
Arya kembali ke rumahnya setelah obrolannya dengan oma selesai. Rumah mewah bak istana itu terlihat sangat sepi hari ini,hanya ada tiga pelayan yang terlihat mondar-mandir sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Di ruang tengah,bu Amara sedang duduk santai sambil menonton siaran TV.
"Kamu pasti ke rumahnya oma,ya?" tebak sang mama,begitu melihat putranya lewat.
"Iya ma,kok mama tahu?" tanya Arya heran.
"Tadi mama sempat lihat kamu membuka gerbang belakang yang mengarah ke kediamannya oma," jawab bu Amara.
"Oh..." hanya itu saja kata yang keluar dari mulutnya,ia kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya,ingin segera mandi dan pergi keluar untuk bertemu dengan sahabatnya.
"Tiara sakit,sebaiknya kamu bawa dia ke rumah sakit!" suruh mamanya,tanpa mengalihkan pandangan dari sinetron yang tengah ditontonnya.
"Mama kan ada,mama saja yang bawa!" ucap Arya cuek.
"Kamu kan suaminya,sudah jadi tanggung jawab kamu untuk mengurusi dia,kenapa harus mama?"
"Yang menyuruh aku untuk menikahi dia kan mama,jadi tanggung jawab mama untuk mengurus dia kalau terjadi sesuatu sama dia," jawab Arya ketus.
"Dia dia dia... Dia itu punya nama,Arya!"pekik bu Amara,marah dengan sikap anaknya.
"Terserah mama!" pungkasnya sambil berlalu pergi.
\*\*\*
Melihat Arya yang sudah kembali,Tiara segera bangun dari tidurnya,meskipun keadaannya sangat lemah.
__ADS_1
"Kalau sakit ya tidur saja,jangan sok kuat yang ada entar nyusahin aku," ucapnya,wajah Arya terlihat tidak senang saat mengatakannya,tapi dalam hatinya dia itu cukup peduli sama Tiara,rasa itu sudah tumbuh mungkin dia saja yang belum menyadarinya.
"Mas,mau tidak mengantarkan aku pulang ke rumah ibu?" tanya Tiara berharap.
"Aku ada janji sama teman," jawabnya singkat. Tidak perlu menjawab mau atau tidak,sudah jelas dia memang tidak mau mengantarkan Tiara bertemu ibunya,benar-benar pria berhati dingin.
Mendengar jawaban Arya. Tiara merasa kecewa,dia kembali berbaring dan dia tidak memaksa suaminya,tidak juga meminta dua kali,cukup meminta sekali saja dan itupun ditolak mentah-mentah.
"Aku harus bisa bertahan,mempertahankan hubungan ini untuk beberapa bulan ke depan,jika memang tidak ada perubahan sama sekali maka aku harus meminta ibu untuk mengakhiri semuanya," batin Tiara dengan tekadnya yang sudah bulat.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda,Ardian dan Melisa sedang duduk berdua di sebuah rumah mewah,kelihatannya mereka akan membeli rumah tersebut.
"Aku suka suasana di sini sayang." Ucap Melisa tersenyum bahagia.
"Baguslah kalau kamu suka."
"Tapi,tidak kah rumah ini terlalu besar untuk kita berdua?" tanya Melisa sambil memutar bola matanya melihat ke sekeliling ruangan.
"Memberikanmu anak? Aku sama sekali tidak menyukaimu,Ardi!" ucap Melisa dalam hatinya.
"Tapi,sampai sekarang pun kamu belum hamil juga." Ardian terlihat kecewa.
"Belum rezekinya kita sayang,kamu harus sabar," hibur Melisa.
Setahun lebih dia menikah dengan Ardian tapi belum juga memiliki anak,dia sendiri memang sebenarnya tidak ingin memiliki anak dari Ardian,karena yang dicintainya adalah Andika,dia menikah dengan Ardian karena dia hanya ingin mengambil semua harta lelaki itu.
"Mungkin ada yang salah dengan kita berdua,sebaiknya kita cek sekali lagi ke dokter!" usul suaminya.
__ADS_1
"Nggak ada yang salah sayang,kamu kan dengar sendiri apa yang dikatakan dokter,kita ini sama-sama sehat,subur,mungkin belum rezekinya kita,kita harus tetap sabar menunggu." Ucap Melisa seraya merebahkan kepalanya dibahu suaminya. Ardian membelai lembut rambut Melisa,dia tidak tahu bahwa selama ini istrinya itu tidak pernah mencintainya,semuanya hanya sandiwara dia tidak pernah serius dengan pernikahannya.
"Aku akan membeli rumah ini,karena kamu juga menyukainya,tapi akan kah mama mengizinkan kita untuk keluar dari rumah itu?" Ardi tidak yakin.
"Kita coba tanya sekali lagi sama mama,semoga saja kali ini mama mengizinkan kita untuk tinggal di rumah kita sendiri,bagaimanapun juga kita kan sudah berumah tangga,punya keluarga sendiri,tidak mungkin juga terus tinggal satu rumah sama mama. Dan di sana juga ada Olivia." Ucap Melisa.
"Kamu benar,aku akan berusaha membujuk mama," pungkas Ardian.
Dan seandainya bu Amara menyetujuinya,maka ini akan membuat rencana Melisa semakin berjalan lancar,karena dia memang sengaja ingin tinggal terpisah dengan mertuanya,supaya tidak ada yang bisa memantau gerak geriknya.
\*\*\*\*
"Plak...!" satu tamparan mendarat diwajah halusnya Mauren,dia meringis menahan sakit.
"Kamu masih ingin bermain-main dengan perjodohan ini,hah?" bentak sang ayah.
"Ayah... Mauren nggak suka sama Marvel,dia itu pria egois," ungkap Mauren sambil menangis.
"Jangan mencoba untuk mencari alasan,ayah sudah berusaha untuk sampai dititik ini,dan sekarang keluarganya Marvel sudah mau menerima kamu sebagai menantunya,tapi kamu malah ingin memutuskan pertunangan ini begitu saja!" teriak pak Doni yang membuat putrinya sangat ketakutan.
"Ayah,please... Hentikan semua ini! Aku bisa cari pria lain yang lebih baik,kita batalkan perjodohan ini,aku tidak mau jadi istrinya Marvel,dia itu suka main tangan sama perempuan," adu Mauren,namun pak Doni tetap pada pendiriannya,beliau tidak mau menanggung malu karena memutuskan pertunangan itu,semua sudah terlanjur dilakukan.
"Mauren dengarkan ayah! Semua sudah terlanjur,dan ayah melakukan semua ini juga bukan untuk ayah sendiri,ini untuk kamu,untuk masa depan kamu! Marvel itu bisa menjamin kehidupan kamu agar lebih baik kedepannya." Ucap pak Doni,berusaha membuat anaknya mengerti.
"Ayah lebih mementingkan bisnis ayah sendiri,ayah sama sekali tidak mau mengerti tentang perasaan Mauren,ayah egois!" teriak Mauren diakhir kalimatnya,dia pergi dari hadapan ayahnya dengan berlinang air mata.
Pak Doni menatap hampa kepergian anaknya,beliau tahu dirinya egois,tapi mau bagaimana lagi,perusahaan mereka sedang dalam masalah,tanpa bantuan dari papanya Marvel maka bisa jadi perusahaan yang sudah puluhan tahun dikelolanya tumbang begitu saja.
__ADS_1
"Kamu di mana Ar? Aku rindu," lirih Mauren,dia sendiri dikamarnya,sambil terus memandang foto Ardian,lelaki yang sangat dicintainya,lelaki yang sudah mengambil hatinya,dan kemudian pergi begitu saja setelah membuatnya jatuh cinta terlalu dalam.
"Ini sangat menyakitkan Ar,coba saja hari itu aku mengatakan perasaan aku duluan sama kamu,mungkin kamu tidak akan pergi,sampai sekarang aku masih mencintai kamu,andai saja kita bisa bertemu kembali,tapi apa itu mungkin?" Mauren kembali membayangkan masa-masa indahnya bersama Ardian,mereka sangat akrab seperti sepasang kekasih. Namun tiba-tiba Ardian pergi begitu saja dan meninggalkan dirinya tanpa mengatakan apapun,dan yang lebih menyakitkan adalah dia mencintai Ardian sangat dalam,sedangkan cowok itu tidak tahu sama sekali tentang perasaannya.