Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 55 - Ngidam


__ADS_3

Akhirnya Faizan menjelaskan tentang kepergian Aisha sepulang dirinya dari Taiwan. Dan juga sang istri mengalami tindakan asusila dari seorang pemeras hingga mengancam meminta uang sebesar dua puluh milyar.


Namun Faizan dengan tenang menyampaikan bahwa tentang tikus kecil pemeras itu tak perlu dikhawatirkan sebab anak buahnya sedang meringkusnya.


Kini yang ia cemaskan hanya keberadaan sang istri. Mengapa Aisha pergi dari rumah tanpa seijinnya dan tak ada surat atau apapun yang ia tinggalkan sebagai petunjuk sehingga alasan yang mendasari kepergiannya masih abu-abu baginya.


"Nanti coba Ibu bantu mencari istrimu, Zan. Semoga Aisha dalam keadaan baik-baik saja dan segera kita temukan," tutur Ibu Jihan sendu sebab dirinya belum ditakdirkan bertemu dengan istri Faizan yang ia yakini adalah putri kandungnya.


Bu Jihan merasa memiliki ikatan batin dengan istri Faizan. Hal ini terbukti, sesungguhnya hari ini dirinya ingin mengabarkan undangan acara ulang tahunnya di Bali melalui telepon dan email saja pada Faizan sebab ia tidak mau mengganggu kesibukan CEO Atmajaya Corp tersebut.


Namun saat berada di Jakarta untuk mampir sejenak ke butiknya serta datang ke makam suami, mertua dan kedua orang tuanya, mendadak dirinya rindu ingin berjumpa langsung dengan Faizan. Akhirnya setelah dari makam, ia langsung meluncur ke kantor Atmajaya Corp.


Ternyata benar feelingnya, angin membawanya pada Faizan menuju langkah yang lebih dekat dengan sang putri yang ia cari selama ini. Walaupun hasil akhir belum terbukti dengan jelas bahwa Aisha adalah putri kandungnya tetapi perasaan seorang ibu tak dapat dibohongi.


Setelah keduanya berbincang sejenak untuk bersama-sama saling membantu menemukan Aisha, akhirnya Bu Jihan memutuskan pamit pulang. Sebab beberapa hari lagi dirinya akan langsung bertolak ke Bali melihat persiapan acaranya.


Faizan pun paham dan mengantarkan Bu Jihan hingga menuju lobby kantornya. Selepas Bu Jihan pergi, Agung mengabarkan bahwa tikus kecil sudah berada di genggaman mereka.


"Bawa dia ke tempat biasanya," titah Faizan dengan senyum devilnya.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap Agung lalu bergegas pergi melakukan titah Tuannya.


Tempat biasanya yang di maksud adalah sebuah gudang tua kosong yang berada di pinggiran kota Jakarta dan jauh dari pemukiman penduduk. Tempat itu dengan lahan di sekitarnya adalah milik mendiang sang Papa.


Biasa di gunakan oleh Papanya untuk memberi pelajaran jika ada seseorang yang mengganggu hidup keluarganya.


Faizan tahu tempat itu secara diam-diam saat dahulu usianya lima belas tahun, ia tak sengaja melihat sang Papa tampak tergesa-gesa dan seakan tengah diliputi rasa marah yang menggunung sehingga sapaannya pun tak terdengar oleh sang Papa.


Saat itu setelah menerima sebuah telepon, sang Papa langsung bergegas pergi mengendarai mobilnya keluar rumah.


Faizan yang melihatnya cukup aneh tanpa pikir panjang ia masuk ke bagasi mobil sang Papa. Dan ternyata Papanya menuju sebuah gudang tua di mana ada banyak anak buahnya berjaga. Ia pun tidak tahu ada permasalahan apa, namun ia memberanikan diri mengintip dari lubang kecil yang ada dari sisi lainnya.


Akhirnya ia pergi dari tempat tersebut sebab ia tak mau sang Papa memergokinya. Terlebih dirinya pulang sekolah sudah sangat terlambat. Jika semakin lama, ia khawatir ibu tirinya murka mengira dirinya ikut tawuran di sekolah.


🍁🍁🍁


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang dan mendadak Faizan ingin sekali makan rujak bebeg atau rujak bebek (beubeuk). Rujak ini adalah makanan khas kota Cirebon, Jawa Barat. Rujak yang cara pembuatannya dibebek-bebek atau ditumbuk jadi satu di dalam alu.


Walaupun makanan ini berasal dari Cirebon, tetapi di Jakarta sudah lumayan banyak yang menjualnya. Biasanya penjualnya menjajakan rujak bebeg dengan cara dipikul.

__ADS_1



Alhasil Faizan langsung keluar kantor mencari rujak bebeg tersebut. Ia ingin membelinya sendiri dan menyuruh Agung segera menyelesaikan pekerjaan kantor sebelum mereka pergi ke gudang tersebut bermain dengan si tikus kecil.


Setelah kurang lebih satu jam berkutat di jalanan, akhirnya ia menemukan penjual rujak bebeg yang tengah dikerubutin beberapa orang pembeli. Pastinya di dominasi oleh para wanita sebagai pembelinya.


Setelah memarkirkan mobilnya, ia langsung berjalan ke arah penjual bebeg yang tengah sibuk meracik adonan rujak sebelum ditumbuk.


"Pak rujaknya satu yang agak pedas ya," ucap Faizan.


"Siap Den," sahut si Bapak.


Seorang wanita muda yang tengah antre juga membeli rujak bebeg tertegun setelah mendengar suara lelaki yang cukup familiar di telinganya. Sontak ia pun menoleh dan melihat dengan seksama ternyata benar dugaannya.


"Mas Faizan," panggil wanita itu dan yang dipanggil pun langsung dengan cepat menoleh ke tempat suara itu berasal. Keduanya pun langsung saling bertatapan.


Deg...


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2