
Setelah mendapatkan asupan pembuka sejenak di bibir Faizan dari sang istri sebagai mood boster untuk berangkat ke tempat meeting, akhirnya Faizan berangkat ke tempat yang telah disepakati dengan Tuan Ronald dan tim.
Agung yang menunggu sejak tadi di depan kamar Faizan, sungguh berdecak sebal.
"Tuan Faizan sudah mulai mengidap penyakit syndrome bucin dan doyan ngamar," batin Agung tengah dongkol sebab dirinya sudah seperti jemuran baju seakan menunggu baju yang awalnya basah sampai kering dijemur saja.
Awalnya Aisha tak ingin keluar hotel. Lebih baik di kamar saja khawatir jika dirinya keluar, nanti sang suami balik ke hotel lebih cepat. Namun setelah dua jam lebih kepergian sang suami dan saat ini jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dirinya dilanda kebosanan.
Akhirnya Aisha memutuskan berjalan-jalan sejenak di jalanan yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Sebelumnya ia telah mendapat ijin pergi dari suaminya. Aisha memutuskan jalan-jalan untuk menghirup udara malam di kota yang biasa disebut Paris Van Java ini.
Kota Bandung sejak sore dilanda hujan namun masih dalam intensitas rendah hingga pukul sembilan malam. Saat ini menjelang jam sebelas malam, hujan sudah reda menyisakan beberapa genangan kecil di pinggir jalan.
Suasana jalanan kota Bandung masih terbilang cukup ramai walau hari sudah larut malam. Sebab masih banyak cafe maupun restoran yang masih buka hingga dini hari bahkan dua puluh empat jam.
Tentu saja hal ini membuat banyak kaum muda-mudi menikmati kehidupan malam untuk foto-foto, ngopi cantik atau sekedar bercengkerama dengan teman di area taman maupun cafe.
Saat berjalan menyusuri jalan Hayam Wuruk yang tak jauh dari Gedung Sate, Aisha mendadak berhenti melangkah. Ia melihat sang suami tengah bercengkerama dengan seorang wanita muda yang usianya sepertinya tidak jauh dengan Faizan.
Lalu Aisha pun dari jauh menengokkan pandangannya ke kanan dan ke kiri di sekitar Faizan duduk dengan wanita tersebut guna mencari Agung namun ia tak melihat sekretaris suaminya itu.
"Bukankah tadi janjinya meeting ketemu dengan Tuan Ronald? Kenapa jadi meeting dengan wanita muda? Masak itu istri Tuan Ronald? Tapi enggak mungkin. Kata Mas Faizan, Tuan Ronald sudah usia lima puluh tahun dan istrinya usianya juga tidak jauh beda malah mereka sudah punya tiga orang anak yang sudah cukup besar," ucap Aisha bermonolog.
__ADS_1
Akhirnya Aisha yang tengah dibakar api cemburu dan kesal melihat keakraban Faizan dengan wanita muda tersebut memutuskan melangkah pergi dari sana untuk kembali ke hotel.
"Siapa wanita cantik tadi ya? Usianya juga masih muda seperti sebaya dengan Mas Faizan. Mana keduanya akrab lagi seperti yang tadi aku lihat, huh! Tahu gini lebih baik aku di Jakarta saja," batin Aisha dongkol.
Satu jam kemudian,
Ceklek...
Pintu kamar terbuka namun melihat kondisi kamar gelap tanpa penerangan akhirnya ia memasukkan kartu pintar di tempat yang semestinya untuk menyalakan lampu.
Setelah kamar terang benderang, derap langkah sol sepatu perlahan melangkah masuk ke dalam dan melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tetapi ia tidak melihat batang hidung istrinya.
"Sayang," panggil Faizan seraya melangkah menuju ke kamar mandi.
Ia tidak menemukan istrinya baik di kamar manupun kamar mandi hingga ke balkon. Pergi ke mana istri cantiknya itu malam-malam begini? Akhirnya Faizan merogoh ponsel di kantongnya dan ia melihat tak ada pesan maupun panggilan dari sang istri sebelumnya.
Lalu ia menekan dial kontak istrinya namun bukan Aisha yang menjawab melainkan operator yang mengatakan,
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi."
"Aisha pergi ke mana ya? Kok tumben ponselnya enggak aktif," ucap Faizan bermonolog resah.
__ADS_1
Saat Faizan berdiri dari ranjang dan akan melangkah untuk keluar kamar guna mencari sang istri, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka menampilkan sosok belahan jiwanya yang sejak tadi ia risaukan.
"Sayang, ke mana saja? Kok aku hubungi ponselmu enggak aktif? Kamu enggak kenapa-kenapa kan?" cecar Faizan yang kentara sangat khawatir pada istrinya bukan sekedar basa basi atau main-main.
Aisha pun mendongak menatap sang suami sekilas setelah sebelumnya ia hanya menunduk lesu. Ia pun meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan penuh takzim.
"Maaf Mas, ponselku lowbat tadi. Jadi enggak tahu kalau Mas telepon aku," jawab Aisha lirih.
Faizan sedikit heran melihat mimik wajah sang istri yang terlihat lesu. Seakan menyimpan sesuatu yang tengah dipendam namun ia tidak tahu apa itu.
Faizan adalah sosok yang cukup peka. Terlebih pada sang belahan jiwanya. Ia sudah sangat mengenal karakter Aisha dari yang ia lihat selama menjadi istri kakaknya.
Bahkan hidup berdua beberapa hari ini sudah membuat Faizan cukup paham terhadap sifat maupun karakter istrinya. Aisha memiliki sifat ceria dan penyayang. Jika Aisha tengah diam atau irit bicara artinya hatinya tengah gundah gulana yang pasti terjadi suatu problematika yang tengah ia hadapi.
Faizan berusaha sabar dan tak terburu-buru mencecar sang istri kembali. Ia biarkan terlebih dahulu hingga nanti sang istri akan bercerita atau bertanya sesuatu kepadanya.
Setelah melepas alas kakinya, Faizan dibuat terpelongo sebab mendadak Aisha berjalan ke arahnya yang awalnya menunduk kini menatapnya secara langsung seiring kedua tangan Aisha dengan cepat melepaskan seluruh kain pembungkus di raganya sendiri yang otomatis membuat tubuh Aisha kini dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
"Sa_yang," ucap Faizan tercekat mendadak kerongkongannya kering disuguhi kemolekan tubuh sang istri yang sudah lama ia dambakan.
Deg...
__ADS_1
🍁🍁🍁