
"Sudah malam begini dia bahkan belum pulang,Tiara sebenarnya kemana sih?" tanya bu Amara,beliau marah dan khawatir.
"Mama terlalu mencemaskan dia,memang dia itu penting banget apa?" ujar Olivia,dia kemudian beralih menatap adik bungsunya yang tak lain adalah Arya. Arya terlihat santai saja tidak khawatir seperti mamanya.
Tintin yang sedang meletakkan sayuran di atas meja makan hanya diam saja mendengar obrolan keluarga itu.
"Kamu Arya kenapa malah disini? Pergi sana dan cari Tiara sampai ketemu!" suruh bu Amara.
"Dia nanti juga bakal pulang sendiri,ma," jawab cowok itu santai,ia masih asyik mengunyah makanannya.
"Suami kamu kemana? Tumben jam segini dia masih belum pulang?" lanjut bu Amara bertanya kepada Olivia.
"Mas Andika ada acara penting sama teman sekantornya,ma."
Arya tersenyum sinis mendengar jawaban kakaknya,dan dia langsung menanggapinya. "Aku rasa dia belum pulang bukan karena sedang menghadiri acara penting dengan teman sekantornya."
"Maksud kamu apa Arya,bicara seperti itu?" Olivia menatap tajam ke arah Arya.
"Bisa aja kan dia pergi sama selingkuhannya,dan bisa jadi selingkuhannya itu mbak Melisa," tutur cowok itu spontan,dia bahkan tidak memikirkan akibat dari ucapannya itu.
Olivia melotot ke arahnya,dia tidak terima ucapan sang adik yang mengatakan sesuatu yang tidak benar untuk suaminya. "Jaga omongan kamu! Jangan sembarangan nuduh,Andika tidak seperti itu."
"Sudah... sudah!" bu Amara mencoba menengahinya.
"Kamu cari Tiara dulu sana!" suruh bu Amara, tapi Arya yang keras kepala itu hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya,dan diiringi dengan gelengan kepalanya.
Tintin yang sudah tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk bicara,akhirnya dia pun membuka suaranya. "Maaf nyonya,tadi pagi saya melihat non Tiara pergi ke hutan yang ada di belakang rumah."
__ADS_1
Ketiga orang yang sedang makan malam itu serentak menghentikan makannya,mereka saling pandang dan dengan masih tidak percaya bu Amara bertanya,apakah yang dikatakan Tintin itu benar,Tintin pun mengangguk.
"Mungkinkah dia tersesat?" sekarang Olivia juga terlihat cemas.
"Dia tidak akan tersesat,hutan itu juga tidak luas,kan hutan itu papa yang membuatnya." Tutur Arya.
"Tapi sampai sekarang dia belum pulang Ar,sebaiknya kamu cari dia sekarang juga!" tegas bu Amara.
Nah,kalau sudah begini nggak ada kata nggak mau,Arya harus mencarinya. Sebab,kalau mamanya sudah marah beliau bahkan lebih menakutkan daripada harimau.
Baru saja Arya hendak bangun,namun tiba-tiba dari luar terdengar bel berbunyi,Lia buru-buru datang untuk membuka pintu,mulutnya menganga lebar setelah mengetahui siapa yang datang.
"Ny-nyonya besar datang ke sini?" dia seperti bertanya pada dirinya sendiri,dia sangat gugup kala itu,kemudian tatapannya beralih ke arah wanita disamping oma Miska dan itu adalah Tiara,membuat Lia semakin tercengang plus kagum melihat Tiara yang tampil berbeda dari biasanya.
Sepertinya oma baru saja mengajaknya ke salon dan berbelanja,karena Tiara memegang beberapa paper bag di tangannya.
\*\*\*
"Tidak apa ma,tadi aku cuma takut saja kalau Tiara pergi jauh-jauh keluar sendirian,kan dia belum pernah keluar sebelumnya,aku takut kalau nanti dia tidak tahu jalan pulang," tutur bu Amara menjelaskan.
"Oma paham tentang hal ini,kamu memang sangat khawatir sama dia." Ucap oma penuh rasa simpati,"
"Ngomong-ngomong bagaimana hubungan dia dengan Arya?" tanya oma setengah berbisik,agar suaranya tidak di dengar oleh Tiara dan Arya,saat itu Tiara dan Arya sudah masuk ke kamarnya begitu pula dengan Olivia. Jadi,mereka dapat dengan leluasa membicarakan tentang hubungan sepasang pengantin baru itu.
"Entahlah ma,padahal aku sengaja bersikap kurang peduli sama Tiara,supaya Arya bisa merasa kasihan terhadap dia,dan akhirnya cinta itu bisa tumbuh dengan sendirinya," ungkap bu Amara.
"Mama rasa kamu harus bersikap lebih buruk lagi,mungkin dengan begitu Arya akan berusaha untuk melindungi istrinya," usul oma Miska.
__ADS_1
"Kita kesampingkan dulu masalah itu ma,sekarang aku ingin mengetahui lebih jelas apa benar Tiara tidak pergi kehutan itu?" tanya bu Amara,beliau masih belum percaya dengan pengakuan Tiara tadi,yang mengatakan dirinya langsung ke rumah oma karena oma memanggilnya.
"Tentu saja dia tidak kesana," jawab oma,wajahnya terlihat serius meski sebenarnya saat itu oma sedang berbohong.
"Tidak ada lagi yang berani datang kehutan itu setelah kejadian mengerikan yang terjadi pada Titin," ucap bu Amara,matanya memandang jauh ke depan,seperti kembali membayangkan kejadian beberapa waktu lalu.
"Tentang kebenaran di balik cerita itu hanya dia yang tahu,apa semuanya hanya sandiwara atau memang sebuah kenyataan."
"Mama benar,sejauh ini kita bahkan tidak tahu sama sekali tentang cerita itu benar atau tidak,kalau mengingat-ingat kembali sepertinya semua masalah yang terjadi dikeluarga kita ada sangkut pautnya dengan orang-orang dalam," ujar bu Amara.
"Kamu harus lebih berhati-hati lagi dengan orang-orang di sekitarmu Amara,jangan sembarangan percaya dengan orang lain,kematian papanya Arya,misteri hilangnya Yuna,sosok yang dilihat Titin di hutan itu,dan hubungan antara Melisa dan Andika,bukankah semuanya belum ada satupun yang terpecahkan?" oma mengingatkan.
Bu Amara menarik nafas panjang sebelum kembali berbicara.
"Ternyata masalahnya semakin rumit,sekarang tidak ada orang lain yang bisa aku percaya selain Arya dan Desi ma,jika mengharapkan bantuan dari Olivia dan Ardian tentu saja tidak mungkin karena mereka punya orang luar disampingnya," ucap wanita itu. Orang luar yang dimaksudnya adalah Melisa dan Andika.
\*\*\*\*
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi ke rumah oma?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Arya,dia sudah sejak tadi ingin menanyakannya,namun rasa gengsinya terlalu besar.
Tiara melemparkan pandangannya ke arah lemari pakaian begitu mendengar pertanyaan Arya,sepertinya dia marah,tidak menjawab hanya diam saja.
"Tiara!" panggil Arya kesal,masih juga belum ada jawaban.
"Kamu kenapa ngambek sama aku?" dia bertanya heran seolah tidak bersalah,ya dia memang tidak pernah menyadari dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya.
Tiara masih bungkam,dia enggan bersuara meski hanya sepatah kata,membiarkan Arya menyadari kesalahannya sendiri,biarkan dia menebak-nebak apa yang membuat Tiara jadi kesal.
__ADS_1
"Tiara!" panggil cowok itu dengan suara keras,Tiara yang berdiri di depan jendela kamarnya yang saat itu sedang menatap keluar,segera menutup kembali jendela kamar,dan kemudian dia merebahkan tubuhnya dilantai yang dilapisi dengan karpet berbulu halus yang terletak di samping tempat tidur king size milik Arya,seperti biasa dia memang selalu tidur di sana.
"Tadi di depan oma dan mama,mas Arya kelihatan sekali tidak suka dengan Tiara. Aku tahu aku hanya anak bekas pembantu dirumah ini,tapi tolong jangan pernah menatapku seperti itu," pinta Tiara,dia mungkin sedang menahan tangisnya,bahkan suaranya juga ikut tercekat saat mengatakan hal itu.