
Faizan seolah dihantam batu besar tak kasat mata pada hatinya, ia langsung terlonjak kaget mendengar sang istri pergi dari rumah. Faizan langsung berdiri melesat pergi melangkah menuju kamarnya.
Brakk...
Pintu kamar di dorong dan dibuka dengan keras oleh Faizan.
"Aisha... sayang," panggil Faizan.
Hatinya bergemuruh sesak mendengar sang belahan jiwanya pergi dari rumah. Ia berusaha menyangkal dengan membuktikan langsung melihat di kamarnya. Berharap sang istri hanya bersembunyi atau sedang memberinya sebuah prank untuk kejutan kedatangannya.
"Aisha... kumohon, kembalilah sayang. Ada apa denganmu?" ucap Faizan sendu seraya merosot di lantai kamarnya.
Dirinya sudah mengecek ke semua penjuru kamar dan rumah namun sang istri tak ia temukan. Bahkan koper dan beberapa baju milik istrinya memang tak ada di lemari mereka.
Faizan berusaha menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan. Menyugar rambutnya sendiri dengan rasa frustasi yang menjalar di titik nadinya sebab ponsel Aisha masih tak dapat dihubungi olehnya.
Mama Ida tersenyum menyeringai melihat keterpurukan anak tirinya melalui celah pintu kamar Faizan yang tidak tertutup rapat.
"Akhirnya berhasil juga aku singkirkan menantu sialan itu tanpa Faizan curiga padaku. Semoga selamanya Aisha tak perlu kembali ke rumah ini lagi. Sepertinya perceraian Faizan dan Aisha perlu segera diurus. Supaya Della segera menjadi menantuku menggantikan posisi Aisha" batin Mama Ida dengan segudang rencana busuknya.
Dalam pekatnya malam kota Jakarta, seorang lelaki tengah tertunduk lesu setelah mengelilingi ibukota tersebut ke banyak tempat namun ia tak menemukan sang istri. Bahkan ia mengerahkan Agung dan beberapa anak buahnya untuk mencari Aisha.
__ADS_1
Agung yang seharusnya diberi cuti istirahat selama dua hari akhirnya belum juga memejamkan mata untuk tidur harus dikagetkan dengan kabar Nyonya mudanya pergi dari rumah dan sang Tuan kebingungan mencarinya.
Alhasil sebagai orang yang setia dan sudah lama mengabdi pada keluarga Atmajaya, dirinya tak bisa berpangku tangan membiarkan sang Tuan yang tengah tertimpa musibah.
"Kamu pergi ke mana sayang? Apa kamu marah sama aku karena jarang telepon? Aisha aku rindu kamu. Terlebih saat ini rasanya perutku ingin sekali makan pepes ikan patin buatanmu dengan taburan belimbing wuluh yang banyak di atasnya. Makan berdua dari suapan tanganmu pasti lebih enak," cicit Faizan sendu di tengah keramaian kota Jakarta.
Di saat Faizan tengah frustasi mencari Aisha dan seakan mengidam pepes ikan patin buatan istrinya, justru Aisha di Bali sedang makan dengan lahap di rumah kontrakannya dengan menu yang diinginkan suaminya di Jakarta.
Seakan dua hati satu cinta terpisah jarak yang cukup jauh namun sesungguhnya seakan saling terkoneksi karena cinta tulus keduanya.
"Apa kamu sudah makan Mas di sana? Ini makanan favoritmu sedang aku makan. Pepes ikan patin dengan banyak belimbing wuluh dengan nasi hangat, aku sudah habis dua piring. Anak kita sepertinya ingin makan ini jadi aku masak cukup banyak tadi. Namun makan sendiri tanpamu sangatlah hampa, Mas. Semoga kamu baik-baik saja dan sehat terus. I love you cintaku," cicit Aisha sendu saat melihat sisa pepes ikan patin yang masih ada beberapa bungkus di meja makan kecil rumahnya.
Hari ini kebetulan Aisha tengah libur kerja dan sejak pagi tadi ia sibuk berbelanja di pasar guna memasak pepes ikan patin, makanan kesukaan sang suami. Entah ini bisa ia sebut mengidam atau bukan. Seakan jabang bayinya menginginkan makan pepes tersebut hari ini.
Faizan sudah pergi ke apartemennya bahkan ke kosan lama tempat Aisha dahulu tinggal sebelum menikah dengan Handika. Semuanya sudah ia datangi namun hasilnya nihil. Aisha tak ada di sana.
Faizan pun sudah menghubungi pak RT tempat Aisha tinggal di Sleman, rumah mendiang kedua orang tuanya, juga sama mengatakan bahwa istrinya itu tidak berada di sana. Dikarenakan fisiknya yang cukup letih akhirnya ia menginap di apartemennya.
Tiga hari berlalu,
Pencarian Aisha tetap belum menemukan petunjuk yang berarti. Faizan berusaha bersikap profesional dengan tetap masuk ke kantor. Dikarenakan sudah beberapa hari dirinya cuti guna mencari sang istri. Selama Aishanya belum ditemukan, ia memutuskan untuk tinggal di apartemennya.
__ADS_1
Bik Imah yang baru saja kembali dari kampung halaman, sangat terkejut mendengar bahwa istri majikannya itu pergi dari rumah. Ia melihat sang Tuan begitu lesu dan tak bersemangat. Bik Imah sangat paham sebab ia tahu bahwa cinta majikannya itu begitu mendalam pada istrinya.
Ia hanya bisa berdoa pada Tuhan agar Nyonya mudanya segera disatukan kembali bersama Tuannya. Sehingga keluarga kecil majikannya itu kembali harmonis seperti sedia kala.
Pagi ini Faizan berjalan tegap memasuki gedung Atmajaya Corp pusat, walaupun hatinya masih resah terbalut rindu pada istrinya tetapi ia tetap masuk kerja tepat waktu. Banyak pasang mata berdecak kagum padanya terutama para karyawati di Atmajaya Corp yang begitu memuja CEO mereka.
Bahkan ada yang mengelu-elukan dan rela dijadikan istri kedua atau ketiganya sekalipun. Para wanita sering bergosip ria baik di kantin atau di meja kerja kala senggang. Ada yang terpesona dengan Faizan namun ada sebagian kecil juga yang terpesona dengan Agung, sang asisten CEO, yang dingin seperti kulkas delapan pintu.
Akan tetapi semua hal itu tidak membuat hati Faizan goyah sebab cintanya sejak dahulu hanya untuk Aisha seorang.
Ceklek...
Derit pintu ruangan CEO terbuka dengan lebar dan Faizan masuk serta berjalan menuju kursi kerjanya. Sedangkan Agung sudah berada di ruangannya guna mengerjakan beberapa hal penting sebab sebentar lagi ada meeting bulanan.
Saat Faizan akan duduk, ia melihat beberapa tumpukan amplop di atas meja kerjanya. Dalam posisi yang masih berdiri, ia memilah satu persatu guna melihat pengirim atau judul surat pada amplop masing-masing. Yang ia rasa tidak begitu penting ia singkirkan dahulu untuk dibaca nanti belakangan.
Saat memilah tumpukan amplop tersebut tiba-tiba tangannya berhenti bergerak saat ada sebuah amplop coklat ukuran sedang yang menarik perhatiannya.
Hal ini dikarenakan amplop tersebut tanpa nama pengirim namun hanya ada tertera nama penerima yaitu namanya. Ia pun mengambil amplop tersebut dan merabanya dahulu. Sebab amplop tersebut masih tersegel dengan baik.
"Amplop apa ini? Dari siapa? Kenapa enggak ada nama pengirimnya?" batin Faizan bertanya-tanya seraya membolak-balikkan amplop tersebut.
__ADS_1
🍁🍁🍁