Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Rindu Ibu


__ADS_3

Arya datang menemui Tiara yang masih duduk diluar balkon,sambil terus menatap lurus ke depan,pandangannya kosong.


Dia tidak tahu kalau Arya sudah berada dibelakangnya.


"Kenapa kamu malah menyendiri disini,Tiara?" Arya berjalan menghampiri istrinya.


"Eh,ada Mas Arya." Tiara buru-buru menghapus air matanya,dia tidak mau Arya tahu kalau dirinya sedang menangis.


"Kamu kenapa?" Arya duduk di samping Tiara dan menatap wajahnya.


Tiara membuang wajahnya,berusaha menghindari tatapan Arya,perasaannya deg-degan.


"Kamu habis nangis?"


"Em... enggak kok." Jawab Tiara,masih tidak menatap Arya.


Cowok itu memegang erat wajah Tiara dan menyuruhnya untuk tidak melihat kearah lain.


"Jangan menghindar! Tatap aku,kamu barusan menangis,kan?" tanya Arya menyelidik.


Arya tahu Tiara menangis,tapi tidak tahu alasannya kenapa.


"Aku lagi bahagia saja mas,aku menangis karena bahagia." Jawab Tiara berbohong.


"Bohong! Jelas saja ini bukan tangis bahagia,mana ada orang bahagia duduk menyendiri disini,kamu pasti lagi sedih." Ucap Arya,tidak percaya dengan omongan Tiara.


"Katakan! Kamu sedih kenapa,em?" tanyanya lembut.


"Aku mau pulang,mau ketemu ibu."


"Hiks!!!" dia menangis dan langsung menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Arya.


"Kalau kamu mau pulang ketemu sama ibu,kan kamu bisa bilang,nggak perlu nangis kayak gini." Ucap Arya mengusap penuh sayang rambut istrinya.


"Tapi kamu selalu sibuk,nggak punya waktu."


Arya menghapus air mata Tiara,dan kembali membawanya dalam pelukan. "Lain kali kalau ada apa-apa bilang,jangan nyimpen sendiri,entar dikirain akunya yang nggak peka." Ujar Arya lembut.


"Kok mas jadi sewot gitu?" Tiara kesal,dia melepaskan pelukan Arya begitu saja,dan melangkah masuk kedalam.


"Lho,kok aku dibilang sewot? Dimana nya yang sewot coba,tadi nangis,sekarang malah marah nggak jelas sama aku." Arya jadi bingung sendiri.

__ADS_1


Tiara menghentakkan kakinya dengan kesal dilantai.


Kayaknya lagi datang bulan deh,makanya sikapnya kayak begitu.


Arya juga ikut bangun dan mengikuti Tiara dari belakang,dan dia tidak lupa menutup pintu yang mengarah ke balkon,


Begitu tiba di kamar,Arya kembali berkata. "Mulai besok mbak Oliv tidak akan tinggal disini lagi."


"Mbak Oliv mau pindah rumah?" Tiara merespon cepat.


"Dia sudah membeli sebuah rumah di daerah perkampungan,katanya mau tinggal berdua saja sama Andika."


"Kapan mas Andika di bebasin?"


"Hari ini! Papa sudah mengurus semuanya,pak Erick dan om Leon juga sudah ditangkap,hanya tinggal menunggu mbak Melisa keluar dari tempat persembunyiannya." Ujarnya bercerita.


Arya sekarang mulai naik keatas tempat tidur,dan duduk lebih dekat dengan Tiara. Tiara tidak menghindar sama sekali,dia malah santai saja.


Dia tidak tahu kalau Arya sedang mencari-cari kesempatan untuk menggodanya.


"Bukankah kalau mbak Oliv keluar dari rumah ini,itu akan membuat mbak Mel lebih mudah mencelakai mbak Olivia?" tanya Tiara bingung.


"Kamu memang benar,Tia. Tapi,papa sudah setuju dengan keputusannya mbak Oliv,kalau mbak Olivia pindah dari sini,itu akan membuat Melisa keluar dari tempat persembunyiannya,jadi kita dengan mudah bisa menangkapnya." Tutur Arya menjelaskan.


"Yaps,pintar sekali!" dia mencubit gemas pipinya Tia.


Di detik berikutnya,tangan Arya mulai bergerak melingkari pinggangnya Tiara.


Tiara memelototinya,dia segera menepis tangan Arya,selalu seperti itu.


"Mencari kesempatan dalam kesempitan,mula-mula dipinggang,lama-lama itu tangan meraba kemana-mana." Celetuk Tiara,melihat Arya dengan tatapan kesal.


"Sudah sah,nggak berdosa juga kan?"


Mendengar kata dosa Tiara tersadar,kalau dibilang dosa sudah pasti dirinya yang berdosa karena tidak mau melayani suaminya sendiri.


Tapi apa boleh buat,dia masih membutuhkan waktu,masih tersisa tiga bulan lagi,dan itu tidak akan lama,Arya juga sudah bilang kalau dia akan menunggu.


"Jangan bicara soal dosa!"


"Ya,kamu pasti takut,karena disini kamu yang berdosa sebab tidak mau melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri." Ucap Arya,dia tidur berbalik memunggungi istrinya,sengaja berkata seperti itu untuk membuat Tiara takut.

__ADS_1


"Mas marah,ya?" sekarang Tiara jadi takut beneran.


"Benar sekali,kalau dipikir-pikir memang aku yang lebih berdosa,a-aku sangat berdosa,apa yang harus aku perbuat sekarang,Ya Allah Tiara belum siap,ini sangat sulit bagi aku. Aku belum siap." Batin Tiara mulai gelisah.


"Pikirkan saja dosa-dosamu itu!" ucap Arya dia kembali menakut-nakuti.


"Maafkan Tiara,jangan marah dong!" Tiara tidur dan memeluk Arya dari belakang,memaksa Arya untuk berbalik arah dan menatap dirinya.


Dalam hati,Arya tertawa cekikikan melihat tingkah Tiara.


"Mas..." rengek Tiara. Tapi,Arya masih tidak mau menatapnya.


"Mas Arya lihat aku! Jangan kayak gini,kita kan sudah sepakat,kok sekarang mas jadi bicara kayak gitu,sih?" Tiara mulai merasa tidak enak hati.


Arya membiarkan saja Tiara seperti itu,dia malah memejamkan matanya sambil menikmati pelukan hangat istrinya.


°^^  \_\_\_\_^^°


Ardian turun dari mobilnya,dia berdiri di depan rumah Steven,tangannya dengan cepat memencet bel pintu.


Pintu pun segera terbuka,tampak wanita paruh baya yang tak lain adalah pembantu di rumah itu.


"Maurennya ada,bi?" tanya Ardian dengan sopan.


"Owh ada,silahkan masuk dulu,pak Ardian!" ucap bibi mempersilahkan,wanita itu sudah kenal dekat dengan Ardian,karena lelaki itu sudah beberapa kali datang ke rumah Steven.


Ardian masuk kedalam kediaman Steven,pas diruang tengah tatapannya langsung terpaku ke arah Mauren,ternyata Mauren memang sudah menunggu dirinya,dia hanya sendiri dan tidak ada Steven di sana. Mungkin cowok itu masih belum pulang.


"Lama tidak bertemu Ardian,bagaimana kabar kamu?" tanya Mauren membuka topik pembicaraan.


"Alhamdulillah,cukup baik." Jawab Ardian tersenyum senang,dia duduk tepat di depan Mauren. Saat ini dia bahagia,sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Mauren lagi,perempuan yang dulunya sangat dicintainya,tapi dia tidak berani mengungkapkannya,dan Mauren berpikir kalau hanya dia yang mencintai Ardian.


Dan malam ini,Ardian ingin mengutarakan isi hatinya,dia ingin Mauren tahu kalau dia juga pernah mencintai Mauren,dan sekarang Ardian ingin hubungan mereka kembali seperti dulu.


"Kamu sudah tahu dimana Melisa bersembunyi?" lanjut Mauren bertanya.


"Tidak,aku tidak tahu keberadaannya,tapi papa sudah menyusun sebuah rencana dan ini mungkin akan berhasil menarik perhatian Melisa," jawab Ardian. Tatapannya tak lepas dari wajah Mauren,dia terus menatapnya dengan dalam.


Jujur saja,Mauren merasa sangat tidak nyaman,dia jadi risih sendiri.


"Kenapa Ardian menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh malam ini? Apa dandanan ku jelek?" batin Mauren,dia malah memikirkan penampilannya.

__ADS_1


Ingin sekali dia mengatakan pada Ardian untuk jangan menatapnya seperti itu,tapi... ya sudahlah,dia membiarkan saja.


"Memangnya apa rencana kalian?" tanya Mauren penasaran.


__ADS_2