Kesabaran Hati Menantu

Kesabaran Hati Menantu
Bab 61 - Tabir Terbuka part 3


__ADS_3

Saat di perjalanan, Faizan sudah menghubungi orang yang akan ia temui. Khawatir orang tersebut sedang keluar kantor atau sudah pulang.


Dan beruntung orang tersebut masih berada di kantornya tengah membereskan beberapa berkas perkara yang ditangani. Tak lama akhirnya mobil Faizan tiba di sebuah firma hukum yang cukup terkenal di Jakarta.


Hari sudah sore dan senja pun mulai tampak. Firma hukum tersebut masih terbilang cukup ramai walau beberapa orang karyawannya telah pulang.


Kedatangan Faizan telah ditunggu. Sehingga saat dirinya memasuki firma hukum tersebut, sang resepionis langsung menyarankan masuk ke ruang pimpinan yang ada di lantai lima.


Faizan sudah sangat hafal seluk beluk di dalam kantor hukum ini. Sehingga tidak sulit baginya mengetahui letak ruang pimpinannya. Setibanya di lantai lima, sekretaris wanita yang duduk di depan ruang pimpinan langsung menyuruhnya masuk.


Ceklek...


Derit pintu terbuka menampilkan sosok lelaki paruh baya yang usianya hampir sebaya dengan mendiang Papanya tengah duduk tenang di singgasananya. Namun lelaki ini masih tampak gagah saat usianya yang seharusnya sudah memasuki masa pensiun menjadi pengacara tetapi masih giat bekerja.


"Silahkan masuk Zan, ada apa gerangan CEO Atmajaya Corp sore begini datang ke kantorku. Pasti ada hal yang sangat penting sampai-sampai kamu repot datang ke sini. Biasanya aku yang ke kantormu," tutur Pak Gilang.


Ya, Faizan tengah bertandang ke firma hukum milik Pak Gilang yang menjadi pengacara keluarga Atmajaya. Dirinya hanya ingin memastikan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dan ia yakin pria paruh baya yang dihadapannya sekarang ini pasti tahu sesuatu.


"Maaf Pak Gilang jika kedatangan saya mengganggu pekerjaan Anda. Memang ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada Bapak," tutur Faizan dengan sopan.


Pak Gilang merasa cukup aneh dengan kedatangan Faizan kali ini. Namun ia berusaha bersikap profesional dan menyuruh Faizan duduk di kursi yang ada di hadapannya langsung.

__ADS_1


"Jangan terlalu formal begitu pada pria tua yang sudah bau tanah ini. Ada apa Zan? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Pak Gilang seraya terkekeh namun tampak serius.


"Apa Om tahu jika Bang Handika bukan anak kandung Papa?" tanya Faizan dengan mode serius.


Deg...


"Apa maksudmu?" tanya Pak Gilang seraya menatap cukup tajam ke Faizan.


Lalu Faizan pun menceritakan semua yang disampaikan oleh Jordan padanya tadi. Dan sebuah helaan nafas panjang mengalir deras dari gestur tubuh Pak Gilang selaku pengacara keluarga Atmajaya yang sudah seperti sahabat mendiang Papanya.


Mau tak mau akhirnya Pak Gilang menceritakan pada Faizan bahwa memang Budi Atmajaya mengetahui bahwa Handika bukan darah dagingnya melainkan anak kandung antara Mama Ida dengan lelaki bernama Ringgo.


Pak Gilang pun membuka brankas pribadinya lalu menyodorkan sebuah map rumah sakit yang menyatakan hasil tes DNA antara Budi Atmajaya dengan Handika yang hasilnya tidak cocok. Semakin menguatkan fakta yang ada bahwa memang Handika bukan darah daging Budi Atmajaya.


Handika mengetahui fakta itu satu bulan sebelum kematiannya. Dirinya tiba-tiba rindu dengan sang Papa dan akhirnya masuk ke ruang kerja bekas mendiang Papanya. Tanpa sengaja Handika menemukan map rumah sakit hasil tes DNA tadi yang di simpan Budi Atmajaya selama ini.


Akhirnya Handika mengkonfirmasi hal ini pada Pak Gilang selaku pengacara keluarga sekaligus sahabat mendiang Papanya. Mau tak mau fakta yang tersembunyi rapat itu akhirnya mencuat juga. Dan Handika begitu syok, sedih dan kecewa.


Dia kecewa pada ibu kandungnya yang dengan tega membohongi Papanya yang telah baik hati. Dirinya juga sedih karena tak bisa melihat atau mengenal ayah kandungnya sendiri. Bahkan kasih sayang dari ayah kandungnya pun tidak.


Sejak saat itu, Handika merasa tak pantas mendapatkan kemewahan ini semua yang seharusnya pemilik satu-satunya adalah adik tirinya yakni Faizan. Sebagai kakak, ia telah bersalah karena merasa merampas hak milik Faizan dan juga kasih sayang Papanya yang terbagi.

__ADS_1


Akhirnya Handika membuat surat wasiat satu bulan sebelum dirinya meninggal dunia akibat kecelakaan. Seakan alam memberinya firasat bahwa hidupnya tak akan lama lagi dan ia tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.


Mengembalikan semuanya kepada pewaris tunggal keluarga Atmajaya yang sesungguhnya yaitu adiknya.


Faizan yang mendengar untaian cerita dan fakta dari Pak Gilang, hanya bisa tertegun dan menangis pilu. Entah mengapa kini dirinya begitu rindu pada mendiang Papa, Mama dan almarhum kakaknya.


"Semua sudah suratan takdir dari Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa ikhlas menerima dan tetap semangat melanjutkan hidup. Semoga kamu tidak marah pada mendiang Papa dan juga kakakmu yang menutupi hal ini. Pasti keduanya memiliki alasan yang kuat. Kamu harus percaya itu."


"Semoga pernikahanmu dengan Aisha langgeng dan bahagia selalu hingga akhir hayat kalian," ucap Pak Gilang tulus mendoakan seraya menepuk pundak Faizan yang tengah bergetar.


"Amin... terima kasih banyak Om," balas Faizan dengan senyum.


Di tempat lain, tengah terjadi kegaduhan tak terduga di depan rumah utama keluarga Atmajaya. Suara gedoran pintu yang nyaring dan teriakan keras dari luar seakan memekikkan telinga bagi yang mendengarnya. Membuat seorang wanita paruh baya yang berada di dalam rumah kelimpungan dan ketakutan.


"Hei, Jeng Ida keluar! Kembalikan uang kami. Dasar penipu!" teriak seorang wanita yang sebaya dengan Mama Ida.


"Cepat keluar, sialan! Sebelum kami lapor ke polisi. Dasar tukang tipu, brengsek!" pekik seorang wanita muda.


Deg...


🍁🍁🍁

__ADS_1


"Kunci hidup adalah sabar dan ikhlas. Terkadang apa yang terjadi pada hidup kita tidak selalu berjalan mulus sesuai rencana manusia. Namun yakinlah semua itu terjadi sesuai rencana terbaik dari Tuhan untuk kita."


__ADS_2