
"Aisha tidak mungkin melakukan hal seburuk itu Mah. Baik saat dahulu menjadi istri Mas Handika maupun sekarang sebagai istri Mas Faizan. Aisha cinta sama Mas Faizan, Mah. Aku mohon Mama percaya sama Aisha," ucap Aisha dengan mata yang berkaca-kaca mendengar tuduhan menyakitkan yang dilayangkan ibu mertuanya.
"Tidak perlu banyak membela diri. Yang penting cukup kamu buktikan saja," sarkas Mama Ida seraya pergi meninggalkan Aisha dan menutup pintu kamarnya dengan cukup keras hingga Aisha berjengit kaget.
"Ya Tuhan luaskan sabarku" batin Aisha sendu.
Selepas Aisha memasuki kamarnya, ia segera menghubungi Lala menggunakan telepon rumah mertuanya guna meminta bantuan pada sahabatnya itu untuk membelikan dirinya sebuah ponsel dan kartu sebab ponsel lamanya hilang.
Lala yang mendengar suara Aisha sarat akan kesedihan tanpa banyak bertanya dia melakukan apa yang diminta sahabatnya itu. Tak lama setelah berhasil membeli pesanan Aisha, ia segera meluncur ke kediaman utama Atmajaya.
Kini Lala sudah berada di dalam kamar Aisha, ia memberikan ponsel tersebut dan Aisha pun menceritakan kisah tragis yang dialaminya kemarin. Aisha menangis tergugu bingung seperti apa yang harus ia lakukan ke depan terlebih pada suaminya.
__ADS_1
Ia merasa malu sebab dirinya telah kotor dijamah lelaki lain. Terlebih dalam kondisi hamil darah daging Faizan. Lala berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Katakan yang sebenarnya sama suamimu, Sha. Jangan sampai dia mendengar hal ini dari mulut orang lain. Kamu tahu sendiri terkadang berita di luar sana suka ditambah bumbu penyedap sehingga sering menutupi fakta yang sebenarnya. Berita hanya satu centi bisa melebar dua puluh centi jika keluar dari mulut orang lain," tutur Lala dengan bijak.
"Aku tidak punya bukti apapun, La. Bagaimana caranya membuat Mas Faizan percaya sama aku?" tanya Aisha sendu.
"Jika Faizan cinta sama kamu. Pasti dia akan lebih percaya dengan apa yang kamu sampaikan daripada orang lain. Namun, jika cinta Faizan hanya setengah maka hatinya akan mengambang di tengah lautan. Akan tetapi saat dirinya menepi ke daratan untuk mencarimu yang sudah pergi darinya, hanya akan ada penyesalan dalam yang hinggap pada dirinya. Aku sangat yakin itu. Cukup kamu jalani dengan ikhlas takdir Tuhan untukmu. Sebab Tuhan tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Selalu ingat tentang hakikat jodoh. Sejauh apapun kita pergi atau menghindar, jika memang orang itu berjodoh dengan kita maka tetap akan bersatu bagaimanapun caranya dipisahkan oleh satu tangan manusia. Karena Tuhan memiliki seribu tangan untuk menyatukannya kembali. Tetapi jika memang tak berjodoh walau sedekat urat nadi sekalipun maka akan pergi menjauh juga. Bahkan lenyap dan menghilang tanpa jejak," tutur Lala panjang lebar dengan serius.
Malam hari, Aisha memutuskan menghubungi Faizan. Selain rindu yang tengah membuncah, dirinya tak ingin sang suami khawatir mendalam akan kondisinya yang kemarin tanpa kabar.
Faizan melihat nomor asing menghubungi ponsel pribadinya. Awalnya ia abaikan namun nomor tersebut tetap menghubungi dirinya kembali hingga tiga kali. Akhirnya mau tak mau Faizan angkat juga sebab didera penasaran siapa yang tengah menghubunginya.
__ADS_1
Dikarenakan hanya orang terdekatnya saja yang tahu nomor pribadinya ini. Bahkan Della ataupun Mitha tidak tahu nomor pribadinya tersebut.
"Halo, siapa ini?" tanya Faizan datar.
"Mas Faizan, ini aku Aisha. Maaf aku berganti nomor. Sebab ponselku hilang Mas," jawab Aisha lirih dengan nada sedikit bergetar.
"Aisha sayang, ya ampun. Kamu membuatku khawatir seharian kemarin tak ada kabar. Ponselmu kenapa sampai hilang sayang? Dan kemarin kamu pergi ke mana? Tumben enggak ijin dulu sama Mas," tanya Faizan secara beruntun.
Deg...
🍁🍁🍁
__ADS_1