudah memenuhi venue pesta malam ini yang berada di rooftop hotel bintang lima tersebut. Melihat keindahan pantai Kuta, Bali, dari rooftop di malam hari dengan gemerlap bintang di langit serta lampu-lampu yang menghiasi acara ulang tahun Bu Jihan sungguh mengagumkan bagi yang melihatnya.
Aisha sudah berada di venue acara dengan mengenakan gaun warna merah maroon. Warna senada yang dikenakan oleh Bu Jihan, Benny dan juga Faizan. Sedangkan yang lainnya menggunakan pakaian dengan nuansa hitam putih.
Awalnya Aisha sempat terkejut saat Kadek datang ke kamarnya membawa sebuah paper bag berisi gaun merah maroon tersebut. Kadek bilang ini permintaan Bu Jihan jadi harus dituruti. Mau tak mau Aisha tak mampu membantahnya.
Gaun yang ada beberapa motif daun dan bunga dengan panjang di bawah lututnya namun tidak sampai mata kaki sangat pas di tubuhnya. Bentuknya yang sedikit mengembang di bagian perut hingga ke bawah sangat nyaman untuk dirinya yang tengah hamil.
Bagian pundak sedikit terbuka dengan dua tali spaghetti di sisi kanan dan kiri. Namun lengan bagian atas masih tertutup sehingga gaun tersebut tidak terlalu terbuka untuk Aisha.
Kadek membantu Aisha untuk sedikit merias wajahnya dengan riasan natural. Sebab wajah Aisha sudah sangat cantik alami dan memang terkesan baby face sehingga tak perlu banyak polesan make up.
Faizan mengenakan kemeja dan dasi berwarna senada yakni merah maroon. Lalu celana bahan dan jas dengan warna senada yakni hitam. Sedangkan Benny mengusung tema casual sehingga dia memakai kaos warna merah maroon yang dimasukkan ke dalam celana jeansnya yang berwarna hitam.
Aisha sedikit kikuk sebab ia melihat karyawan lainnya menggunakan baju dengan tema hitam putih sedangkan dirinya berbeda yakni merah maroon. Sempat ia melihat beberapa sorot mata memandangnya. Namun ia berusaha tak pedulikan.
Acara yang berlangsung di rooftop tersebut berada di dalam sebuah ruangan kaca tembus pandang. Dan saat keluar dari ruangan itu, maka ada sebuah mini garden yang langsung menatap indahnya pantai Kuta di malam hari.
Saat acara pemotongan kue ulang tahun Bu Jihan, Aisha mendadak mual namun tak ingin muntah. Hal ini dikarenakan ia mencium aroma beberapa makanan di dalam ruangan tersebut yang mendadak tidak ia sukai.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar menghirup udara malam sembari menikmati pemandangan di mini garden tersebut agar mualnya mereda.
Sedangkan Faizan sejak tadi lama berada di dalam toilet sebab dirinya terlalu banyak makan lontong pecel yang dibelikan Agung. Di mana bumbu kacangnya cukup pedas sehingga berujung Faizan keluar masuk toilet saat acara berlangsung.
Agung hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Tuannya tersebut. Namun ia tidak terlalu memusingkan dan memilih menikmati hidangan serta acara yang tengah berlangsung meriah itu.
__ADS_1
Saat Faizan keluar dari toilet yang sudah ke tiga kalinya ini, dirinya sungguh terkejut melihat punggung seorang wanita yang tentunya sangat ia kenali. Walaupun jarak keduanya tidak terlalu dekat tetapi ia tidak mungkin salah melihat.
Bahkan kini mendadak sakit perutnya hilang seketika entah menguap ke mana. Dirinya berjalan perlahan mendekati wanita yang tengah ia lihat dengan seksama itu. Pandangannya lurus tak tergoyahkan walaupun dalam sakunya, ponselnya terus bergetar sebab Agung meneleponnya.
Agung berniat ingin menanyakan pada Faizan apa perlu dibelikan obat diare. Namun teleponnya tak kunjung diangkat oleh Faizan.
Si Agung tak tahu saja bahwa saat ini bosnya itu tengah terharu bahagia karena melihat seorang wanita yang ia rindukan setengah mati, kini sudah ada di hadapannya tengah tersenyum menatap keindahan pantai Kuta dari area mini garden di rooftop hotel tersebut.
Grep...
Deg...
Aisha mematung seketika.
Sepasang lengan kokoh yang tentunya ia sangat kenali dari aroma dan gesturnya, mendadak memeluknya dari arah belakang tubuhnya. Pelukan itu semakin erat ditambah kepala lelaki yang tengah memeluknya itu kini telah berada di ceruk lehernya.
Cup...
Cup...
Cup...
Beberapa ciuman lembut diberikan Faizan pada area pundak dan leher sang istri yang sangat ia rindukan ini.
"Ma_s," ucap Aisha terbata-bata dan terkejut.
Dirinya berusaha lari dan menjauh dari suaminya demi kebaikan bersama. Namun Tuhan berkehendak lain sebab kini Faizan telah menemukan keberadaannya.
"Jangan banyak bicara! Pokoknya malam ini kamu akan terima hukuman dari aku. Titik enggak pakai koma!" titah Faizan tak bisa diganggu gugat seraya berbisik mesra di telinga sang istri dan membuat Aisha menelan salivanya dalam-dalam.
Deg...
🍁🍁🍁
__ADS_1