
Sementara Aisha tengah dirundung pilu, Mama Ida tersenyum sumringah. Sebab ia mendapat hasil laporan dan rencananya hampir berhasil. Sedangkan di Taiwan, Della sudah berhasil bertemu dengan Faizan.
Della sengaja mengatakan pada Faizan bahwa dirinya ke Taiwan karena ada bisnis di negara tersebut. Faizan tak mau terlalu ambil pusing sebab dirinya ingin fokus menyelesaikan urusannya di sini dan segera pulang ke Indonesia.
Dirinya sudah kepalang rindu dengan Aishanya. Namun anehnya malam ini, ponsel Aisha tidak aktif. Hal ini sangat aneh dan ia melihat cctv di rumah utama saat ini hanya tampak ibu tirinya saja tengah menonton televisi di ruang keluarga.
Di kamarnya maupun ruangan lain, ia tak menemukan sang istri. Lalu ia memutuskan menghubungi ibu tirinya itu.
"Halo, Zan. Ada apa?" tanya Mama Ida dengan santai padahal ia tahu pasti Faizan tengah cemas dengan istrinya yang susah dihubungi.
"Mah, Aisha ada? Aku coba hubungi ponselnya enggak aktif. Aku khawatir Aisha sakit atau kenapa-napa," tanya Faizan cemas.
"Mama belum lihat Aisha seharian ini Zan. Dan Aisha gak ada pamit sama Mama juga mau pergi ke mana," tutur Mama Ida.
"Kok tumben ya Mah. Biasanya Aisha enggak begini. Padahal di sana sudah jam sebelas malam. Ke mana ya Mah, istriku?" tanya Faizan lesu.
"Mungkin dia sedang main ke tempat temannya. Tapi seharusnya sebagai istri enggak baik keluyuran sampai larut malam begini apalagi belum ijin sama suami. Padahal ibu mertuanya juga sedang sakit. Kalau enggak ikhlas rawat Mama bilang saja. Mama masih sanggup bayar perawat kok. Gimana sih Zan, kamu mendidik istrimu itu?" sindir Mama Ida dengan ketus.
"Maafin Faizan Mah. Nanti Aisha biar aku coba nasehati dan didik lebih baik lagi," ucap Faizan mengalah.
__ADS_1
Dirinya menghindari berdebat dengan ibu tirinya sebab semuanya masih samar-samar baginya alias abu-abu. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Aisha karena tidak biasanya sang istri seperti ini.
"Jangan sampai kamu diselingkuhi Aisha, Zan. Suami sedang sibuk cari uang tapi istrinya malah berbuat aneh-aneh di luar sana. Mama enggak nuduh Aisha, hanya saja berjaga-jaga. Sebab Mama juga wanita, Zan. Mama paham kondisi Aisha yang ditinggal jauh sama suami. Wanita yang suka ditinggal suami pergi lama kadang butuh belaian juga. Mama pernah muda dan tidak munafik. Mama pernah merasakan rindu mendalam dengan Papamu dahulu sewaktu ditinggal pergi untuk perjalanan bisnis yang cukup lama. Dalam rumah tangga, tidak hanya nafkah lahir saja yang harus dipenuhi suami pada istrinya tetapi kebutuhan biologis juga harus rutin terpenuhi. Aku rasa kamu lebih paham akan hal itu daripada Mama," ucap Mama Ida sengaja semakin membuat bara api berkobar di hati Faizan terhadap istrinya.
Akhirnya Faizan mengakhiri panggilannya. Selain dirinya tengah sibuk mengerjakan hasil meeting hari ini dengan Agung, ia juga tengah letih karena jadwal di Taiwan sangat padat. Hal ini cukup menguras pikiran dan fisiknya. Ditambah sekarang urusan Aishanya yang belum pulang hingga larut malam.
Setelah telepon terputus, Faizan menghela nafas dalam. Hatinya sungguh risau akan perkataan ibu tirinya tadi. Sebagian ada benarnya dan sebagian ia ragukan. Tetapi rasa cintanya untuk Aisha sangatlah dalam.
"Enggak mungkin Aisha tega mengkhianati aku," batin Faizan berkecamuk resah.
Ia berusaha menyangkal pikiran negatifnya tetapi tetap saja perkataan Mama Ida terus berputar-putar pada otaknya. Sebab tak dipungkiri mengenai pemenuhan nafkah suami istri tidak hanya melulu lahir saja tetapi batin juga sangat perlu. Faizan menyetujui pendapat sang ibu tirinya tadi.
Sebab biasanya ia memeluk Aishanya saat tidur. Bahkan terkadang jika sedang ingin, ia selalu meminta asupan nutrisi pada sang istri untuk adik kecilnya agar tidur nyenyak.
Malam pertama di Taiwan, ia berusaha menahan gejolak rindu dan gejolak hasratnya. Lalu bagaimana dengan Aishanya menahan itu semua? Terlebih dalam satu minggu terakhir ini sebelum dirinya bertolak ke Taiwan, ia merasa libido sang istri meningkat tajam.
Aishanya selalu meminta dahulu pada dirinya untuk dibelai dan dimesrai yang berakhir keduanya mandi tengah malam setelah melakukan ritual berbagi keringat. Tapi ia juga meragukan Aishanya akan berselingkuh darinya hanya karena tak mendapat kepuasan batin sebab ditinggal pergi dirinya ke Taiwan.
Akhirnya ia berusaha memejamkan matanya ditengah carut marut pikirannya. Ditambah kedatangan Della yang membuatnya risih.
__ADS_1
Keesokan harinya dokter visit ke kamar Aisha dan ia dinyatakan boleh pulang. Namun tetap disarankan untuk cek rutin. Terlebih jika mengalami keram perut cukup hebat. Harus segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Aisha pun paham dan pulang ke rumah dengan hati yang dirundung cemas dan sedih.
Ceklek...
Derit pintu rumah utama mertuanya terbuka, ia berjalan perlahan dan jam menunjukkan pukul sebelas siang. Ketika tengah melangkah menuju kamarnya dengan Faizan, ia dikejutkan oleh suara sang ibu mertua dari belakang tubuhnya.
"Bagus ya. Suami tengah sibuk bekerja mencari uang, istrinya malah keluyuran gak jelas. Bahkan enggak pulang. Menginap di mana kamu kemarin?" tanya Mama Ida dengan suara yang cukup tinggi.
Aisha pun menoleh dan ia melihat sang ibu mertua tengah menatapnya tajam seolah-olah ingin menguliti dirinya.
"Maaf Mah, kemarin Aisha tidur di rumah teman. Ponsel Aisha hilang jadi enggak sempat kabari Mama. Apa Mama sudah makan?" tanya Aisha lembut.
"Tak usah peduli dengan aku. Kalau kamu enggak ikhlas merawatku tinggal bilang saja sama suamimu. Aku masih sanggup membayar seorang perawat menjagaku. Menantu macam apa kamu! Meninggalkan ibu mertua yang sedang sakit di rumah sendirian. Kalau aku jatuh atau sakitku kambuh bagaimana? Dasar menantu enggak punya akhlak!" pekik Mama Ida.
"Maafin Aisha, Mah. Ke depan hal ini enggak akan terjadi lagi. Aisha janji Mah," ucap Aisha seraya menunduk.
"Apa jangan-jangan dulu saat bersama Handika kamu sering keluyuran enggak jelas begini saat suamimu ke luar kota atau ke luar negeri? Apa kamu selingkuh?" tanya Mama Ida sengaja menyindir Aisha.
Deg...
__ADS_1
🍁🍁🍁