Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Perhatian Sesaat


__ADS_3

Setelah makan malam usai,Ardian dan Melisa mengajak bu Amara duduk di ruang keluarga. Di sana juga ada Olivia dan Andika,sedangkan Arya tidak ikutan,setelah makan malam tadi dia langsung kembali ke kamarnya.


"Ma,aku dan Melisa sudah membeli rumah,dan kami ingin tinggal di rumah kami sendiri,bolehkan?" pinta Ardian,dia terlihat hati-hati sekali saat bicara,takut membuat mamanya tersinggung seperti beberapa waktu lalu.


"Kan sudah mama bilang,kalian harus tetap di sini,tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini!" tegas bu Amara.


"Tapi ma..."


"Nggak ada tapi-tapian,kalian berdua harus nurut dengan apa yang mama putuskan," potong bu Amara,tidak memberi kesempatan bagi Ardian untuk menyelesaikan ucapannya.


"Ma,please... Ardian mohon,Ardian juga ingin hidup mandiri,lalu untuk apa Ardian menikah kalau pada akhirnya juga masih harus tinggal di rumah mama? Lagian disini kan juga ada Olivia,Arya juga di sini." Ardian terus berusaha membujuk mamanya.


"Mas Ardi benar ma,kami kan harus belajar hidup mandiri,kalau terus seperti ini yang ada nantinya kami malah akan terus bergantung pada mama," ujar Melisa menimpali.


"Kalian baru bisa keluar dari rumah ini,kalau kalian bisa memberikan mama cucu secepatnya." Tutur bu Amara.


Andika sendiri sangat terkejut mendengarnya,dia tidak menyangka kalau ibu mertuanya akan kembali mengungkit masalah itu.


"Kita juga sedang berusaha,ma," jawab Ardian.


Olivia yang sejak tadi diam langsung angkat bicara.


"Aku rasa Melisa memang tidak ingin punya anak dari mas Ardian." Ucap Olivia,matanya yang tajam melihat ke arah Melisa dengan tatapan sinis.


"Olivia,kamu kenapa menuduh aku seperti itu? Aku tidak seperti yang kamu pikirkan,mana ada orang menikah yang tidak ingin punya anak?" ucap Melisa sedih,dia tidak terima dengan ucapan pedas adik iparnya.

__ADS_1


"Oliv,kamu ini kenapa selalu mencari gara-gara sama istri aku? Aku tahu,dari dulu kamu memang tidak pernah menyukai Melisa. Tapi,setidaknya kamu bisa sedikit menghargai dia sebagai kakak ipar kamu!" ucap Ardi setengah membentak.


"Maafkan Olivia atas ucapannya tadi mas," kini Andika mulai merasa tidak nyaman berlama-lama di ruang keluarga itu,dia sudah dapat merasakan kalau sebentar lagi perang antar saudara akan dimulai.


"Ya,ucapan dia memang sudah keterlaluan,dia sangat lancang dan aku harap kamu bisa mengajarinya bagaimana bersikap baik terhadap orang lain." Ucap Ardian masih emosi.


"Mas sudah lah,aku nggak kenapa-napa kok." Melisa mencoba menenangkan suaminya. Dan Olivia tersenyum miring sambil terus menatap Melisa dengan tajam.


"Dia benar-benar licik dan sok baik,sudah jelas-jelas dia menikahi Kak Ardi karena ada maunya,mungkin semua orang disini bisa dia bohongi tapi tidak dengan aku,dasar wanita racun!" cibir Olivia dalam hati.


"Kalian selalu seperti ini,bisa nggak sih kalian menghargai mama?" bu Amara juga marah,anak-anaknya sudah lama tidak akur,antara Olivia dan Ardian selalu terjadi cekcok mulut. Selama Ardian menikahi Melisa,hubungan dia dan adik pertamanya jadi renggang,Olivia memang tidak pernah sekalipun suka dengan Melisa,bukan karena Melisa tidak sekaya mereka,tapi karena Olivia mengetahui sesuatu tentang keburukan Melisa.


Mereka semua terdiam,tidak berani lagi bersuara,takut mamanya akan lebih marah lagi,dan yang lebih mereka takutkan adalah kalau sang mama akan mencabut semua fasilitas mereka,seperti yang pernah dilakukannya beberapa tahun lalu.


"Baguslah kalau kalian setuju dengan keputusan mama." Bu Amara baru bisa bernafas lega.


"Tapi mama harus bisa menjamin kenyamanan Melisa di rumah ini,mama harus lebih tegas dengan Olivia,aku tidak ingin mendengar lagi ucapan menghina Oliv terhadap istriku," mendengar keinginan kakaknya,Olivia cukup kaget,sebegitu sayangnya dia dengan Melisa,dan hal ini membuat Olivia semakin tidak suka dengan perempuan itu,dengan hati dipenuhi amarah dia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi,namun sebelum itu dia kembali menyindir Melisa.


"Selamat,kamu sudah berhasil mencuci otak kak Ardian," ucapnya sinis dan langsung pergi,Andika mengikutinya dari belakang.


"Lihat! Mama lihat sendirikan,tapi mama masih tetap ingin kami tinggal di rumah ini,yang ada hubungan aku dan Olivia tambah tidak baik," keluh Ardian sengaja menjadikan kebencian Olivia kepada istrinya sebagai alasan.


"Sudahlah sayang,kamu jangan marah-marah,aku sudah terbiasa,jadi tidak apa-apa." Ucap Melisa lembut,dia sengaja berbuat seperti itu untuk mencari muka di depan suami dan mertuanya.


"Ini yang terakhir kalinya kalian mendengar Olivia bicara seperti itu,mama janji." Bu Amara meyakinkan,mereka tidak tahu kalau itu adalah salah satu rencana bu Amara. Beliau sendiri sebenarnya juga tidak terlalu suka dengan Melisa apalagi dia pernah menyindir Tiara,dan itu membuktikan kalau Melisa memang bukan perempuan baik-baik,dia juga suka memandang remeh orang lain yang memiliki status sosial rendah seperti Tiara.

__ADS_1


\*\*\*


Entah bisikan dari mana yang membuat Arya tiba-tiba menyuruh Tiara untuk tidur seranjang dengannya.


"Kamu tidur di sini saja!" suruh cowok itu.


Tiara tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah,suhu badannya juga masih tidak normal,dia malah merasakan kepalanya semakin sakit,ingin mengatakan hal itu pada Arya tapi tidak berani.


"Kalau terus tidur di sana badan kamu juga akan ikutan sakit," ucapnya lagi. Tiara masih tidak menghiraukan,dia memejamkan matanya untuk segera tidur,namun siapa sangka kalau Arya akan mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas kasur.


"Aku tidak..."


"Sudah diam! Jangan banyak bicara!" Arya memotong omongan Tiara. Benar-benar lelaki aneh,terkadang kasar,cuek,dan kadang-kadang perhatian. Sifatnya itu sangat sulit ditebak,tapi jujur saja hal ini membuat Tiara sangat senang,dia mulai menaruh harapan,berharap Arya akan bisa menerimanya sebagai seorang istri.


"Ini hanya berlaku saat kamu sakit,kalau sudah sembuh aku akan segera menendangmu dari tempat tidurku," ucapnya kemudian,sungguh sangat keterlaluan,dia benar-benar tidak berperasaan,baru saja Tiara merasa bahagia,eh tahunya malah kebaikannya itu hanya untuk sementara waktu saja.


"Dasar lelaki tidak berperasaan!" ucap Tiara kesal,suaranya parau tapi itu sangat jelas.


"Aku kan sudah pernah bilang sama kamu,kalau aku tidak akan pernah jatuh cinta sama kamu,tidak akan pernah!" tegas Arya,maniknya menatap dengan tajam wajah Tiara yang saat itu berada disampingnya,sesaat mereka saling pandang entah apa yang ada dipikiran mereka saat ini.


"Sampai kapan kita akan terus seperti ini?" Tiara kembali membuka suara.


"Sampai kamu sendiri yang merasa bosan dan pergi dari rumah ini." Arya menjawab santai,dan ternyata jawabannya itu malah membangkitkan semangat Tiara untuk berusaha bertahan.


"Kalau begitu aku tidak akan menyerah,aku akan membuat mas Arya jatuh cinta sama aku," tekadnya dalam hati,dia mulai memejamkan matanya dan sedikit tersenyum,Arya yang melihat senyuman Tiara itu membuatnya jadi penasaran,apa yang membuat Tiara tersenyum seperti itu? Sebuah senyuman yang sulit di artikan.

__ADS_1


__ADS_2