Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 52 - Kedatangan Tamu


__ADS_3

Faizan tengah berpikir keras mengenai rasa curiga yang ada di benaknya tentang tikus kecil yang mengusik ketenangan keluarganya. Dirinya tengah memijat pelipisnya yang sedikit pusing sebab terlalu banyak berpikir kemungkinan yang ada.


Dan tentu saja keberadaan sang istri yang hingga kini masih belum ia temukan, menyisakan sebuah tanda tanya besar serta alasan sang istri pergi dari rumah.


Tanpa sadar, beberapa kali ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Namun ia abaikan sebab dirinya sedang tidak fokus. Alhasil tak lama getar ponselnya pun berhenti.


Tok... tok... tok...


"Masuk," ucap Faizan datar.


Ceklek...


Pintu ruangannya pun terbuka menampilkan Agung berjalan ke arahnya.


"Maaf Tuan mengganggu sejenak," ucap Agung dengan sopan dan hormat.


"Ada apa Gung?" tanya Faizan to the point.


"Di luar ada Bu Jihan datang katanya ingin bertemu dengan Anda. Sedari tadi beliau menghubungi ponsel Tuan. Namun tak ada jawaban," jawab Agung apa adanya.


"Ya ampun, Bu Jihan ada di sini?" tanya Faizan sedikit terkejut dan menghela nafas sejenak.


"Benar, Tuan."

__ADS_1


"Persilahkan langsung masuk saja dan suruh OB segera menyiapkan minuman serta kudapan ringan," titah Faizan.


"Baik Tuan," jawab Agung seraya berpamitan keluar untuk memanggil Bu Jihan masuk.


Bu Jihan pun segera masuk ke ruangan Faizan dan Agung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ya ampun, ckck... Tuan CEO kita yang tampan ini rupanya mengalahkan Superman bahkan Spiderman saja. Kurangi lah workaholicmu itu, Zan. Sampai-sampai telepon dari janda tua seperti aku ini sudah tidak dianggap lagi," ucap Bu Jihan seraya berjalan ke arah Faizan dengan nada merajuk.


"Silahkan duduk, Bu. Maaf jika saya kurang sopan. Saya betul-betul baru melihat ponsel jika ada panggilan tak terjawab dari janda cantik yang satu ini," balas Faizan meledek Bu Jihan dengan senyum khasnya.


Bu Jihan pun langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan singgasana Faizan secara langsung dan hanya dibatasi oleh sebuah meja kerja.


"Ah, kamu ini suka hiperbola. Cantik dari mana coba, kalau tua iya. Haha... " tawa Bu Jihan renyah.


Faizan berusaha tersenyum di depan mantan atasannya itu yang sekaligus Tante dari Benny, sahabatnya.


"Sengaja mampir, Zan. Minggu depan ada acara ulang tahunku di Bali bersama para karyawan butikku. Kebetulan lama aku tak memberi apresiasi untuk orang-orang butik. Sejak aku meneruskan bisnis mendiang suamiku, jadinya orang kepercayaanku yang menjalankan usaha butikku. Padahal sesungguhnya dahulu cita-citaku menjadi seorang designer baju. Sekarang janda tua ini jadi beralih ke bisnis yang lain melepas cita-citanya," tutur Bu Jihan seraya menghela nafas dalam saat menceritakan uneg-uneg di hatinya.


"Eh, kok aku jadi curhat. Maaf ya, Zan. Bukan maksud Ibu jadi curcol sama kamu, hehe..." pungkas Bu Jihan seraya tersenyum.


"Sabar Bu. Pasti karyawan butik Ibu sangat bangga dan berterima kasih. Sebab Ibu tak menutup butik tersebut. Maklum jaman sekarang cari kerja kan susah," ucap Faizan.


"Maka dari itu, aku ke sini berniat mengundang kamu dan istrimu datang ke pesta ulang tahunku di Bali. Please, aku mohon dengan sangat kali ini kamu bisa hadir. Kalian tak perlu memberiku kado apapun. Kedatanganmu dan istrimu itu sudah aku anggap sebagai kado istimewa buat janda tua ini. Kalian sudah Tante anggap sebagai anak sendiri sama seperti Benny. Dia juga akan datang ke Bali," ucap Bu Jihan dengan tulus dan memohon.

__ADS_1


"Baik, Bu. Saya usahakan untuk hadir," ucap Faizan dengan gestur yang tak biasa.


Bu Jihan menangkap sesuatu yang aneh di raut wajah Faizan seakan tak bersemangat. Terlihat sekali tampak lesu dan banyak pikiran. Sebab ia sudah mengenal Faizan cukup lama. Jadi keduanya sudah saling mengetahui gestur tubuh masing-masing jika ada yang sedang kalut atau memiliki suatu masalah.


"Zan, are you okey?" tanya Bu Jihan secara refleks sebab cukup heran melihat mimik wajah Faizan yang sendu.


( Apa kamu baik-baik saja, Faizan? )


"Eh, ehm... sa_ya baik-baik saja kok Bu," ucap Faizan sedikit terbata-bata.


"Jika kamu punya masalah, Ibu siap bantu. Jangan pernah sungkan," ucap Bu Jihan tulus.


"Terima kasih sebelumnya, Bu. Tapi benar, saya tidak apa-apa kok. Hanya sedikit kurang enak badan. Sepertinya masih jetlag setelah perjalanan bisnis dari Taiwan beberapa waktu lalu," ucap Faizan.


Bu Jihan berusaha mempercayai ucapan Faizan walaupun ia merasakan bahwa sahabat Benny tersebut tengah mengalami suatu masalah yang bersifat rahasia.


Untuk menghalau rasa cemasnya, Faizan pamit ke toilet pribadinya sejenak dan Bu Jihan mempersilahkannya. Saat Faizan berada di toilet, Bu Jihan tanpa sengaja melihat sebuah foto wanita berserak di atas meja kerja Faizan.


Hatinya mengatakan untuk melihatnya namun sisi yang lainnya mengatakan tidak boleh. Sebab hal itu adalah ranah pribadi Faizan. Akan tetapi hatinya jauh lebih kuat daripada logikanya. Dan akhirnya tangannya terulur mengambil sebuah foto yang ternyata seorang wanita tengah berjalan keluar dari sebuah rumah.


Foto tersebut full body sehingga tampak jelas wajah dan postur tubuh dari atas hingga ke bawah. Bahkan pakaian serta aksesoris yang dikenakan wanita dalam foto itu juga tampak jelas.


Deg...

__ADS_1


"Gelang itu?" batin Bu Jihan terkejut saat melihat sebuah gelang yang sangat ia kenal tengah melingkar di tangan sebelah kanan pada wanita dalam foto tersebut.


🍁🍁🍁


__ADS_2