
Setelah Ardian tahu kalau Mauren adalah teman dekatnya saat di SMA dulu,kini Mauren memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rumah lelaki pujaannya itu.
Mauren berdiri termenung di depan jendela,matanya menatap keluar dengan pandangan kosong.
"Kalau memang masih cinta katakan saja jangan berdiam diri seperti ini,yang ada nanti kamu juga yang akan merasakan sakitnya." Ucap Steven memberi saran,dia ikut berdiri di samping Mauren.
Ditangannya ada dua cangkir teh,dia memberikan satu untuk Mauren.
"Sebelum semua ini terungkap aku sangat bersemangat ingin mengejar kembali cinta Ardian,tapi entah kenapa sekarang aku mulai merasa ragu." Curhat Mauren,dia menyesap sedikit tehnya,matanya masih tidak lekang menatap keluar jendela.
Sebenarnya apa yang Mauren pandangi di luar jendela itu?
"Kamu lagi mandangin apa sih,Ren?" tanya Steven jadi penasaran.
"Marvel,Stev. Dia ada di sini," Mauren menjawab sambil tangannya menyingkap gorden sedikit lebih lebar agar Steven dapat melihat Marvel yang berdiri di depan kediaman mereka.
"Sudah beberapa hari ini aku melihat Marvel terus datang ke sini,berdiri didepan gerbang dan tidak masuk,setiap kali melihat dia hati aku sakit Steven,tapi di sisi lain aku juga merasa sayang sama Marvel,aku sangat bingung," Mauren terlihat sedih saat mengatakannya,matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu bingung ya antara dua cowok itu,tetap bertahan dan melanjutkan pertunangan dengan Marvel,atau berhenti dan kembali mengejar cinta Ardian?"
"Aku benar-benar bingung dan dilema,aku tidak bisa memilih untuk saat ini,aku tahu Marvel sangat mencintai aku,meski sikapnya temperamen begitu. Tapi,setiap kali melihat aku menangis dia pasti tidak tega dan hatinya akan kembali melembut,dia akan luluh hanya dengan melihat air mataku,sedangkan Ardian... hanya aku yang sangat mencintainya." Tutur Mauren.
Apa yang dikatakannya memang benar,Marvel sangat tulus mencintainya,meski Marvel tahu kalau Mauren sendiri sama sekali tidak mencintai cowok itu.
Mauren kembali menarik tirai jendela dan menutupnya,dia berbalik arah dan mulai menatap lekat kearah Steven.
"Kalau kamu jadi aku siapa yang akan kamu pilih?" tanya Mauren.
"Tentu saja aku akan memilih Marvel," jawab Steven spontan.
Sepasang mata Mauren membelalak mendengar jawaban Steven,padahal dia sangat berharap kalau Steven akan memilih Ardian,seharusnya dia memang memilih Ardian karena mereka sangat dekat,sudah seperti saudara.
Steven menatap Mauren dan tersenyum tipis.
Dia tahu apa yang di pikirkan Mauren.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan Mauren,bukan berarti karena aku dekat dengan Ardian maka aku harus memilih dia,tapi lihat dulu siapa yang paling mencintai kamu,maka sebaiknya dia yang harus kamu pilih,pikirkan ini baik-baik,keputusannya ada di kamu,cinta yang tulus itu tidak datang dua kali,dan sebaiknya jangan menyia-nyiakan orang yang benar-benar mencintai kamu. Aku juga tidak memaksa ini hanya nasihat saja,karena hidup kamu,kamu sendiri yang menjalaninya,pedih perih juga kamu sendiri yang merasakannya." Ucap Steven panjang lebar,dia memberi sedikit petuah untuk temannya seperti orang tua saja.
__ADS_1
Steven berlalu pergi dengan membawa cangkir teh yang sudah kosong menuju dapur,cowok itu meninggalkan Mauren yang masih belum bisa membuat pilihan yang tepat.
"Mauren cepetan ke sini,makan siang dulu jangan kelamaan di sana!" seru Steven.
"Iya sebentar!" sahut Mauren,dia meninggalkan ruang tengah dan pergi menuju meja makan untuk menyantap makan siangnya.
\*\*\*\*
Di taman bunga...
"Kamu tahu tidak,kalau ini adalah tempat yang paling romantis," ucap Arya memberitahu.
"Romantis apanya,sepi kayak gini,nggak tahu juga mau mandangin apa disini kayak dikuburan aja," Tiara masih memasang wajah cemberutnya.
Cuma gara-gara Arya tadi tidak mau berhenti di rumah makan padang kesukaannya,Tiara masih ngambek sampai sekarang.
Tiara melampiaskan kekesalannya pada bunga-bunga kecil yang tumbuh di sekitar kursi taman yang mereka duduki. Kasian banget bunganya dijadiin tempat pelampiasan Tiara.
"Eh,jangan ditendang-tendang begini dong bunganya!" cegah Arya sambil menunduk dan menarik kedua kaki Tiara supaya tidak lagi menendang-nendang bunga itu. "Kan bunganya jadi rusak,entar kalau penjaga taman melihat kelakuan bodoh kamu ini,bisa-bisa kamu disuruh ganti rugi,dan ingat ya! Aku nggak mau ikut-ikutan."
"Sikapnya ini sangat kekanak-kanakan,bikin orang tambah gemas aja," lirih Arya.
"Mas bilang apa?" tanya Tiara,karena tidak bisa mendengar dengan jelas kata yang di ucapkan suaminya itu.
Arya juga tidak menjawab,dia bersikap cuek lagi sama Tiara. Tiara juga tidak memaksa Arya untuk menjawabnya,dia diam dan mulai memperhatikan kesekeliling taman.
Tamannya memang indah dan di penuhi dengan berbagai jenis bunga yang sedang bermekaran.
Suaminya memang tidak salah,tempat itu memang romantis,cocok untuk pasangan yang sedang di mabuk cinta untuk memadu kasih,nah kalau mereka mau ngapain kesana? Arya bahkan tidak pernah bersikap romantis terhadap dirinya,yang ada mah Arya selalu membuatnya jengkel.
"Nggak seru Tiara kalau kamu diam terus," bisik Arya ditelinganya.
Tiara mengusap-usap kupingnya yang terasa gatal. "Mas,kalau bicara nggak perlu dekat-dekat,aku juga dengar kali."
"Hufhh...!!!" Arya menghembuskan nafasnya yang terasa berat,kenapa sangat sulit baginya untuk mengatakan kalau sebenarnya dia sudah mulai mencintai istrinya itu,dia memang sudah memperlihatkan perhatiannya,tapi belum mengucapkan rasa cintanya.
Dan Tiara juga begitu,dia juga mencintai Arya tapi sulit baginya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Arya,dia gengsi untuk mengatakannya,dia hanya bisa menunggu Arya yang mengungkapkan perasaannya duluan,kalau kata cinta itu belum keluar dari mulut Arya,maka selama itu juga Tiara akan terus berpikir bahwa perhatian yang diberikan Arya kepadanya hanya sandiwara saja.
__ADS_1
"Mas,aku lapar!" adu Tiara merengek,dia menatap lembut kearah Arya dengan sepasang bola matanya yang jernih dan bersinar indah,membuat dia terlihat semakin menggemaskan di mata Arya. Apalagi bibirnya yang ranum dan di olesi dengan lipstik terlihat begitu menggoda,membuat Arya hanya bisa menahan hasratnya yang menggebu.
"Ah sial,kenapa Tiara semakin di perhatikan semakin menggemaskan," gumam Arya dalam hati.
"Mas Arya kok jadi bengong begitu,pasti lagi mikirin cewek lain." Tuduh Tiara cemberut.
"Sok tahu,aku itu lagi mikirin kamu!" ungkap Arya jujur.
Tiara tersenyum mendengarnya,dia menganggap apa yang dikatakan Arya tadi hanya lelucon saja.
"Ayo,aku sudah sangat lapar," ajak
gadis itu tanpa memberi Arya kesempatan untuk bicara,dia langsung menarik lengan suaminya dan mengajaknya untuk segera ke tempat parkiran. Kalau di perhatikan mereka serasi juga,tidak sia-sia Arya memenuhi keinginan sang mama untuk menikahi Tiara,dia tidak hanya cantik tapi baik dan juga penuh kasih sayang.
Saat menuju parkiran mobil,Tiara masih memegang tangan Arya dengan eratnya,seolah-olah dia tidak mau Arya jauh-jauh darinya.
Ketika beberapa langkah lagi mereka akan sampai di didepan mobilnya,tiba-tiba...
"Bruk.!!!"
Tiara yang tidak berhati-hati tanpa sengaja menabrak seorang lelaki,bapak-bapak itu mengenakan jas berwarna abu-abu dan memakai kacamata,karena tabrakan Tiara tadi membuat map yang di pegangnya jatuh ketanah,dan lembaran-lembaran putih itu menjadi berserakan di depan mereka.
Dua laki-laki yang di duga Tiara sebagai bawahannya segera datang dan membantu memunguti lembaran-lembaran kertas putih yang berjatuhan itu.
Tiara juga ikut membantu sambil terus meminta maaf.
"Maaf pak,saya tidak sengaja," ucap Tiara,dia sangat malu saat itu.
"Tidak apa-apa nak," jawab lelaki itu lembut.
Tiara menatap suaminya yang hanya berdiri mematung dan melihat saja tanpa ikut membantu,Tiara memberi isyarat kepada Arya,menyuruhnya untuk membantu,tapi cowok itu ogah-ogahan aja.
"Sekali lagi saya minta maaf pak,saya benar-benar tidak sengaja," pinta Tiara lagi.
"Iya,tidak apa-apa. Saya tahu kamu tidak sengaja." Lelaki itu menjawab cepat,sekarang matanya mulai memandang wajah Tiara,dan Tiara juga sama,menatap wajah bapak-bapak yang tak sengaja di tubruknya itu,dia seperti mengenalnya.
"Papa...???"
__ADS_1