Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 51 - Tikus Kecil


__ADS_3

"Siapa kamu? Beraninya mulut busukmu itu menyebut nama istriku, hah!" pekik Faizan.


"Haahaa... istrimu memang sungguh cantik dan menggairahkan. Terserah aku berbicara apapun karena memang itu faktanya. Jika aku tak mencicipinya mana mungkin aku bisa berkata demikian. Berpikirlah dengan logika, Bung!" sarkas lelaki di seberang sana.


"Brengsek! Dasar banci! Beraninya dengan wanita. Jika kamu lelaki, hadapi aku sekarang juga!" hardik Faizan dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.


"Sabar Tuan Faizan yang terhormat. Semua bisa dibicarakan baik-baik. Jika kamu tidak ingin foto-foto itu tersebar keluar yang bisa mencoreng nama besar keluarga Atmajaya sekaligus bisnismu, maka tutup mulutku dengan sejumlah uang yang aku minta. Aku pastikan hidupmu akan tenang dan bahagia," ucap lelaki itu.


"Siapa namamu? Kamu sangat tahu namaku tapi aku tak mengenalmu, bedebah!" pekik Faizan dengan suara yang memekikkan telinga.


Beruntung ruangannya terdapat peredam suara sehingga perbincangan yang tengah berlangsung sengit itu tidak diketahui oleh siapapun.


"Sediakan uang dua puluh milyar yang nanti akan aku jelaskan harus kamu bawa ke mana. Jangan pernah libatkan polisi jika tidak mau nama baik istrimu dan keluargamu tercoreng, camkan itu!" hardik lelaki itu mengancam Faizan.


"Kamu sangat tahu kan kalau aku seorang pebisnis. Maka tidak ada satu sen pun uangku yang keluar untukmu jika aku tak melihatnya secara langsung atau mendapatkan bukti nyata," ucap Faizan dengan tegas.


Tring...


Tiba-tiba sebuah notif menandakan ada pesan masuk pada ponsel Faizan yang tengah ia gunakan untuk menerima telepon dari lelaki misterius tersebut.

__ADS_1


"Itu adalah salah satu file video yang aku miliki dari ratusan file lainnya. Nanti aku hubungi kembali untuk transaksi kita yang saling menguntungkan. Dan aku yakin kamu akan melakukannya sesuai perintahku," ucap lelaki itu dan telepon pun akhirnya terputus.


"Brengsek! Sialan!" umpat Faizan seraya menggebrak meja kerjanya hingga beberapa berkas berserakan di lantai setelah teleponnya terputus.


Faizan pun segera membuka file yang dikirimkan oleh lelaki tadi di ponselnya. Sungguh hatinya tak terima melihat isi video tersebut. Namun satu fakta baru yang bisa ia simpulkan sementara ini setelah melihat file itu.


"Dasar bodoh! Digertak sedikit saja kamu sudah teledor. Dasar bajingan sampah!" pekik Faizan dengan senyum menyeringai.


Ya, Faizan memang sengaja mengulur waktu pembicaraan dengan lelaki yang mengancamnya tadi yang ia yakini sebagai pengirim foto-foto istrinya tersebut ke kantornya. Dengan gertakan sambal dari Faizan justru lelaki itu masuk dalam perangkap. Bahkan memberikan sebuah video baru bukan foto seperti sebelumnya.


Hal ini justru membuat Faizan membuka matanya lebar-lebar. Bahwa asumsi yang sempat hinggap di benaknya saat pertama kali melihat tiga lembar foto sang istri bersama lelaki lain dan menduga Aisha berselingkuh, memang tidak benar adanya.


Artinya, Aishanya tidak berselingkuh. Sehingga saat ini Faizan menduga Aisha mengalami penculikan dalam kondisi tak sadarkan diri. Lalu istrinya itu mendapat tindakan asusila atau semacam pemerkosaan dari lelaki brengsek tersebut.


Dan sambil mengulur waktu pembicaraan yang sengit tadi, Faizan pun tidak tinggal diam. Ia sudah dengan sigap mengontak Agung dengan pesan darurat berbasis sandi atau kode rahasia pada sekretarisnya yang handal tersebut untuk melacak lokasi orang yang tengah tersambung pembicaraan dengannya.


Ceklek...


Pintu ruangan CEO langsung terbuka lebar dan Agung segera melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


"Maaf Tuan saya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," ucap Agung dengan sopan dan hormat.


"Tidak apa-apa. Bagaimana yang aku minta tadi? Apa kita berhasil melacaknya?" tanya Faizan dengan nada sedikit cemas. Ia khawatir yang tadi ia rencanakan gagal.


"Berhasil Tuan. Kita sudah mengantongi lokasinya. Dan anak buah kita sudah meluncur ke TKP. Semoga tikus kecil itu segera kita tangkap," ucap Agung dengan tegas dan dingin seperti biasanya.


"Makasih banyak, Gung. Kamu memang bisa aku andalkan," ucap Faizan.


"Sama-sama Tuan. Saya yakin dia bajingan kecil yang berusaha mengusik kehidupan Tuan dan Nyonya Aisha hanya demi uang," tutur Agung.


"Dasar tikus kecil! Berani-beraninya dia bermain denganku. Memintaku tak menghubungi polisi. Memang aku tak akan melibatkan polisi di awal karena dia harus merasakan dahulu dinginnya tanganku. Sudah lama aku tak mengadu kekuatan tinju dan karateku. Sepertinya kelinci percobaanku sudah ada di depan mata. Jangan salahkan aku jika dia harus mencicipi hidangan pembuka yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidup sebelum masuk penjara," ucap Faizan dengan senyum devilnya.


Agung yang melihatnya hanya bersikap biasa saja. Sebab ia sudah cukup lama mengenal Faizan. Bahkan dahulu saat Faizan masih duduk di bangku kuliah, sikapnya begitu dingin dan hanya ramah pada orang-orang tertentu saja.


Lelaki ini sangat jago bela diri dengan menjuarai beberapa turnamen. Bahkan ia pernah mengetahui informasi bahwa Faizan berkelahi dengan lima orang perampok saat menolong Benny, sahabatnya, sepulang kuliah. Yang berujung lima perampok tersebut lari tunggang langgang tanpa hasil buruan sebelum akhirnya dibekuk polisi.


Selepas Agung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya, Faizan sedikit termenung di meja kerjanya.


"Bagaimana tikus kecil itu tahu secara lengkap tentang keluarga Atmajaya? Jika dia hanya pemeras biasa yang tidak mengenal keluarga Atmajaya, pasti tidak akan seperti ini tingkahnya. Sangat janggal," batin Faizan curiga.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2