Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Tiara Istri Yang Baik


__ADS_3

"Mas,aku penasaran dengan apa yang dibicarakan mama dan yang lainnya di ruang keluarga." Ucap Tiara kembali bicara setelah mereka lama terdiam.


"Oh,palingan mama hanya marah karena mbak Oliv tidak mengatakan tentang kehamilannya kepada mama,jawab Arya menjelaskan.


"Mbak Olivia hamil?" Tiara kaget bercampur senang,dia dengan cepat bangun dan naik ketempat tidurnya Arya,hihi... kayaknya Tiara lupa ya,tentang apa yang barusan dikatakannya.


"Nah,itu kamu naik kesini buat apa,lupa ya sama ucapan sendiri?" tanya Arya tersenyum menggoda.


Tiara bengong,menatap Arya dan melihat tubuhnya sendiri yang kini sudah berada di atas tempat tidur suaminya,ternyata dia tidak sadar saat naik ke sana.


"Aku kan sudah bilang,kalau mau naik kesini ya naik saja tidak perlu mikir-mikir bagaimana caranya,aku tidak lupa,aku ingat!" jawab Tiara,untung dia menemukan jawaban yang tepat.


"Kamu sudah pintar mencari alasan sekarang ya," ucap Arya tersenyum usil.


"Kenapa mas tidak ikut ngumpul untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan?" tanya Tiara penasaran.


"Untuk apa,tidak ada keuntungannya juga untuk aku,lebih baik aku disini." Arya mulai menatap Tiara lebih dekat,entah apa yang dipikirkannya sekarang.


Tiara yang merasa suaminya mulai kembali ingin menggodanya,dia pun segera kembali ketempat tidurnya,dia turun dari ranjang milik Arya. "Nggak seru,mending aku tidur aja," gumam gadis itu seraya menutup setengah tubuhnya dengan selimut tebal agar tidak kedinginan.


Arya tersenyum lucu begitu melihat Tiara kesal,namun seketika senyumnya menghilang,dia menatap Tiara yang sudah memejamkan matanya,terlihat begitu tenang. Arya merasa sangat bersalah,sebagai suami dia sama sekali tidak berguna,dia sama saja sudah menelantarkan Tiara,dia tahu sikapnya terhadap Tiara kadang menyakiti perasaan gadis itu.


Tiara tidak pernah mengeluh meski badannya terasa pegal-pegal karena selalu tidur dilantai,sedangkan dia enak-enakan tidur di atas kasur berbusa tebal dan nyaman,dia bersikap seolah tak peduli saat Tiara sakit,dia juga membiarkan Tiara mengerjakan pekerjaan rumah layaknya pelayan di rumah itu,seharusnya Tiara diperlakukan seperti ratu,bukan seperti babu. Tapi,Tiara terlalu patuh dan baik,dia apa pun yang disuruh oleh mertuanya semua dilakukannya tanpa banyak bertanya,dia tidak banyak bicara tidak seperti Melisa yang berpura-pura baik.


Memikirkan hal-hal tersebut,membuat Arya semakin tertekan,dia sudah merasakan bahwa hatinya mulai mencintai Tiara,namun cowok itu terlalu gengsi untuk mengungkapkannya,jujur saja hatinya sakit saat melihat pagi-pagi Tiara harus bangun untuk menyiapkan semua keperluannya,dan kemudian turun kebawah ikut membantu menyiapkan sarapan di dapur bersama pelayan yang lain,setelah itu dia juga harus membantu membersihkan rumah,dan kemudian mencuci semua pakaian kotornya. Siangnya dia harus kembali membantu memasak di dapur,mamanya bahkan tidak menegur untuk menghentikannya,bu Amara membiarkan saja Tiara mengerjakan semuanya,padahal rumah besar itu tidak kekurangan pelayan.

__ADS_1


Hari ini Arya menyaksikan semua aktivitas Tiara,istrinya itu bahkan tidak memiliki waktu istirahat,menjelang malam dia baru bisa beristirahat dengan tenang. Arya terus menatap wajah istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya,Tiara memang terlihat lelah,cowok itu menghembuskan nafas panjang lalu menatap lurus ke depan,dia tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Tiara.


"Kenapa hati ini begitu sedih melihat dia,apa mungkin aku memang mencintainya?" tanya Arya membatin. "Cinta itu sangat menyesakkan," pungkasnya sambil tersenyum penuh arti.


Malam terus bergulir,Arya mulai memejamkan matanya dan tidur dengan hati yang masih dibalut kegelisahan. Cinta yang datang tiba-tiba,membuatnya hampir kehilangan akal.


\*\*\*


"Apa yang terjadi dengan pak Ardian?" tanya Arya pada bawahannya.


"Beliau sedang marah-marah di ruangannya dan beberapa karyawan sudah dipecat pak," lelaki itu menyampaikan berita mengejutkan.


"Kenapa bisa begitu,kesalahan apa yang mereka lakukan?"


Arya tersenyum kecut mendengarnya,sudah empat tahun berlalu semenjak kematian papanya,tidak pernah ada orang yang berani melakukan hal serendah itu,dan sekarang mereka mulai beraksi lagi,benar-benar berani.


"Kamu tahu siapa dalang dibalik semua ini.?"


"Kalau mengenai hal ini saya tidak tahu, tapi dari yang sempat saya dengar sama pak Yudi,ini semua ada campur tangan orang terdekat dengan pak Ardian sendiri," dia menjelaskan,membuat Arya mulai mencurigai adik dari papanya,yaitu tuan Leon.


" Apa masih ada yang perlu bapak tanyakan? Kalau tidak,saya permisi dulu!" lelaki itu bertanya dengan sopan.


"Tidak ada,kamu boleh keluar sekarang,dan tolong panggil desi untuk untuk segera datang keruangan saya!" perintah Arya.


"Baik pak!" dia menunduk hormat dan langsung keluarga dari ruang kerja Arya yang luas dan mewah itu.

__ADS_1


\*\*\*


"Des,kamu tahu siapa-siapa aja yang dipecat oleh mas Ardi?" tanya Arya langsung ke intinya.


"Cuma tiga orang,pak Usman,pak Hamid dan...


"Dan siapa lagi? Cepat katakan!" desak Arya. Desi terlihat ragu-ragu saat akan mengatakannya.


"Yang terakhir ini aku tidak yakin dia berani melakukan semua ini."


"Memangnya siapa yang terakhir?"


"Pak Harto."


"Apa?" Arya kaget tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya lelaki itu tidak mungkin melakukannya.


Pak Harto adalah orang yang paling dekat dengan papa mereka,dan pak Harto juga orang yang telah bersama-sama merintis bisnis dari nol,dia orang yang dikenal setia dan jujur,tidak mungkin kan dia berani membantu mereka melancarkan rencananya untuk menjual saham perusahaan kepada perusahaan lain,dan lagi kalau sudah ketahuan begini yang ada malah namanya sendiri yang ikut tercoreng.


"Aku rasa,aku tahu siapa dalang dibalik permasalahan ini,kita terlalu santai selama ini Des,hingga tidak sadar ada musuh dalam selimut,sepertinya dia mulai menunjukkan taringnya," ucap Arya. Desi tidak mengerti dengan arah pembicaraan cowok itu,dia juga tidak tahu siapa yang sedang diomongin Arya.


Melihat wajah kebingungan Desi,Arya tersenyum. "Yang aku maksud itu om Leon,sepertinya lelaki itu sudah berani bertindak sembarangan di perusahaan ini,dia hanya seorang manager tapi berani sekali memalsukan tanda tangan kak Ardian,dan kemudian menumbalkan orang lain!" Arya menggebrak mejanya dengan keras,berusaha menahan emosi yang sudah memuncak.


"Jangan sembarangan menuduh,Ar. Dia itu om kamu." Desi mengingatkan.


"Desi,aku memakluminya karena kamu baru dua tahun bekerja disini,jadi kamu tidak tahu bagaimana sifat om Leon,aku sudah memperhatikannya sejak kecil." Ucap Arya,dia mencoba mengingat kembali masa-masa dimana saat pak Leon sering berkunjung ke rumah mereka,dari kecil memang Arya sudah dapat melihat kebencian dimata lelaki itu,setiap kali melihat keluarga bahagia mereka. Arya tidak akan lupa,dia selalu mengingatnya,senyuman palsu yang terukir diwajah om Leon,kata-kata bijaknya dan kebaikan-kebaikannya,semua itu palsu,mungkin yang lain tidak menyadari tapi dia sangat peka,dia tahu betul kalau om Leon sebenarnya tidak pernah menyukai papanya.

__ADS_1


__ADS_2