Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Cinta Pertama Mauren


__ADS_3

"Aku tidak berniat melakukannya,umurku masih sangat muda,belum juga genap 18 tahun."


"Jadi... Maksud kamu aku harus menunggu sampai kamu berusia 18 tahun gitu.?" Arya mengerjabkan matanya,tidak menyangka untuk urusan seperti ini dia juga harus menunggu lagi.


"Tidak akan lama mas,hanya lima bulan lagi." Ucap Tiara.


"Kamu bercanda kan,lima bulan itu waktu yang lama bagi aku,dan lima bulan lagi aku juga sudah berumur 29 tahun." Arya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak boleh begini Tiara," dia melirih lemas.


"Salah sendiri,siapa suruh menikah sama anak kecil!" jawabnya ketus. Ucapan Tiara membuat Arya semakin kesal. Tiara tidak peduli,dia menarik selimutnya dan tidur dengan posisi membelakangi Arya lagi.


"Tidak mau tidak apa,aku juga tidak perlu menunggu terlalu lama,mendingan besok cari pengganti saja. Dan menikah untuk kedua kalinya aku juga tidak masalah. Diluar sana masih banyak gadis-gadis cantik yang mengantri untuk dijadikan isteriku,siapa coba yang tidak mau menjadi istri dari pengusaha kaya,tampan dan gagah seperti aku." Ucap Arya memuji dirinya sendiri. Dia diam sejenak menunggu reaksi Tiara,namun Tiara ternyata tidak peduli sama sekali.


"Arya Wijaya,nama yang tidak asing lagi di telinga para wanita,bahkan mereka seringkali mencoba mendekati aku,sepertinya kesempatan ini bisa aku gunakan untuk mencari yang kedua." Arya terus mengoceh panjang lebar,sengaja memanas-manasi Tiara supaya gadis itu cemburu.


Nyatanya Tia memang cemburu,kupingnya sudah gatal dari tadi karena mendengar omongan ngawur suaminya,ingin nikah lagi? Satu istri saja dia tidak bisa mengurusnya,bagaimana kalau punya dua istri?


"Hentikan omong kosong itu!" ucap Tiara dengan nada sedikit tinggi,dia membalikkan badannya dan tidur menyamping menghadap Arya.


"Ini bukan omong kosong,aku Serius. Kalau kamu tidak percaya akan aku buktikan besok," ancam Arya.


Tiara berpikir mungkin dengan satu kali ciuman dapat membungkam mulutnya yang bawel itu,dan itulah yang ingin dia lakukan.


"Jangan berani-berani melakukan hal itu,dan ingat! Jangan pernah berbicara soal menikah lagi di depanku,aku tidak suka!" tegas Tiara memberi peringatan. Dan setelah itu dia mengecup lembut pipi suaminya. Hanya begitu saja tapi sukses membuat Arya diam,cowok itu diam seribu bahasa,wajar saja dia kan belum pernah sama sekali bersentuhan dengan Tiara.


"Hanya ini? Begini saja? Bisakah kamu memberikan yang lebih?" Arya mulai lagi,dia kembali menggoda Tiara. Tiara tidak menjawab,dia memejamkan matanya dan tidur sambil memeluk tubuh kekar suaminya,dia merasakan kehangatan di sana,Tiara merasakan sensasi yang berbeda,dia sangat nyaman tidur seperti itu.


Arya hanya bisa menatap wajah cantik istri kecilnya itu,hehehe... sepertinya dia memang sudah tergila-gila pada Tiara.


"Huh... Aku harus menunggu selama lima bulan lagi," keluhnya,Arya menelan salivanya yang terasa kelu.


-oOo-


Di Kantor...

__ADS_1


"Mas Ardian tidak pulang?" tanya Steven. Ardian yang saat itu sedang termenung merasa kaget dengan kehadiran cowok itu,spontan aja bolpoin yang dipegangnya dilempar ke arah Steven,syukur cowok itu dengan cepat menghindarinya,kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan wajahnya yang tampan.


"Kamu datang kayak jelangkung aja,nggak ada permisi-permisinya,lain kali ketuk pintu dulu.!"


"Sudah kebiasaan." Jawabnya santai,dia menyandarkan tubuhnya di atas sofa yang ada diruang kerja Ardian,terasa begitu nyaman.


"Kebiasaan kamu nggak ada bagusnya."


"Jadi pulang nggak? Atau mau tidur disini?" Steven bertanya lagi.


"Tidur disini juga tidak masalah kan,lagi pula ruang kerjaku juga cukup luas," jawab Ardian dengan tatapan matanya yang kosong.


"Jangan bilang kalau mas Ardian masih berharap Melisa kembali dan mengakui kesalahannya," tebak Steven.


"Berhenti menyebut nama perempuan itu! Aku sudah muak mendengar namanya,sekalipun dia mati aku juga tidak peduli," ucapnya penuh kebencian.


"Kamu tidak perlu semarah itu,tenang saja aku tidak akan menyebut namanya lagi."


"Aku disuruh sama Mauren untuk melihat keadaan mu," jawabnya jujur,padahal Mauren sudah berpesan agar tidak menyebut namanya di depan Ardian untuk saat ini. Tapi Steven sangat penasaran,dia tidak mendengarkannya sama sekali,Steven hanya ingin melihat reaksi Ardian,apa lelaki itu juga menyukai Mauren.


"Ternyata Mauren masih sama seperti dulu,dia tidak pernah berubah,sikapnya masih sama,dia masih perhatian sama aku." Ardian menyunggingkan senyum diwajahnya.


"Mas Ardian menyesal karena sudah meninggalkan dia,ya?" tanya Steven semakin penasaran.


"Entahlah.!"


Ardian menjawab singkat.


Dia kembali memutar kursinya,dan sekarang matanya mulai menatap lawan bicaranya.


"Baru sekarang aku menyadari kalau Mauren dulunya memang pernah menyukaiku,cuma aku saja yang tidak peka," dia terlihat menyesal.


Sekarang perasaanya benar-benar hampa,dikhianati oleh orang yang sangat dicintainya,dan meninggalkan orang yang sangat mencintainya,coba aja dia tidak pergi begitu saja dan meninggalkan Mauren tanpa ada kata,tentu saat ini dia dan Mauren sudah hidup bahagia,dan dia mungkin tidak akan bertemu dengan Melisa,perempuan yang sudah menggores luka dihatinya.

__ADS_1


"Sekarang juga masih sama mas. Mauren juga masih mencintai kamu,mas Ardian adalah cinta pertamanya,bagaimana mungkin dia bisa melupakan kamu begitu saja," ungkap Steven. Apa yang dia katakan itu adalah kata-kata yang didengarnya dari Mauren,jadi dia tidak mengarang-ngarang cerita untuk membuat Ardian senang.


"Kamu tahu dari siapa?"


"Dia yang menceritakan sendiri padaku."


"Aku benar-benar bodoh,karena tidak mengenali dia saat pertama kali bertemu hari itu,apa dia mengatakan sesuatu sama kamu tentang sikap dingin yang aku tunjukkan padanya?"


"Dia hanya mengatakan...


"Ah,sudahlah. Tidak perlu dijawab,lagian sekarang dia sudah menjadi tunangannya Marvel," potong Ardian,tidak ingin mendengar jawabannya Steven,karena takut apa yang akan dikatakan Steven nantinya malah tidak sesuai dengan harapannya.


"Tadi nanya,giliran mau dijawab eh malah nggak mau di dengerin," tukas Steven kesal.


"Berhubung kamu disini aku ingin menanyakan satu hal yang selama ini terus mengganjal di pikiranku." Ardian mulai mengganti topik pembicaraan.


"Tentang apa?"


"Kamu itu seumuran Olivia,bahkan lebih tua tiga bulan dari dia,tapi kenapa sampai sekarang kamu belum menikah?"


Pertanyaan Ardian membuat jantung Steven berhenti berdetak untuk sesaat. "Kenapa juga mas Ardian menanyakan pertanyaan konyol seperti ini?" dia membatin.


"Kayak nggak ada pertanyaan lain saja." Steven memutar bola matanya dengan malas,dia tidak menjawabnya,karena menurutnya Ardian hanya iseng-iseng doang.


"Kenapa nggak dijawab,apa susahnya tinggal memberi jawaban."


"Aku belum menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan calon istri," jawab Steven datar.


"Lalu kenapa kamu tidak mau menerima tawaran mama saat mengajak kamu untuk melanjutkan studi di luar negeri.?"


Ardian mengajukan pertanyaan keduanya.


"Bukankah aku sudah mengatakan alasannya dari dulu.?" Steven mengingatkan.

__ADS_1


__ADS_2