Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Setelah pembicaraannya dengan Desi selesai,Arya memutuskan untuk segera pergi menemui Ardian di ruangannya,ruang kerja Ardian berada satu lantai dengan ruangannya,jadi dia tidak butuh naik lift lagi untuk ke sana.


"Arya?" gumam lelaki itu,dia sudah tahu niat Arya datang menemuinya pagi ini,pasti karena masalah tadi,tentang keputusan dia memecat pak Harto.


"Mas Ardi pasti sudah tahu kenapa aku datang kesini."


"Kamu ingin menanyakan alasan kenapa aku memecat pak Harto yang sudah puluhan tahun setia mengikuti papa,dia yang katanya jujur itu dan sekarang kamu lihat sendiri kan apa yang pak Harto lakukan?" ucap Ardian sengit,dia masih marah.


"Lelaki itu punya alasan melakukan semua ini."


"Kamu ingin membelanya?" tanya Ardi,tangannya terus mengetuk-ngetuk meja,itu adalah kebiasaannya yang terjadi saat dia merasa gelisah.


"Mas Ardi sendiri masih merasa ragukan dengan pak Harto,apa benar dia memang memiliki niat untuk menghancurkan perusahaan ini,atau semuanya dilakukan karena ada yang mengancam," Arya berkata sinis,dia memandang wajah kakaknya itu,dan kemudian matanya berpindah melihat jemari Ardian yang masih mengetuk meja. Ardian memang gelisah.


"Jangan sok tahu!" dia menyangkal omongan adiknya,padahal hatinya memang gelisah,dia tidak percaya kalau pak Harto memiliki niat jahat untuk menjatuhkan perusahaan mereka,hatinya masih tidak percaya,tapi kenyataan memaksanya untuk percaya,bagaimanapun dia bersikeras untuk mempertahankan pak Harto. Tapi bu Amara sudah menyuruh pak Harto agar dikeluarkan dari perusahaanya,dan tidak ada satupun yang bisa menganggu gugat keputusan mamanya.


"Coba berhenti mengetuk-ngetuk meja seperti itu,aku tahu mas Ardian masih tidak yakin,setiap gelisah dan sulit memutuskan suatu perkara selalu melakukan hal ini,jadi jangan berbohong!" lanjut Arya,membuat Ardian terpojok,lelaki itu lupa bahwa sang adik tahu penyebab kebiasaanya itu kambuh. Itu disebabkan suasana hatinya yang tidak stabil.


"Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu,Ar." Ujar Ardian mulai menyunggingkan senyumnya.


"Om Leon,tentang lelaki itu apa mas tidak pernah sekalipun merasa curiga?" Arya bertanya tentang pendapat kakaknya.


"Kalau kamu bertanya sama aku Ar,mungkin aku akan menjawab tidak pernah sekalipun mencurigai om Leon,seandainya aku tidak menemukan foto ini." Ardian menunjukkan foto pak Leon yang saat itu sedang bertemu dengan pak Broto,orang yang akan berinvestasi di perusahaan mereka.


"Siapa lelaki ini?"

__ADS_1


"Ini pak Broto,dia seorang investor yang akan berinvestasi di perusahaan cabang,tapi apa kamu tahu kalau om Leon mencoba menarik pak Broto agar mau berinvestasi di perusahaan pak Erick.?"


Arya tercengang mendengarnya,akhir-akhir ini dia selalu saja mendapat kabar yang sangat mengejutkan,membuat jantungnya berdetak kencang dan kepalanya nyut-nyutan. Ujung-ujungnya dia jadi pusing tiap kali pulang kerja.


"Hufhh." Arya menghempaskan nafasnya dengan kasar,pikirannya semrawut, "Pak Erick itu bukannya ayah mertua mas Ardian sendiri?"


"Iya,itu yang membuat aku bingung,dan mungkinkah Melisa juga tahu mengenai hal ini,aku akan merahasiakan ini dulu,cukup kita berdua saja yang tahu." Ucap kakaknya,wajahnya kembali tenang tidak seperti tadi.


"Apa mas Ardi juga merasa curiga dengan mbak Melisa?" akhirnya pertanyaan yang disimpannya berbulan-bulan itu keluar juga,awalnya Arya tidak berani menanyakan sesuatu yang sangat pribadi seperti itu,takut Ardian tersinggung,tapi rasa penasarannya tak bisa dibendung terus.


"Iya," dia menjawab singkat,namun jawabannya sudah membuat Arya cukup puas.


"Banyak sekali permasalahan di keluarga kita mas,mulai dari jasad papa yang tidak ditemukan,mbak Yuna yang menghilang tanpa jejak,orang-orang yang tiba-tiba berbalik ingin menjatuhkan kita,semuanya datang bertubi-tubi,bahkan belum ada satupun yang terpecahkan." Ucap Arya,dia sudah lama tidak bicara banyak hal dengan kakaknya,hubungan mereka sedikit renggang setelah Ardian menikah dan begitu juga yang terjadi dengan Olivia.


"Kita sudah lama tidak bicara se akrab ini,Ar," gumam kakaknya,dia menatap sang adik penuh arti,Ardian baru menyadari bahwa banyak sekali momen yang terbuang setelah kepergian papanya,mama yang jarang di rumah karena harus mengurusi beberapa bisnis mereka yang lain,dia dan Olivia yang sering berbeda pendapat,yang pada akhirnya menciptakan perang dingin antara mereka berdua.


"Setelah masalah ini selesai kita akan berbicara dengan puas," jawab Ardian memberi kepastian.


"Kalau kita tidak bicara saat ini,maka satu masalah pun tidak akan selesai." Ucap Arya mencoba membuat kakaknya paham akan maksudnya.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" kini Ardian mulai tertarik dengan arah pembicaraan mereka.


"Aku akan menyelesaikan satu persatu masalah ini,pertama sekali aku akan membongkar tentang kematian Yuna."


Tubuh Ardian bergetar saat mendengarnya,tentang Yuna... Dia memang tidak pernah peduli dengan para pelayan dirumahnya,dia bahkan tidak pernah mau tahu pelayan mana yang sudah diganti,karena semua yang merekrut para pelayan di rumah adalah mama mereka,dan dia tidak ikut campur dengan hal begituan.

__ADS_1


Tapi Yuna berbeda dari pelayan yang lainnya di rumah mereka,cara dia berbicara dan sopan santunnya membuat orang sangat senang kepadanya,dan sekarang Ardian baru menyadari ternyata Yuna tidak pernah kabur dari rumah mereka,melainkan dia sudah mati,tapi siapa yang membunuhnya?


"Kenapa mas Ardian terdiam begitu lama,mas Ardi pasti baru sekarang mengingat Yuna lagi,kan?" tebak Arya,Ardian masih bungkam,dia akui perkataan Arya memang benar,dia baru sekarang mengingat Yuna.


"Apa dia memang dibunuh?"


"Iya,dan yang menjadi tersangka adalah...


"Derrrtt..!!!" handphone Arya tiba-tiba bergetar,membuat ucapannya terjeda,padahal tadi dia ingin mengatakan kalau Andika dan Melisa adalah orang yang berhubungan dengan kematian Yuna.


"Siapa,Ar?" tanya Ardian penasaran.


"Mama mas."


"Coba diangkat siapa tahu penting!" suruh Ardian,dan perasaan Arya mulai tak enak,dia menjadi khawatir.


"Ya hallo ma,ada apa?"


Terdengar suara ribut-ribut diseberang sana,dan mamanya juga seperti orang yang sedang kalang kabut. "Ar,buruan pulang! Tiara jatuh dari tangga,kepalanya terbentur cukup keras," informasi mengejutkan itu sudah sukses membuat jantungnya kembali berdegup kencang,Arya terdiam sesaat,benda pipih yang tadi menempel di telinganya kini perlahan-lahan merosot turun,tangannya juga ikut lemah.


"Kenapa Arya?" Ardian ikutan panik saat melihat tatapan sedih adiknya. "Mama nggak kenapa-napa,kan?" lanjutnya bertanya.


"Bukan mama,tapi Tiara mas,dia jatuh dari tangga" pungkasnya.


Arya pulang dengan tergesa-gesa,dia menitipkan semua pekerjaannya sama Desi. Desi ingin ikut,tapi,Arya mencegahnya. Dia mengatakan bahwa sudah tak ada lagi orang di perusahaan yang bisa dipercaya selain Desi,jadi Desi harus tetap berada di sana dan mengawasi semuanya dengan baik.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2