Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 28 - Masih Suci ?


__ADS_3

Bugh...


Tiba-tiba dalam keadaan polos Aisha menerjang tubuh Faizan yang tengah berdiri dan tidak siap. Kini keduanya tengah berpelukan di atas ranjang dalam kondisi Faizan di bawah kungkungan istrinya.


"Aku cinta kamu Mas. Aku sayang kamu. Jangan pernah tinggalin aku. Jangan pernah duakan aku," bisik Aisha lirih di telinga Faizan.


Faizan mengerjap sedikit heran dengan tingkah dan kalimat istrinya yang tak biasa. Walaupun begitu ia tak menyalahkan Aisha. Ia biarkan sang istri mengeluarkan isi hatinya. Apalagi sebagai lelaki normal, dirinya juga rindu dan ingin dibelai serta dipuja oleh belahan jiwanya ini.


"Sayang_" ucapan Faizan terpotong.


Aisha yang tengah didera rasa cemburu tak kasat mata secara hebat tanpa sadar langsung membungkam bibir Faizan dengan sebuah ciuman panas. Bahkan sembari keduanya saling menyesap manisnya madu hingga bibir masing-masing kebas, Aisha pun dengan tak sabaran segera melucuti seluruh benang yang ada pada tubuh suaminya.


Keduanya saling membelai satu sama lain mencari kehangatan yang biasa dilakukan oleh para pengantin baru pada umumnya. Meneguk dahaga sebanyak-banyaknya seolah dilanda kehausan tengah berada di padang pasir tandus yang panas.


Hawa dingin kota Bandung semakin menambah romantisme keduanya untuk mendaki ke puncak nirwana yang diinginkan dan dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan ragawi masing-masing.


Tubuh keduanya pun bercucuran keringat berpadu dengan suara indah yang keluar dari bibir masing-masing saling menyerukan nama pasangan dan saling bersahutan seolah tak ingin waktu berhenti.

__ADS_1


Aisha sendiri pun tak menyadari bahwa apa yang dilakukannya saat ini sungguh terasa berbeda dengan pernikahan pertamanya yang lalu. Ia tidak pernah beringas atau seagresif seperti ini pada mendiang suami pertamanya, Handika.


Entah mengapa pada Faizan, dirinya berbeda tiga ratus delapan puluh derajat. Padahal sebelum menikah, antara dirinya dengan Faizan tidak berpacaran seperti saat ia memulai hubungan dengan Handika.


Sungguh efek cemburu begitu dahsyat pada reaksi tubuhnya kini. Hal ini seakan menandakan cinta Aisha untuk Faizan bukan kaleng-kaleng atau isapan jempol belaka.


Faizan sungguh bahagia malam ini. Tanpa meminta, dirinya langsung diberikan keindahan dari sari madu bunga cintanya yang telah lama ia dambakan. Menikmati seluruh inci tubuh istrinya dari ujung hingga ke ujung tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Bahkan kini tanpa merasa bersalah, dirinya banyak meninggalkan stempel kepemilikannya bertebaran di tubuh sang istri akibat ulah bibirnya yang seperti soang.


Ganas dan menggila. Sebab di usianya yang kini genap dua puluh lima tahun, tentu saja sedang berada di fase yang sangat produktif.


Bahkan Aisha sempat berpikir seakan Faizan telah berpengalaman dalam hal ini. Karena gaya Faizan melakukan padanya sungguh memabukkan. Membuatnya lemas dan tak berdaya padahal acara inti belum lah tiba.


Saat Faizan akan masuk ke rumah terdalam milik Aisha, ia merasa kesusahan. Dirinya masih berpikir positif bahwa rumah Aisha sudah lama tidak dijamah. Mungkin itu yang menyebabkan dirinya susah masuk seakan ada dinding tebal yang menghalanginya.


Akhirnya dengan sekuat tenaga Faizan berusaha mendorong dan menerobosnya. Faizan begitu terkejut setelah pusakanya berhasil melakukan misi tersebut walaupun membuat Aisha memekik hebat sebab dilanda kesakitan.

__ADS_1


Bahkan istrinya itu mengeluarkan air matanya dan sesenggukan kecil. Melihat hal itu, Faizan sungguh merasa tak tega dan didera rasa bersalah.


Sebab ia mengira dirinya telah melakukannya secara kasar sehingga Aishanya sakit hingga menangis. Padahal sesungguhnya bukan karena itu.


Aisha terharu sebab dirinya kini sudah bisa menjadi seorang istri seutuhnya. Terlebih yang kini bersamanya adalah pria luar biasa yang begitu tulus mencintainya apa adanya tanpa memandang usia, derajat, kasta maupun harta.


"Sayang, maaf. Kamu pasti kesakitan karena aku terlalu kasar," ucap Faizan dengan nada sendu tulus meminta maaf.


Namun Aisha justru menggelengkan kepalanya seraya mengecup bibirnya sekilas walaupun masih menitikkan air matanya.


Dikarenakan sang istri sudah memberinya lampu hijau untuk melanjutkan, akhirnya ia mencabut miliknya untuk menghujam kembali. Akan tetapi dirinya begitu terkejut melihat darah namun bukan darah wanita ketika datang bulan.


Untuk hal yang satu ini Faizan tidak lah bodoh. Ia sangat mengerti darah apa ini terlebih sebelumnya ia seperti menerobos sebuah dinding penghalang saat masuk ke rumah terdalam istrinya.


Ia mengerjap linglung begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya. Bagaimana mungkin?


"Kamu masih suci, Sha?" tanya Faizan yang mendadak terkejut akan sebuah fakta yang mencengangkan di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Deg...


🍁🍁🍁


__ADS_2