
Aisha belum berani mengatakan yang sesungguhnya pada Faizan. Ia hanya bisa berkata bahwa dirinya sempat kecopetan saat berbelanja sehingga ponselnya hilang. Kemudian ia menginap di rumah Lala dan ketiduran sehingga lupa mengabari orang rumah.
Faizan sedikit curiga akan alasan istrinya. Sebab tidak biasanya Aishanya itu pelupa. Jika tentang kecopetan, Faizan masih memaklumi. Namanya musibah bisa terkena pada siapapun, kapanpun dan dimanapun.
Tetapi mengenai lupa untuk mengabari atau sekedar meminta ijin padanya untuk menginap di rumah Lala, hal ini terasa janggal bagi seorang Faizan yang cukup mengenal kebiasaan istrinya. Kecuali terjadi kondisi gawat darurat yang tidak memungkinkan Aishanya untuk menghubungi keluarga.
Faizan berusaha menepis prasangka buruknya mengenai pembicaraannya bersama Mama Ida yang sempat menuduh Aisha berselingkuh di belakangnya. Ia cukup mengenal siapa saja teman istrinya.
Jadi dengan siapa berselingkuh tentunya masih samar-samar baginya dan rasa cintanya masih berusaha mewaraskan otaknya untuk tidak menuduh sang istri yang bukan-bukan.
Akhirnya malam itu, keduanya hanya saling mengungkapkan kerinduan mendalam terlebih Faizan menyelingi obrolan tersebut dengan canda tawa mengenai hal yang biasa dilakukan suami istri di atas peraduan.
Aisha hanya bisa tersipu malu mendengar ucapan jahil dan encumnya sang suami. Tentu dirinya juga menyukai akan hal tersebut. Terlebih sejak hamil entah mengapa dirinya selalu ingin berada di dekat sang suami.
Bahkan setelah telepon terputus, Aisha baru sadar mengingat malam sebelum Faizan berangkat ke Taiwan dia tanpa malu mengajak sang suami bertempur hingga pagi. Hanya terjeda untuk menarik nafas dan minum sejenak lalu berpacu kembali di atas peraduan bak pacuan banteng liar.
__ADS_1
Dan kini ia tahu jawabannya, sepertinya hormon kehamilannya yang menjadi pemicu utama hal tersebut. Mungkin sang jabang bayi paham akan ditinggal pergi untuk perjalanan bisnis oleh Ayahnya cukup lama sehingga meminta asupan atau semacam uang saku yang banyak sebelum terkena penyakit malarindu tropikangen akibat LDR an yang begitu menyiksa.
Aisha rindu akan momen tersebut. Akankah ia bisa mendapatkan hal yang manis seperti itu lagi dari sang suami yang begitu memuja dirinya? Ia hanya bisa memasrahkan takdir hidupnya pada Sang Pemilik Kehidupan.
Dua hari berlalu,
Aisha yang tengah memasak di dapur, dikejutkan bel rumah mertuanya berbunyi lalu ia pun bergegas membuka pintu. Ternyata kurir pengantar paket. Namun ia cukup aneh melihat sebuah amplop coklat berukuran sedang tanpa nama pengirim tetapi paket itu ditujukan untuk dirinya.
Akhirnya ia menerima paket tersebut dan membawanya ke ruang tamu. Ia duduk dan membuka isinya. Sebab ia didera rasa penasaran. Paket untuknya tetapi dari siapa?
Foto pertama, dirinya yang di potret dari arah belakang. Tampak dirinya tengah berdiri berjalan namun seakan sempoyongan memasuki rumah tersebut dengan posisi memeluk mesra seorang lelaki di sebelahnya.
Foto kedua, dirinya tengah tidur di atas ranjang dengan memeluk mesra seorang lelaki dalam keadaan full naked dan wajah lelaki tersebut disamarkan. Otomatis dirinya tak tahu siapa lelaki itu. Dari postur tubuhnya tentu saja itu bukan suaminya, Faizan.
Foto ketiga, saat dirinya berjalan sendiri keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
Tangannya mendadak tremor melihat ketiga foto tersebut. Air matanya menetes tanpa disuruh. Jantungnya berdegup dengan kencang.
"Siapa yang tega melakukan hal ini padaku? Apa maksud semua ini?" batinnya tengah bergemuruh dan mendadak otaknya kosong.
Saat ia akan membereskan foto tersebut agar jangan sampai ada orang lain yang tahu, namun keburu salah satu foto tersebut disambar oleh seseorang dan menyebabkan foto lainnya terjatuh ke lantai.
Naasnya betapa terkejutnya sang ibu mertuanya ternyata yang mengambil secara paksa foto itu dari tangannya. Terlebih saat ini foto nomor dua yang tengah berada di genggaman ibu mertuanya tersebut. Sungguh Aisha bingung harus berbuat apa.
Mama Ida langsung menatap tajam dirinya begitu melihat dengan seksama semua fotonya bahkan hingga yang tercecer di lantai.
Plakk...
Sebuah tamparan panas melesat di pipi kiri Aisha dari tangan dingin ibu mertuanya tersebut.
"Dasar menantu tak tahu malu! Tega-teganya kamu berselingkuh di belakang Faizan. Pergi kamu dari sini!" usir Mama Ida dengan lantang seraya mengangkat telunjuk tangannya menunjuk arah pintu keluar kediamannya.
__ADS_1
Deg...