
"Apa yang kamu dengar sebaiknya kamu simpan sendiri,Tia. Jangan memberitahu kepada orang lain,karena itu akan membahayakan dirimu sendiri," ucap Lia mengingatkan.
"Jangan sampai kejadian naas yang menimpa Yuna juga terjadi padamu," tambah Sherina. Mira diam hanya mendengar mereka berbicara. Dia terlihat sangat ketakutan. Apa yang terjadi padanya?
"Mbak Mira..." panggil Tiara saat melihat Mira hanya diam membisu.
"Dia masih syok dengan kejadian beberapa bulan yang lalu," jawab Sherina.
"Kejadian apa?" Tiara semakin ingin mengetahui rahasia yang mereka simpan dengan baik.
"Soal ini hanya kami yang tahu. Kalau kamu ingin nyawamu aman-aman saja,lebih baik jangan mengatakan hal ini pada orang lain," ingatkan Lia pada Tiara sebelum dirinya bercerita.
"Baik mbak, Tiara tidak akan mengatakannya pada siapapun," ucap Tiara meyakinkan.
"Yuna adalah salah satu pelayan yang ditugaskan untuk melayani non Olivia. Suatu ketika dia mendengar pembicaraan den Andika dan nona Melisa tentang rencana mereka yang ingin merebut harta keluarga ini. Yuna buru-buru pergi dari sana dan mengatakannya pada kami,tapi dua hari kemudian dia menghilang begitu saja. Tidak ada yang tahu dia pergi kemana,tapi Mira bilang kalau dia melihat darah berceceran di jalan setapak menuju hutan yang ada di belakang kediaman Nyonya besar," tutur Lia.
"Lalu,mbak yakin kalau darah itu adalah darah mbak Yuna?" tanya Tiara. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Dia merinding mendengar cerita Lia.
"Iya,tidak ada yang tidak mungkin kan. Mereka bisa saja sengaja membunuh Yuna untuk menghilangkan saksi mata atas kejahatan mereka," ucap Sherina.
"Tiara,apakah kamu juga mendengar hal yang sama?" kini Mira bertanya.
Dengan ragu-ragu,Tiara mengangguk. Dia jadi takut saat itu. Tiara mulai berpikir,mungkin hidupnya akan berakhir tragis sama seperti Yuna.
Melihat anggukan kepala Tiara,mereka saling pandang. Mereka sendiri juga tidak berdaya dalam menghadapi masalah ini. Mereka hanya pelayan yang tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk membantu Tiara jika terjadi sesuatu dengan gadis itu. Namun kedekatan mereka dengan Tiara dalam beberapa hari ini sudah membuat mereka menganggap Tiara seperti adik mereka sendiri,adik yang harus dijaga. Bagaimanapun juga mereka tidak ingin nasib Tiara sama dengan Yuna.
__ADS_1
"Kamu benar-benar sudah berada di tepi jurang,Tia," ucap Mira sedih.
"Tapi mbak,mereka tidak tahu kalau aku mendengarnya. Soalnya aku membohongi mereka dengan mengatakan sedang mendengar musik," ucap Tiara sambil menunjukkan headset yang tadi dibawanya.
"Kamu mungkin bisa lolos hari ini,tapi mereka akan terus mengawasi kamu," ujar Sherina.
"Kamu harus bisa mendekati den Arya. Dengan begitu,akan ada orang yang menjamin keselamatanmu,Tia," saran Lia.
"Dia sangat sulit didekati mbak," keluh Tiara murung.
\*\*\*
DI TAMAN YANG SUNYI...
"Tak akan ada yang tahu tentang hubungan kita," desah Andika. Dia memeluk Melisa dengan erat. Melisa membalas pelukannya. Tak disangka Tiara lewat di tempat mereka yang sedang asyik bermesraan. Mereka buru-buru bersembunyi di belakang pohon besar yang ada di halaman belakang.
"Aku rasa tidak,tempat ini sangat gelap,tidak mungkin juga kan dia bisa melihat keberadaan kita di sini," ucap Andika menenangkan.
"Dia kelihatannya baru keluar dari rumah para pelayan deh,Dika."
"Sejak kapan mereka jadi akrab begitu?" Andika tampak penasaran.
"Kita harus berhati-hati sama Tiara. Bisa jadi dia sebenarnya mendengar pembicaraan kita tadi siang," tutur Melisa. Dia tidak ingin rencananya untuk merebut semua harta keluarga Arya terbongkar karena Tiara.
\*\*\*
__ADS_1
Begitu masuk dalam rumah,Tiara mengeluh akan nasibnya yang kurang beruntung hari ini.
"Ya Tuhan,kenapa hari ini nasibku sama sekali tidak beruntung. Sudah dua kali memergoki mereka,tadi siang dan malam ini saat mereka sedang berpelukan. Oh, benar-benar sial!" umpat Tiara dalam hati.
"Kamu ngapain bengong di sana,tutup pintunya!" suruh Arya membentak. Tiara terkejut,dia baru sadar kalau sekarang dirinya sudah berada di kamar.
"Iya mas,sabar kenapa jangan marah-marah terus," ucap Tiara sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Matikan lampunya!" suruh Arya masih sama. Suaranya masih kasar.
"Dia kenapa sih? Apa salahnya coba bicara dengan suara yang sedikit lembut. Aku kan juga punya hati," ucap Tiara dalam hatinya.
"Mas Arya bisa nggak kalau bicara itu suaranya jangan terlalu kasar begitu. Bisa nggak sedikit lembut sama aku!" pinta Tiara,
"Suka-suka aku lah. Kamu kan tahu kalau pernikahan kita ini dilakukan secara paksa. Aku sama sekali tidak menyukai kamu!" jawab Arya marah. Tiara tidak tahu bagaimana wajah Arya sekarang,karena lampu di kamar itu sudah dimatikan.
"Tapi bagaimanapun juga,kita sudah sah menjadi suami istri. Jadi suka nggak suka mas Arya harus bersikap baik sama aku," ucap Tiara, memberanikan diri. Tidak perduli kalau Arya akan marah dengan omongannya,karena menurutnya apa yang tadi dikatakannya itu memang benar.
"Kamu baru dua minggu tinggal di sini,tapi sudah berani bicara seperti itu?" Arya semakin kesal. Dia bangun dan kembali menghidupkan lampu kamarnya,menarik kasar tangan Tiara yang saat itu sudah merebahkan tubuhnya di atas karpet berbulu halus di samping tempat tidur Arya. Tiara yang diperlukan kasar seperti itu sangat terkejut,hingga dia hanya menatap Arya dengan penuh ketakutan.
"Aku minta maaf mas,sudah membuat mas Arya marah. Tidak seharusnya aku bicara seperti itu," desis Tiara sambil menunduk.
"Dengar ya! Sekali lagi kamu mengatakan kalau kamu itu istri aku,aku enggak akan segan-segan buat memukul wajahmu itu!" ancam Arya dengan tatapan penuh kemarahan. Kelihatannya dia serius dengan ancamannya.
"Aku tidak akan mengatakannya lagi,aku janji," ucap Tiara membuang wajahnya ke arah lain. Dia menahan air mata yang sudah hampir jatuh mengalir. Tidak ingin kesedihannya itu terlihat oleh Arya.
__ADS_1
Cowok tersebut kembali naik ke atas kasur untuk melanjutkan tidurnya,sedangkan Tiara hanya bisa menahan kesedihannya.