
"Kenapa kamu tidak suka dengan Melisa?" tanya Andika penasaran,dia sama sekali tidak tahu alasan sang istri tidak menyukai iparnya sendiri.
"Entahlah An,aku sendiri juga tidak tahu kenapa," jawab Olivia,dia tidak ingin mengatakan alasannya kepada Andika,biarlah itu menjadi sebuah rahasia.
Beberapa bulan setelah Ardian menikah dengan Melisa,dia sempat mendengar Melisa bicara ditelepon dengan seseorang,dan mengatakan bahwa dia akan secepatnya mengambil alih harta suaminya,meski Olivia mendengarnya dari jarak jauh,namun suaranya sangat jelas. Jadi,bagaimana mungkin dia mengatakan hal ini pada orang lain,sedangkan dia tidak punya bukti sama sekali.
"Kamu melamun lagi," tegur Andika,membuat Olivia tersadar dan kembali fokus dengan suaminya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu Andika," ucap Olivia,dia terlihat serius sekarang.
"Tentang apa?"
"Aku hamil!"
"Deg...!" jantung Andika berdetak kencang,dia panik tapi juga senang,jujur saja dia memang sangat ingin memiliki seorang anak. Namun,pernikahannya dengan Olivia bukan karena berdasarkan cinta,semua itu dilakukan hanya agar dia bisa mengambil harta istrinya,dan setelah rencananya berhasil dia akan meninggalkan Olivia dan melanjutkan hidupnya dengan Melisa,kekasihnya.
Tapi,sekarang Olivia hamil,dan anak yang ada di dalam rahimnya adalah anak kandungnya sendiri,apa yang harus dilakukannya sekarang,kalau Melisa tahu dia pasti akan marah.
"Kamu terlihat tidak senang," ucap Olivia,saat tidak ada respon apapun dari Andika.
"Sebaiknya kabar baik ini kita rahasiakan dulu sama mama,jangan sampai ada orang yang tahu."
"Bagaimana aku bisa terus menutupi hal ini Dika? Usia kandungan aku sudah hampir dua bulan,aku sudah cek ke dokter tadi," ungkap Olivia.
"Apa...?" mata Andika melotot lebar,seperti hendak keluar dari pupilnya,dia dibuat syok dengan kabar dari istrinya,sudah dua bulan tapi Olivia baru mengatakannya sekarang.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang?" tanya Andika kesal.
"Aku juga baru tahu,kemarin aku baru ingat kalau sudah sebulan lebih aku tidak datang bulan,jadi aku mulai merasa curiga dan memutuskan untuk membeli testpack,hasilnya membuktikan aku hamil,tapi aku masih tidak percaya,hingga memilih untuk cek ke dokter,dan ternyata dokter bilang sudah hampir dua bulan,aku saja yang tidak merasakan gejalanya,bukan tidak,mungkin belum." Tutur Olivia menjelaskan secara rinci.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu,nanti saja beritahu mama tentang kabar baik ini," usul Andika. Jelas saja keputusannya membuat Olivia heran.
"Kenapa juga kita harus menutup-nutupi hal ini dari mama,bukankah kalau mama tahu mama akan sangat senang?"
Mengahadapi pertanyaan Olivia membuat Andika gelagapan,tidak tahu harus menjawab apa,karena yang dia ingin sembunyikan bukanlah dari ibu mertuanya,melainkan dari Melisa,dia tidak ingin Melisa marah-marah kepadanya yang pada akhirnya berimbas kepada Olivia sendiri,dia takut Melisa akan berbuat sesuatu yang nekat jika mengetahui kabar tentang kehamilan Olivia.
"Aku sudah sangat ngantuk,tidur yuk! Besok aku juga ada rapat penting dengan klien," ucap Andika,dia tidak menjawab pertanyaan Olivia,sengaja menghindar dengan alasan sudah ngantuk.
"Jawab dulu pertanyaan aku!" rengek Olivia,namun Andika masih tidak menjawabnya,dia malah memeluk tubuh istrinya,dan memejamkan matanya sambil berucap "Kamu bawel banget."
Olivia hanya bisa pasrah melihat mata suaminya yang sudah terpejam,sepertinya Andika sudah benar-benar tidur.
\*\*\*
"Tolong bawakan map yang berisi kontrak kerja kita dengan perusahaan pak Andre!" perintah Arya penuh wibawa,gini nih sikap dia kalau lagi kerja,mukanya itu pasti serius banget.
"Ini Ar,aku sudah memeriksa semuanya,nggak ada yang aneh sama sekali," ucap Desi,menyodorkan map yang tadi diminta Arya.
Terus membolak-balikkan lembaran demi lembaran,tidak ada yang aneh,lalu dimana letak kesalahannya?
"Lalu yang mananya yang salah dari kerja sama kita dengan perusahaan ini?" tanya Arya meminta pendapat sahabatnya.
"Sepertinya bukan dengan perusahaan pak Andre deh Ar,aku rasa masalahnya ada pada kakak ipar kamu sendiri," ujar Desi.
"Kamu sangat yakin,kamu punya bukti?" tanya Arya,dia tidak ingin berspekulasi tentang hal ini,yang pada akhirnya akan mempengaruhi posisinya sebagai direktur keuangan.
"Kontrak kerja itu sudah lebih dulu diperiksa oleh kakak kamu sendiri,pak Ardian. Dan setelah itu baru diserahkan kepada direksi,dan mereka setuju untuk menandatangi kontrak,karena memang ini membuat kita memiliki keuntungan yang besar," ucap Desi menjelaskan.
"Sebagai CEO dia sering kali melalaikan tugasnya,aku rasa mama sudah salah memilih orang," tuturnya terdengar kesal.
__ADS_1
"Mama kamu adalah pemegang saham terbesar di perusahaan,jadi dia berhak untuk menentukan siapa yang layak untuk menduduki jabatan tertinggi di perusahaannya," ujar Desi lagi,sambil mengambil kembali berkas yang tadi diberikan kepada Arya.
"Ada berita baru nggak Des,tentang Melisa?" tanya Arya mulai menyelidiki.
"Aku baru saja mendengar dari mama kamu,kalau pak Erick ingin membeli 40% dari saham perusahaan kita," ungkap Desi.
"Lalu apa mama menyetujuinya?"
"Tentu saja tidak,soalnya bu Amara juga sudah melakukan rapat dengan para pemegang saham,dan mereka mengatakan,bisa jadi pak Erick ingin mengambil alih perusahaan ini," jawab Desi.
"Dan aku rasa,Melisa mau menikah dengan kakakku,itu juga dikarenakan dia ingin merebut harta kak Ardian," tambah Arya,dia mengepalkan tangannya dan wajahnya terlihat menahan emosi.
"Itu sebabnya kamu harus lebih berhati-hati lagi,jangan sampai kalian tertipu dengan Melisa dan papanya." Desi mengingatkan.
Niat buruk Melisa sekarang sudah tercium oleh mereka,dan sudah terlihat jelas,meski belum dapat dipastikan secara rinci. Namun,mereka berdua sudah bisa menebak kalau Melisa memang tidak pernah tulus mencintai Ardian,itu hanya sandiwaranya saja,sebuah cara yang dia lakukan untuk bisa mendekati Ardian.
\*\*\*
KEDIAMAN OMA MISKA
"Bagaimana Amara,apa semuanya berjalan lancar?" tanya oma,begitu bu Amara duduk di depannya.
"Semuanya lancar,ma. Tapi,aku sudah mulai kewalahan menghadapi sifat Olivia," adu wanita itu kepada mertuanya.
"Kamu harus sabar sama sikap dia,bukankah dia dari dulu dia memang tidak suka sama Melisa,jauh sebelum Ardian dan Melisa menikah," ucap oma sambil tersenyum hangat.
"Mama tahu kamu sangat merindukan Wijaya,kamu juga merasa berat menjalani semua ini tanpa dia,tapi kamu tetap harus kuat demi anak-anak kamu!" lanjut oma memberi semangat kepada bu Amara,agar beliau tetap kuat dalam menghadapi semua masalah dalam hidupnya.
"Jujur saja ma,aku sudah lelah banget,lelah menghadapi ini semua sendirian,kalau dulu ada mas Wijaya. Dan sekarang aku sendiri,dikelilingi oleh orang-orang yang berhati jahat,aku sendiri tidak tahu mana kawan mana lawan,semuanya terlihat baik di depan,tapi dibelakang siapa tahu? Aku capek,ma," keluh bu Amara,matanya mulai berkaca-kaca menahan kesedihan dihatinya.
__ADS_1
"Mama bisa merasakan apa yang kamu rasakan Amara,mama juga sama,Wijaya adalah anak mama satu-satunya,dan dia harus meninggal dalam kecelakaan itu,jasadnya bahkan tidak ditemukan sampai sekarang,hancurnya hati mama setiap kali teringat akan kejadian naas itu. Namun,mama yakin Wijaya masih hidup sampai sekarang,hanya saja kita tidak tahu keberadaanya dimana."