Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 43 - Terusir


__ADS_3

"Tidak Mah. Aisha enggak berselingkuh dari Mas Faizan. Ini hanya musibah Mah. Aisha gak tahu kenapa bisa sampai seperti ini, Mah. Aisha dirampok saat itu lalu pingsan. Selanjutnya Aisha enggak tahu apa yang terjadi," tutur Aisha berusaha menjelaskan dengan terisak pilu.


"Aisha mohon Mama percaya dan jangan usir Aisha pergi dari sini," ucap Aisha menangis tersedu-sedu dan memohon seraya berlutut di depan ibu mertuanya yang tengah berkacak pinggang di depannya.


"Kamu pikir aku orang tua bodoh yang bisa dibodohi menantu macam kamu! Ingat, kamu itu hanya gadis kampung yang kerja di ibukota. Sayangnya bukan kesuksesan mandiri yang kamu dapatkan tapi dengan kecantikan palsumu itu cuma bisa menggaet lelaki tampan dan kaya raya agar jatuh ke pesona lugumu seperti Handika dan Faizan!" sarkas Mama Ida dengan pongahnya.


"Cepat angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Jangan bawa apapun dari sini! Kamu masuk ke keluarga Atmajaya juga tidak membawa apapun kecuali badan saja!" hardik Mama Ida.


"Tapi Mah. Mama hanya salah paham. Dan ini semua enggak bener Mah," ucap Aisha berusaha membela dirinya di hadapan ibu mertuanya yang kejam.


Akhirnya seberapapun Aisha berusaha membela dirinya, tetap Mama Ida bersikeras mengusir Aisha pergi dari rumah utama keluarga Atmajaya. Sebelumnya, Mama Ida telah menyabotase kembali cctv di rumahnya agar Faizan tak melihat kejadian asli saat dirinya mengusir dan menyeret Aisha pergi dari rumahnya.


Bahkan dengan teganya Mama Ida mengusir Aisha keluar tanpa membawa satu barang pun baik baju maupun ponsel atau secuil uang. Hanya baju dan sandal yang melekat di tubuhnya saja yang Aisha bawa.


Bahkan foto-foto tersebut sengaja diambil secara kasar oleh Mama Ida dari tangan Aisha. Dan sebelum menantunya itu pergi dari rumahnya, Mama Ida sempat mengatakan satu kalimat yang membuat Aisha tengah dilema seakan berada di persimpangan jalan.

__ADS_1


"Jangan pernah berani muncul di keluarga Atmajaya terlebih di depan suamimu, Faizan. Jika kamu tidak mau orang yang mengirim foto ini ke sini melakukan ancamannya yang ia tulis di balik foto ini. Bahwa dia akan meyebarluaskan foto perselingkuhanmu agar nama Faizan dan Atmajaya Corp akan hancur tak bersisa karena skandalmu. Jika kamu memang betul mencintai suamimu maka pergi jauh dari hidupnya," ucap Mama Ida.


Aisha tengah berjalan gontai tak tentu arah. Kini ia duduk di sebuah emperan toko yang sedang tutup dekat stasiun Juanda. Dirinya bingung mau pergi ke mana.


Sebab tak ada sepeserpun uang di tangannya. Akhirnya tak jauh dari tempat duduknya, ia melihat sebuah toko emas.


Dengan terpaksa ia berjalan menuju toko emas tersebut guna menjual kalung pemberian sang suami. Ia tidak akan menjual cincin kawinnya terlebih gelang pemberian mendiang ibunya.


Kalung emas tersebut pemberian suaminya saat menikah walaupun benda tersebut bukan mahar pernikahannya. Sesungguhnya berat ingin menjualnya tetapi keadaan yang memaksanya.


Mau tak mau ia terima dengan harga tersebut dari pihak toko walaupun harga asli kalung itu bisa mencapai empat puluh juta rupiah. Akhirnya ia hanya bisa pasrah. Lagipula toko emas yang ia datangi terbilang kecil sehingga tak memiliki dana tunai yang banyak.


Dirinya terusir pergi tanpa boleh masuk ke kamarnya untuk mengambil barang pribadinya satupun. Sungguh ia begitu nelangsa menghadapi kejamnya ibu mertuanya. Padahal kini ia tengah mengandung cucunya.


Walaupun kehamilannya masih ia rahasiakan. Semalam juga saat bertelepon dengan sang suami, keduanya hanya meluapkan rindu dan cintanya. Aisha belum berani mengatakan perihal kehamilannya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


Ia ingin menyampaikan langsung pada sang suami saat pulang dari Taiwan dengan berencana memberi sebuah perayaan kecil-kecilan semacam kejutan untuk Faizan. Namun takdir berkata lain semua hanya tinggal rencana angan-angan yang mungkin tak akan pernah terwujud.


Selepas berhasil menjual kalungnya, Aisha sudah mantap memutuskan pergi jauh demi menjaga buah hatinya. Ia tidak mau kejadian perampokan beserta pemerkosaan yang beberapa waktu lalu menimpanya secara misterius terulang kembali.


Sungguh kejadian itu meninggalkan trauma mendalam baginya. Terlebih setelah kejadian tersebut, membuat dirinya sekarang terusir dari rumah ibu mertuanya. Ingin kembali ke apartemen suaminya tetapi niat itu ia urungkan.


Pesan ibu mertuanya kembali terngiang di benaknya. Ia tidak ingin egois. Dia tak mau karena kebahagiaannya menyebabkan orang lain susah. Bila perusahaan sang suami bangkrut maka banyak karyawan yang menjadi korban dan pengangguran.


Pulang ke kampung halamannya juga tidak mungkin. Sebab suaminya tahu rumah tersebut satu-satunya tempat singgahnya. Jika ke rumah Lala, sahabatnya, juga rasanya tidak karena ia tak biasa menyusahkan orang lain dengan permasalahannya.


Akhirnya setelah berjibaku dengan kebimbangan hatinya, ia mantap pergi ke suatu tempat yang cukup jauh guna menata hidupnya bersama si jabang bayi. Dirinya naik taksi menuju terminal bus antar kota antar propinsi yang akan membawanya pergi sejauh mungkin dari Jakarta yang penuh luka untuknya.


"Maafkan aku Mas. Akan kujaga bayi kita dengan baik. Jika kelak kita berjodoh maka pasti Tuhan punya cara yang baik untuk mempertemukan kita kembali bersama di tempat yang baik pula," batin Aisha menatap langit Jakarta untuk terakhir kalinya.


"Selamanya aku mencintaimu, Mas."

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2