
"Aku heran sama kamu,Ren. Kamu bahkan masih ragu-ragu dengan keputusan yang kamu buat sendiri," ucap Steven mulai menoleh kearah Mauren.
Mauren terdiam,apa yang dikatakan Steven memang benar,dia ragu dengan keputusannya sendiri.
"Kamu yang membuat aku jadi ragu,Stev." Mauren mencoba mencari-cari alasan.
"Sekarang kamu mulai menyalahkan aku? Mungkin saja kamu sendiri juga tidak tahu mana yang terbaik untukmu,Marvel atau Ardian," ucap Steven.
"Entahlah,Stev. Tadi sebelum bicara sama kamu aku merasa bahwa ini adalah keputusan yang tepat."
"Dan setelah bicara sama aku,kamu mulai ragu,begitu?" tanya Steven memastikan.
"Hemm..."
"Aku harap kamu pikirkan dulu baik-baik keputusan kamu itu," pungkas Steven sebelum akhirnya dia pergi.
Baru beberapa langkah Steven berjalan,dia berbalik lagi dan berkata, "Jangan mudah membuat keputusan saat kamu sedang marah,supaya kamu tidak menyesalinya dikemudian hari," Mauren dibuat semakin bingung,sebenarnya apa yang harus dia lakukan sekarang?
Siapa yang harus dia pilih? Mengapa jadi berbelit seperti ini?
Dia bahkan tidak tahu siapa yang diinginkan hatinya
\*\*\*
Ardian tengah sibuk mencari kunci mobilnya, dia lupa meletakkannya dimana.
Padahal seingat dia,semalam setelah pulang dari kantor kunci mobil diletakkannya di laci nakas. Tapi sekarang kenapa tidak ada ya?
Dia sudah mencari di seluruh sudut kamarnya,tapi masih aja nggak ketemu.
Di kolong tempat tidur juga tidak mungkin ada,tapi Ardian tetap mencarinya.
Hingga tangannya meraba sesuatu, "Lah,ini apaan ya?" Ardian terus mencoba menarik benda itu keluar dari bawah tempat tidurnya.
"Kotak???"
Ardian merasa ada yang aneh dengan kotak yang kini ada ditangannya,kotak itu bukanlah miliknya.
Kamar itu hanya dihuni oleh dia dan Melisa,kalau bukan miliknya berarti sudah jelas itu punya Melisa.
Ardian mencoba membuka kotak itu,dan apa isinya?
Itu adalah foto Melisa kecil dan mamanya,dan lelaki disampingnya adalah Pak Erick,juga Marvel kakaknya.
__ADS_1
Lalu ada coretan diwajah pak Erick dan Marvel,apa maksudnya itu?
Mulut Ardian terbuka lebar melihatnya,dia mulai menduga bahwa tanda silang diwajah Pak Erick dan Marvel adalah tanda kebenciannya Melisa kepada dua lelaki itu.
"Aku harus menyimpan foto ini baik-baik,siapa tahu aku akan membutuhkannya nanti," Ardian bergumam.
Cowok itu membuka lemari pakaiannya dan segera menyimpan kotak itu dengan baik.
Dia berniat ingin pergi menemui Arya. Arya sudah lebih dulu berangkat kekantor setelah sarapan tadi.
\*\*\*\*\*
Setibanya dikantor,Ardian langsung saja masuk keruang kerja adiknya,dan kebetulan sekali saat itu Arya sedang duduk santai sambil memandang keluar jendela.
Kelihatannya suasana hatinya sedang kurang baik. "Santai banget kamu Ar,lagi nggak ada kerjaan,ya?" tanya Ardian begitu dia masuk ke ruang kerja Arya.
"Kebiasaan Mas Ardian kalau masuk ke ruang kerja aku nggak permisi dulu," ucap Arya mengabaikan pertanyaan kakaknya.
"Begitu aja kamu ributin,Ar. Sama mas mu sendiri kenapa emangnya?"
"Ya nggak kenapa-kenapa sih?" jawab Arya melihat ke arah Ardian.
"Pasti ada hal penting lagi," tebak Arya.
"Jangan bicara tentang perempuan itu dihadapan aku,mendengar namanya saja aku sudah muak,apalagi lebih dari itu," Arya berkata dengan sinisnya.
Dia tidak suka dengan Melisa sejak pertama Ardian dan Melisa menikah.
Tidak hanya Melisa,dia juga tidak menyukai Andika,suami Olivia. Karena menurutnya lelaki itu juga sama bejatnya dengan Melisa,meski Andika tidak membunuh Yuna.
Tapi tetap saja Arya tidak menyukainya,karena tujuan utama Andika menikah dengan Olivia hanya untuk merebut harta keluarganya.
"Baiklah,aku tidak akan membicarakan masalah dia untuk saat ini. Kalau begitu,mari kita bicarakan mengenai masalah pak Harto!"
"Tentang pak Harto,ya? Pasti tentang kenapa tiba-tiba pak Harto berbalik arah dan ingin menghancurkan kita," ujar Arya,persis seperti apa yang ingin di katakan Ardian padanya.
"Kamu sudah tahu mengenai hal ini?" tanya Ardian,merasa info yang akan dibagikannya kepada Arya menjadi tidak berguna lagi.
"Desi yang memberitahukannya,dia bilang pak Harto sengaja melakukannya sendiri,dan itu bukan om Leon yang menyuruhnya,"
"Pak Harto melakukan semua itu,supaya dirinya tidak dijadikan target oleh om Leon," sambung Ardian.
"Dan pak Harto merasa senang setelah mas Ardi memecatnya hari itu," ungkap Arya.
__ADS_1
"Senang?" Ardian mengerutkan keningnya,dia merasa aneh.
"Hemm... Dia sangat senang karena sudah tidak ada lagi orang yang mengganggunya,om Leon itu selalu memaksa pak Harto untuk keluar dari perusahaan dan mengajaknya untuk bekerjasama dengan om Leon,tapi dia tidak mau. Hingga akhirnya pak Harto memilih untuk berbuat curang di perusahaan kita,begitu melihat ketidaksetiaan pak Harto,om Leon mulai tidak suka," tutur Arya bercerita.
"Meski brengsek begitu,tapi ternyata om Leon juga tidak ingin memiliki rekan kerja yang tidak setia,dia juga berpikir,papa saja yang sudah lama menjadi teman dekatnya bisa dikhianati seperti itu,apalagi dirinya," Ardian tersenyum lucu saat mengatakannya.
\*\*\*\*
Siang harinya,Olivia datang menemui Andika di sel tahanan.
Olivia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri,bahwa dia masih mencintai suaminya itu. Meski Andika sudah berkali-kali membohonginya,dan dia juga sudah dikhianati.
Menatap Andika dengan dalam,dan Olivia mulai berkompromi dengan hatinya,haruskah dia kembali melanjutkan pernikahannya dengan lelaki itu,atau meminta untuk diceraikan saja.
"Aku minta maaf atas segalanya,aku sadar tidak pantas mendapat maaf dari kamu,Liv. Semua keputusan ada ditangan kamu sekarang," ucap Andika parau.
Olivia yang sejak tadi menunduk diam,kini mulai mengangkat wajahnya dan bicara, "Kalau tidak memikirkan nasib anak yang ada dalam kandunganku ini,mungkin aku tidak akan mau kembali lagi sama kamu," jawab Olivia,sebenarnya dia juga masih sangat mencintai Andika.
Meski sudah dibuat hancur seperti itu,tapi cinta Olivia tulus untuk Andika,jadi sulit bagi dia untuk merelakan suaminya itu.
"Awalnya aku memang menikahi kamu karena punya maksud tersembunyi,tapi setelah menyadari Melisa ingin membunuh anak kita,aku mulai membenci dia,dan sekarang aku benar-benar mencintai kamu Olivia," ucap Andika,berharap Olivia percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Bagaimana bisa aku percaya dengan apa yang kamu katakan,Dika?"
"Aku tidak memaksa kamu untuk percaya sama omongan aku,ikuti saja apa kata hati kamu!" ujar Andika,dia memberi Olivia kesempatan untuk memilihnya sendiri.
Pernikahan mereka masih bisa diperbaiki,bercerai juga bukan jalan yang terbaik.
Olivia juga tidak ingin anaknya lahir tanpa seorang Ayah.
Dia juga tidak bisa memutuskannya sendiri,masalah ini harus dibicarakan dulu dengan papa dan mamanya juga Oma.
"Aku masih belum bisa mengambil keputusan Dika,aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Aku ingin menanyakan pendapat dari keluargaku dulu," Olivia memberi kejelasan,dia juga tidak mau terburu-buru mengambil keputusan.
"Itu adalah cara terbaik,jika memang keluarga kamu tidak setuju,maka kita tidak perlu melanjutkan pernikahan ini. Ini semua adalah harga yang harus aku bayar atas semua kesalahan yang aku perbuat dimasa lalu," tutur Andika,wajahnya tampak sedih, tapi dia masih berusaha untuk tetap tersenyum.
"Bu,mohon maaf waktu kunjungannya sudah habis," ucap seorang Polisi.
Olivia melirik jam dipergelangan tangannya. "Lain kali aku akan datang lagi,jaga kesehatan kamu!" Olivia menatap Andika dengan lembut,ada kerinduan dihatinya.
Meski mulutnya terus berkata benci terhadap suaminya,tapi dia tidak pernah membunuh rasa cinta itu.
"Kamu juga jaga baik-baik calon bayi kita!" Itu kata terakhir yang diucapkan Andika sebelum polisi itu membawa kembali Andika menuju sel tahanan.
__ADS_1