Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Papa Kembali


__ADS_3

Semenjak Tintin tidak ada lagi di rumah keluarga Wijaya,kini Sella sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia selalu membantu menyelesaikan tugas-tugasnya Mira,Lia dan yang lain. Berbeda dengan saat Tintin masih berada di sana,dia lebih suka bertindak seenaknya,angkuh dan suka memerintah.


"Tiara,sarapannya diruang makan saja!" suruh Sella.


"Disini aja,mbak." Sahut Tiara. "Lebih enak disini,lebih rame lagi," jawabnya tersenyum getir.


Mereka menatapnya dengan pandangan heran.


"Aku masih tidak nyaman berada di sana,mbak." Dia menunduk,menatap hampa makanan di depannya.


"Kata-kata yang dulu sering di ucapkan mbak Tintin sama mbak Mel masih membekas di ingatan aku,rasanya seperti pelayan makan sama majikan." Ujarnya lagi. Kata-katanya terdengar lemah,dia tersenyum pahit.


Glek!!


Bagai disambar petir,hati mereka ikutan sakit mendengar pengakuan Tiara. Jadi alasan Tia selama ini tidak mau makan semeja dengan keluarga suaminya karena dia masih merasa tidak pantas?


Setelah mendengar pernyataan Tiara mereka kini menatap tajam ke arah Sella.


Semua gara-gara perempuan itu,karena omongan jahat mereka dulu makanya Tiara jadi seperti ini,dia merasa rendah,dia merasa sangat tidak pantas bersanding dengan Arya,karena dirinya hanya anak seorang pembantu.


Sella meletakkan sendoknya,tidak jadi makan.


Dengan penuh penyesalan dia meraih tangan Tiara yang kebetulan duduk disampingnya,Sella meminta maaf dengan sangat, "Tiara,maafkan aku! Aku sangat menyesal karena sudah jahat sama kamu. Aku janji aku tidak akan seperti itu lagi,tapi tolong maafkan aku,dan jangan pernah mengingat hal itu lagi,itu akan membuat aku merasa bersalah seumur hidup." Ucap Sella penuh rasa sesal. Tak ada kebohongan di setiap tatapan matanya,dia tulus mengatakannya.


"Kamu memang pantas mendapatkannya Sella." Timpal Mira,dia ternyata masih marah dengan sikap jahat Sella dulu.


"Tiara sudah memaafkan mbak Sella kok." Kata Tiara lembut.

__ADS_1


"Nggak ada kata nggak pantas Tia,kamu itu sudah menjadi bagian di keluarga ini. Kamu sudah menikah dengan Arya,dan itu artinya kamu sudah menjadi nyonya di keluarga ini. Kamu harus membiasakan diri berbaur dengan keluarga mereka!" ucap Lia memberi sedikit nasihat.


"Lia benar,kamu tidak boleh terlalu banyak menghabiskan waktu bersama kami,kamu itu bukan pelayan seperti kami," tambah Mira.


"Dan kamu harus sering ngajakin Arya keluar untuk jalan-jalan,supaya kalian bisa lebih akrab dan kamu juga nggak bosan di rumah terus." Kata Sherina yang ikut memberi saran.


"Semua yang mereka katakan benar Tia,kamu harus bisa berbaur dengan keluarga ini,dan carilah cara supaya bisa lebih dekat dengan Arya,supaya hubungan kalian lebih dekat dan pastinya langgeng," Tessa juga ikut memberi saran,mereka semua menyemangati Tiara. Mereka tidak mau Tiara kehilangan rasa percaya diri karena status keluarganya yang berasal dari rakyat biasa.


"Makasih mbak,kalian semua sangat baik sama aku." Ucap Tiara menatap mereka satu persatu,Tiara mulai tersenyum lagi.


Sekarang kehidupan Tia sudah lebih baik,semenjak Melisa tidak ada di sana lagi,tidak ada yang mengatainya anak pembantu dan gadis kampungan.


\*\*\*\*\_\_\_\_\_\*\*\*\*


Selesai sarapan,keluarga besar Arya duduk di ruang keluarga,tampaknya mereka akan membicarakan masalah penting terkait hubungan Andika dan Olivia.


"Mama tahu apa yang ingin kamu tanyakan sayang. Kamu tidak perlu bertanya lagi tentang bagaimana pendapat kami,keputusannya ada ditangan kamu. Ini perihal rumah tangga kamu,ikuti saja kata hati kamu sendiri!" tutur bu Amara,beliau tidak ingin campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya,dia hanya akan memberi sedikit arahan saja,selebihnya Olivia yang memutuskan.


Bu Amara menjawabnya dengan anggukan kepala,wanita itu tersenyum. Beliau tahu kalau sebenarnya Olivia masih sangat mencintai suaminya itu. Dia juga sedang mengandung,jadi tidak mungkin memilih perceraian,karena itu juga bukan keputusan yang tepat.


Dan dengan bahagianya Olivia langsung memeluk sang mama.


"Sebenarnya kalau aku sih enggak setuju," ucap Ardian,seketika membuat senyum bahagia diwajah adiknya mengendur perlahan. Oliv melepaskan pelukannya dan melihat kakaknya dengan mata berkaca-kaca.


Bu Amara juga terkejut mendengar ucapan Ardian.


"Aku memang tidak setuju,seandainya tidak mendengar sendiri rekaman pembicaraan Andika dan Marvel." Sambung lelaki itu,hampir saja membuat darah Olivia membeku,ternyata itu maksudnya,ucapannya juga membuat Olivia sedikit kesal.

__ADS_1


"Aku juga!" sahut Arya "Aku sebenarnya juga tidak setuju. Cuma karena mengingat mbak Olivia yang sedang mengandung,jadi mau nggak mau aku harus menerima kembali lelaki brengsek itu menjadi iparku." Arya berkata terus terang. Huh! Kata terakhirnya itu membuat Olivia sedikit marah mendengarnya,seperti apapun Andika,tapi dia tetap suaminya,dan ayah dari calon bayinya. Jadi,tidak ada yang boleh mengatainya brengsek sekalipun itu adiknya sendiri. Arya benar-benar tidak berperasaan!


"Tapi Oliv,setelah dia lepas dari penjara nanti,kamu sebaiknya tinggal di rumah kalian sendiri." Timpal Oma yang sedari tadi hanya duduk mendengarkan saja.


"Itu pasti oma,Oliv akan pindah ke rumah sendiri,kami akan memulai hidup baru supaya bisa melupakan semuanya." Ucap Olivia penuh semangat.


Dari semalam dia memang sudah memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti setelah Andika keluar dari penjara,dia sudah membeli rumah di daerah perkampungan,dia ingin hidup sederhana saja dikampung.


Tujuan utamanya yang sebenarnya adalah,dia ingin menghindar dari Melisa.


Tapi dia harus menunggu pak Wijaya pulang ke rumah dulu,tentang kebenaran papanya yang masih hidup sampai sekarang tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain mereka bertiga.


Dan menurut yang dikatakan papanya semalam,lelaki itu akan pulang ke rumah hari ini.


Dan kebetulan sekali keluarganya juga sedang berkumpul. "Hari ini akan ada seseorang yang akan datang ke rumah kita," ucap Olivia memberitahu.


"Siapa?" bu Amara tampak penasaran.


"Ada deh,tunggu saja! Sebentar lagi mungkin orang itu akan datang." Olivia melirik sekilas ke arah jam dinding. Sudah pukul sepuluh lewat,seharusnya papa sudah ada di sana.


"Papa lama sekali." Batin Oliv.


"Mama...!" sapaan Tiara terdengar begitu halus,raut wajahnya juga terlihat senang.


"Iya,ada apa sayang?" tanya bu Amara. Jadi gagal fokus sama senyum manis Tiara.


Oliv menatap Tiara dengan cukup dalam mereka berdua sama-sama tersenyum,seperti saling mengerti.

__ADS_1


"Eh bicara dong,jangan pamerin senyum kayak gitu terus!" ucap Arya,cara bicaranya terdengar dingin.


"Ada yang mau ketemu ma,ditunggu diruang tamu." Kata Tiara,bersikap acuh terhadap omongan dinginnya Arya. Olivia sudah tahu kalau orang yang dikatakan Tiara sudah pasti papanya.


__ADS_2