Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Hanya Mereka Berdua


__ADS_3

Yang namanya penyesalan pasti datang terlambat,begitulah yang dirasakan Marvel sekarang,dia hanya bisa menyesali semuanya,keegoisannya yang tidak pernah mau peduli dengan kehidupan adiknya.


Dia menyesal dan menangis pilu,Melisa memang bersalah. Tapi,semua ini terjadi juga karena perbuatan papanya,kalau saja papanya tidak membunuh ibunya Melisa,mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.


Cerita ini tidak akan berakhir tragis,dia terduduk lemas di tepian jurang,air matanya jatuh tanpa bisa dibendung.


Arya juga sama,dia terus menatap ke dasar jurang,tak terlihat tubuh Tiara ada di sana,mereka tidak bisa melihat apapun selain semak belukar yang tumbuh di tepi jurang


Yang ada dipikiran mereka sekarang adalah,apa mungkin Melisa dan Tiara masih bisa selamat?


Pak Wijaya sudah tiba di sana,lelaki itu datang bersama pihak kepolisian,empat anak buah Melisa tadi sudah di urus oleh pihak yang berwajib,dan sekarang mereka hanya bisa menunggu tim SAR untuk mencari Tiara dan Melisa.


Pencarian tidak bisa dilakukan hari itu juga,karena hari sudah menjelang malam dan mereka juga jatuh ke jurang yang sangat dalam.


Terpaksa harus menunggu hingga esok pagi,dan di sana mereka mulai mendirikan tenda.


---


Ketika membuka matanya Tiara terkejut karena dia sudah berada ditempat yang sangat gelap,penuh dengan pepohonan.


Dia menatap langit,kejadian beberapa jam lalu masih jelas terbayang di ingatannya.


"Apakah aku sudah mati?" dia bertanya pada dirinya sendiri.


Yang bisa dilihatnya saat ini hanyalah langit dengan sinar rembulan yang sangat indah.


"Perih,tubuhku sakit." Dia menangis,tapi tak bersuara.


"Mbak Mel!" Tia berusaha mencari keberadaan Melisa,Tiara baru ingat kalau tadi dia jatuh kesana berdua dengan Melisa,dan sekarang Melisa pasti berada didekatnya.


Tiara mulai menggerakkan tubuhnya yang sudah terluka itu,tangannya,kakinya bahkan kepalanya penuh dengan goresan-goresan dan keningnya terus menerus mengalir darah.


Dia tidak sempat memikirkan keadaannya sendiri,yang ada dipikirannya saat ini hanya Melisa,apalagi perempuan itu sedang mengandung.


Tiara terus merangkak mencari keberadaan Melisa,dan ternyata Melisa berada di bawah kakinya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Tiara,ketika melihat sebuah kayu kecil sedikit runcing menancap di paha Melisa,baju Melisa juga sudah koyak dibagian bawah perutnya.


Pemandangan yang miris,membuat tangis Tiara tumpah,dimalam yang gelap gulita itu dia hanya berdua dengan Melisa dan ditemani dengan suara jangkrik yang bersahut-sahutan.


"Mbak!" tangisnya pecah.


"Mbak,bangun! Mbak Melisa kita harus bisa keluar dari hutan ini." Ucap Tiara disela tangisnya,dia menggerak-gerakkan tubuh Melisa supaya Melisa sadar.


Tangan Melisa bergerak,matanya mulai terbuka. Dia tersenyum melihat Tiara duduk sambil memangku kepalanya.


"Jangan menangis Tia,kita masih hidup." Lirihnya parau.


"Mbak,bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tubuh Mbak Mel terluka parah. Dan kayu kecil ini,bagaimana aku bisa menariknya?" Berbagai macam pertanyaan terus keluar dari mulutnya,dia menangis pilu.


"Kamu terlalu banyak ngoceh,aku juga tidak akan langsung mati." Ucap Melisa bergurau,dia


sedikit tersenyum.


"Ini pasti sangat menyakitkan."


"Ini tidak terlalu menyakitkan Tiara,hati aku lebih sakit." Melisa tersenyum pahit.


"Mbak,kepalamu juga terluka." Tiara menyentuh luka itu dengan tangannya,wajah Melisa mungkin tidak jauh beda dengan wajahnya saat ini,sama-sama terluka dikeningnya.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku,seharusnya yang perlu kamu khawatirkan adalah diri kamu sendiri." Ucap Melisa.


"Aku tidak terluka seperti mu,mbak. Kau sedang hamil bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan janin mu?" pertanyaan Tiara membuat Melisa terdiam sejenak.


"Dia mungkin sudah tidak bernyawa lagi." Melisa memperlihatkan darah yang mengalir dibagian perutnya.


Tiara hampir menjerit karena takut,dia tidak menyadari itu,ternyata tidak hanya di pahanya kayu kecil itu menancap,tapi di perutnya juga.


Apakah lukanya dalam? Bisakah Melisa bertahan? Ini membuat Tiara semakin sedih.


Melisa mulai terlihat pucat,dia menggigil kedinginan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang,Tiara langsung membuka baju luarannya,dan sekarang tubuhnya hanya berbalut tank top saja,dia tidak peduli sama sekali dengan dirinya yang saat itu juga merasa kedinginan.


Melisa lebih membutuhkan baju itu agar tetap hangat.


"Kenapa memberikan baju ini kepada ku,Tia? Mungkin aku akan segera mati,jadi biarkan saja aku mati." Ujar Melisa,kata-kata yang dia ucapkan membuat Tiara berkaca-kaca.


"Jangan bicara seperti itu mbak,kita pasti akan selamat,kita berdua akan keluar dari sini," dia memberi semangat.


"Malam ini langit begitu indah," ucap Melisa sambil memandang kelangit,dia lanjut berkata


"Mungkin malam ini adalah malam terakhir aku melihat keindahan langit malam seperti ini."


"Mbak tidak ingin memperbaiki semuanya? Mbak sudah tidak ingin hidup lagi? Apa Mbak tidak ingin hubungan mbak dan mas Ardian kembali seperti dulu?" pertanyaan Tiara tidak tanggung-tanggung,sekali bertanya,tiga pertanyaan dia lontarkan.


"Dia sudah menemukan cinta sejatinya,Tia. Dan aku sudah tidak mungkin kembali kepada Ardian,aku sudah mengkhianatinya,dia pasti sangat terluka dan kecewa sama aku." Lirih Melisa.


Sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Melisa,Tiara lanjut bertanya, "Lalu bagaimana dengan mas Marvel? Apa mbak tidak ingin bertemu lagi dengan dia dan meminta maaf sama mas Marvel dan mbak Mauren?"


"Aku memang ingin sekali meminta maaf sama mereka,aku ingin menyampaikannya langsung. Namun,melihat keadaan yang seperti sekarang,aku sendiri tidak yakin. Kalau kamu bisa keluar dengan selamat dari sini,tolong sampaikan permintaan maaf aku kepada mereka berdua dan kepada Ardian. Katakan padanya,dia adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui,dia penuh cinta dan kasih sayang,hanya aku saja wanita bodoh yang tega menyia-nyiakan lelaki sebaik dia." Pungkas Melisa,suaranya mulai terdengar lemah.


Melisa terbatuk-batuk,dan itu membuat Tiara semakin panik.


"Mbak,sudah! Jangan banyak bicara lagi,aku tidak mau hal yang lebih buruk terjadi sama mbak." Ucap Tiara panik.


"Kalaupun harus mati sekarang aku sangat senang,sebab,di sisa-sisa terakhir hidupk ini aku memiliki teman disisiku,setidaknya aku tidak sendirian dan kesepian."


Tiara terus menangis mendengar kata-kata Melisa.


"Kau tahu Tiara,dari kecil aku tidak pernah disayang papa,hanya mama yang tulus menyayangi aku. Hingga membuat kak Marvel menjadi iri dan dia tidak peduli dengan keadaanku. Aku pikir mama adalah ibu kandungku,ternyata bukan,dia hanya ibu tiri. Ibu kandungku sudah dibunuh oleh papaku sendiri."


"Aku benci dengan papa,hanya karena ingin menutupi pernikahan keduanya,dia tega menghilangkan nyawa ibuku." Curhat Melisa,kisah hidupnya ternyata tak seindah yang dibayangkan,dia melewati begitu banyak masa sulit,dan sekarang berakhir seperti ini.


Tiara diam mendengarkan,dia ikut merasakan kesedihan hati Melisa.


"Kamu tidak perlu mengeluarkan kata-kata untuk menyenangkan hati aku,diam dan dengarkan saja itu sudah cukup." Tambah Melisa.

__ADS_1


Melisa melepaskan cincin yang melingkar dijemarinya,dia memberikan cincin itu kepada Tiara.


Untuk apa? Tiara mulai bertanya-tanya.


__ADS_2