
"Pantas saja dia mau bekerjasama dengan pak Erick untuk menjatuhkan aku." Ucap pak Wijaya.
Semua sudah jelas sekarang,dia sudah tahu semuanya.
"Lalu apa Leon juga mengetahui statusnya sebagai anak angkat?" tanya bu Amara.
"Dia sudah tahu akan hal itu,jauh sebelum papa meninggal. Dia menemukan sendiri berkas-berkas dari Panti Asuhan Permata tempat kami mengadopsinya dulu." Jelas oma.
"Kalau saja dia tidak tumbuh menjadi anak yang penuh dengan ambisi tentu saja mama akan sangat bangga sudah merawatnya dengan baik,tapi dia malah tumbuh menjadi orang jahat. Dan sekarang mama menyesal sudah mengangkatnya sebagai anak." Lanjut wanita itu dengan penuh rasa sesal.
"Apa boleh buat ma,semua sudah terjadi. Biarkan saja ini berlalu,Leon juga sudah mendapat balasannya sendiri." Ujar bu Amara
"Sekarang yang membuat penasaran adalah pak Erick,kenapa Melisa sangat membenci lelaki itu,dan kenapa dia membunuh pak Doni? Apa alasannya?" pak Wijaya mulai penasaran dengan kasus pembunuhan pak Doni.
-oOo-
"Mereka akan melewati jalan ini,karena menurut informasi yang aku dengar,Olivia akan tinggal di sebuah perkampungan,tidak jauh dari jalan perkotaan. Dan aku rasa ini jalannya." Mauren berbicara dengan orang suruhannya.
"Apa bos sudah yakin dengan jalan yang akan mereka lewati? Apa mungkin ini jalan perkampungan yang mereka maksud?" tanya Evan masih kurang yakin.
"Aku juga tidak tahu dengan jelas,yang pasti jalan ini menuju kampungnya Tiara,kita tunggu saja disini!" Melisa segera menyuruh beberapa anak buahnya yang lain untuk bersembunyi di semak-semak yang ada dipinggir jalanan itu.
Jalanan yang sepi,sungguh merupakan keberuntungan bagi Melisa,dia dengan mudah dapat menjalankan aksinya.
-oOo-
Kediaman Marvel...
Tintin tidak berani menatap mata Marvel,dia tertunduk diam,jantungnya berdebar keras.
Johan yang melihat aura dingin yang mulai menyelimuti ruangan tempat mereka duduk,langsung saja angkat bicara.
"Berani sekali kamu muncul dihadapan kami,kamu ingin menyerahkan diri kamu sendiri sekarang?" ucap Johan bertanya lantang.
Tintin mulai mengangkat tegak wajahnya,menatap dua orang didepannya dan berkata. "Saya memang berniat untuk menyerahkan diri kepolisi,tapi sebelum itu pak Marvel dan pak Johan perlu mengetahui alasan dibalik pembunuhannya pak Doni,dan kekejaman yang dilakukan oleh pak Erick terhadap ibunya non Melisa." Tintin mulai bercerita.
Dia akan mengatakan semuanya,segala hal yang diketahuinya.
__ADS_1
Tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi,dia berharap dengan apa yang dilakukannya saat ini dapat menebus sedikit kesalahannya yang dilakukan dimasa lalu terhadap Yuna.
"Katakan cepat! Jangan bertele-tele!" suruh Marvel sedikit membentak.
"Pak Erick adalah orang yang sudah membunuh ibunya non Melisa." Ucap Tintin memberitahu.
Kabar itu mengejutkan Marvel,dia tidak bisa langsung mempercayai omongan Tintin.
Johan juga tak kalah kagetnya,matanya membeliak lebar mendengar pengakuan Tintin.
"Jangan asal ngomong kamu,Tintin!" Marvel marah dia menggebrak meja dengan kasar,cowok itu tidak terima. Omongan Tintin tadi sama saja dengan menuduh ayahnya sebagai pembunuh.
"Kamu ingin menyebarkan berita hoax disini atau memutarbalikkan fakta?" tuding Johan,dia juga marah.
Menurut Johan,Tintin hanya ingin membuat Melisa menjadi korban bukannya tersangka.
"Saya tidak berbohong,apa yang pak Marvel ketahui selama ini adalah berita palsu,pak Erick yang merancang semuanya. Non Melisa adalah anak dari istri keduanya pak Erick,dan Ibunya pak Marvel tidak pernah tahu kalau suaminya menikah lagi." Tutur Tintin memperjelas.
Namun sayangnya,tak ada satupun diantara mereka berdua yang percaya.
"Hubungi polisi,masukkan dia ke penjara!!!" perintah Marvel,tidak ingin pikirannya di pengaruhi oleh berita palsu dari Tintin.
"Pak Marvel saya mohon,dengarin dulu penjelasan saya!" Tintin memelas,dia bersimpuh di depan Marvel.
Gaara menyeretnya dengan kasar,Tintin bersikeras bertahan tidak ingin dibawa ke kantor polisi. Dia harus menjelaskan semuanya
"Tidak,saya harus menjelaskan semuanya sebelum terlambat." Batin Tintin.
"Cepat keluar! Tidak ada lagi yang ingin kami dengarkan dari mulut kamu itu,kami tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari mulut pembunuh!" ucap Johan. Dia ikut membantu Gaara menyeret Tintin keluar.
"Saya memang pembunuh,tapi setidaknya saya bukan pengecut seperti pak Erick!" ucap Tintin mencibir,suaranya juga tak kalah lantang dari Johan.
Matanya memerah menahan kemarahannya,dia ingin didengarkan,tapi tak ada yang mau mendengarkan penjelasannya.
"Lepaskan dia!!" suara menggelegar memenuhi ruangan itu,seseorang datang dan itu adalah pak Wijaya.
Beliau datang ke kediamannya Marvel dengan membawa 5 pengawalnya.
__ADS_1
Kedatangan lelaki itu yang tiba-tiba,membuat mereka terkejut.
"Pak Wijaya?" Pikiran Marvel bertanya-tanya,gerangan apa yang membuat ayahnya Ardian datang ke rumahnya.
Tintin memutar badannya dan tersenyum saat melihat pak Wijaya ada disana. Pak Wijaya seperti penyelamat baginya,lelaki itu datang disaat yang tepat.
Johan dan Gaara langsung mundur melepaskan Tintin.
Marvel mempersilahkan mereka untuk duduk,dia ingin mengetahui alasan kedatangan pak Wijaya.
"Kenapa kamu berada disini,Tintin? Apakah Melisa sudah keluar dari tempat persembunyiannya?" pak Wijaya tidak mau bertele-tele.
"Iya,dan sekarang dia sedang mencari cara untuk mencelakai non Olivia." Jawab Tintin jujur.
"Lalu kenapa kamu tidak mencegahnya,kenapa kamu malah kesini?" tanya pak Wijaya,dia tidak terlihat marah,bawaannya tenang dan penuh wibawa.
"Saya ingin mengatakan yang sebenarnya kepada pak Marvel,tentang siapa non Melisa sebenarnya,dan apa yang telah dilakukan oleh pak Erick kepada Ibunya non Melisa." Ungkap Tintin,wanita itu melihat satu persatu orang di depannya,badannya masih gemetar. Jujur saja dia juga sangat takut berada ditengah orang-orang yang sudah menganggapnya sebagai musuh besar.
Tintin terduduk lemas dilantai,dalam pandangannya saat ini,semua orang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Jangan percaya omongan dia pak Wijaya,wanita ini ingin mempengaruhi pikiran kita." Ucap Marvel mengingatkan.
"Saya percaya setiap kata yang keluar dari mulutnya!" tegas pak Wijaya.
Membuat semuanya terpaku,tak terkecuali Tintin,dia tidak menyangka dengan respon dari majikannya itu.
Lelaki yang dianggapnya sudah mati 4 tahun yang lalu,tapi nyatanya dia masih hidup sampai sekarang,dan kini lelaki itu berada didepan matanya sendiri.
Tintin sebenarnya juga penasaran kenapa pak wijaya masih bisa selamat,dan dimana dia selama ini? Tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu,dia harus mengungkap semua fakta yang mereka tidak ketahui.
"Bapak serius percaya dengan omongan saya?" tanya Tintin,semangatnya kembali muncul,dia tersenyum senang.
Pak Wijaya menganggukkan kepalanya,dia menyuruh Tintin untuk melanjutkan ceritanya lagi.
Tintin mulai bercerita panjang lebar,mengurai semua kejadian,segala peristiwa yang tidak diketahui Marvel.
Dia begitu lancar menceritakannya,jelas terlihat kalau Tintin tidak berbohong,dia tidak gugup,semuanya tercengang mendengar cerita Tintin.
__ADS_1
Marvel membeku saat mengetahui bahwa Melisa adalah adiknya sendiri,meski mereka terlahir dari rahim yang berbeda. Selama ini yang Marvel tahu,Melisa itu adalah anak yang diadopsi oleh ayahnya karena ibunya meninggal setelah melahirkannya.