
Suasana tampak hening,hanya suara dentingan sendok yang terdengar,keluarga besar itu sedang menikmati makan malam. Tiara tidak bergabung dengan mereka,seperti biasanya dia lebih memilih untuk makan bersama para pelayan,sekarang bu Amara tidak lagi memojokkan Tiara,sikap tidak pedulinya dari awal itu hanya sandiwara saja,dia melakukan semua ini untuk membuat Arya dan Tiara dekat,karena Tiara dan Arya sekarang sudah terlihat cukup dekat jadi bu Amara juga ikut bersikap baik terhadap Tiara,namun tetap tegas.
Meski sudah beberapa kali Tiara disuruh makan bersama keluarganya,tapi Tiara tetap tidak mau,dan bu Amara juga tidak memaksanya lagi.
Wanita itu berpikir mungkin ada baiknya juga,jadi Tiara tidak akan di ganggu oleh mulut tajamnya Melisa.
"Perut aku tiba-tiba nggak enak." Ucap Melisa di saat dia masih menyantap makanannya.
"Kok jadi pusing gini ya,rasanya mual," batin Olivia,refleks saja dia bangun dan dengan langkah setengah berlari,ia pergi menuju kamar mandi. Melisa juga ikut bangun,dia mengikuti Olivia dari belakang.
Keanehan yang tejadi diantara mereka berdua membuat keluarga itu pada bingung.
"Mereka kenapa?" tanya bu Amara mengernyitkan keningnya. Andika dengan santai menjawab. "Olivia hamil ma,dan usia kandungannya sudah hampir dua bulan."
"Uhuk...!" omongan lelaki itu membuat bu Amara terkejut,bahkan sampai batuk-batuk. Arya dengan penuh perhatian langsung memberikan air putih untuk diminum mamanya.
"Diminum dulu ma!" ucapnya
"Ini kabar yang sangat menggembirakan ma,mama akan segera dapat cucu," Ardian juga ikut senang,dia jadi kepikiran dengan Melisa,mungkinkah istrinya juga sama,saat memikirkannya hati Ardian bertambah senang.
Bu Amara tidak mengatakan apa-apa,wanita itu segera menyudahi makan malamnya. "Kalau kalian sudah selesai makan,temui mama diruang keluarga!" perintah wanita itu tegas,tidak ada basa basi,dia sendiri langsung meninggalkan ruang makan.
\*\*\*\*
Begitu semuanya berkumpul,bu Amara langsung memulai topik pembicaraan.
"Olivia,kenapa kamu tidak mengatakan sama mama mengenai kehamilan kamu ini?" wanita itu bertanya tegas.
__ADS_1
Olivia membetulkan posisi duduknya,biar lebih nyaman sebelum menjawab pertanyaan dari mamanya. "Oliv juga baru mengetahuinya seminggu yang lalu,ma." Dia menjawab apa adanya.
"Sudah seminggu yang lalu,tapi kamu masih tidak memberitahukannya sama mama,kamu ingin merahasiakannya dari mama?" tuding wanita itu.
"Kami hanya belum memiliki waktu yang tepat,sekaligus ingin membuat kejutan untuk mama," kali ini Andika yang menjawab,dia membantu istrinya untuk menjawab pertanyaan dari bu Amara.
"Jadi Olivia memang hamil? Aku tidak boleh membiarkan anak itu selamat,aku harus mencari cara supaya bisa memusnahkan bayi dalam perutnya itu,aku tidak akan membiarkan Andika terikat dengan dia hanya karena anak dalam perutnya,ini masalah besar," batin Melisa,berbagai macam rencana licik terus berputar di otaknya.
"Kalau kamu Melisa,bagaimana? Apa kamu hamil juga?" sekarang Melisa jadi gelagapan menghadapi pertanyaan ibu mertuanya,Melisa masih berpikir ingin menjawab apa,dia masih ingat kalau dirinya hamil maka bu Amara akan mengizinkannya untuk tinggal dirumah mereka sendiri. Itu artinya dia bisa keluar dengan mudah dari sana,dan dia juga bisa dengan mudahnya mengambil semua harta suaminya,akhirnya Melisa pun mengatakan kalau dirinya sedang hamil.
"Ya ma,aku sedang hamil sudah tiga minggu lebih," jawabnya jujur.
Bu amara tidak bahagia soal ini,karena dia tidak yakin anak siapa yang dikandung Melisa,siapa tahu dia pernah berhubungan intim dengan Andika,dan bagaimana kalau anak yang sedang dikandung itu adalah hasil dari perselingkuhannya dengan Andika,suami adik iparnya sendiri.
"Baguslah." Ucap bu Amara berusaha tersenyum.
"Mama bukan tidak senang Ardian,tapi mama jadi keingat sama janji mama pada kalian,saat itu mama pernah mengatakan kalau mama akan menginzinkan kalian keluar dari rumah ini,dengan syarat yaitu Melisa harus segera memberikan mama cucu,dan sekarang dia benar-benar hamil jadi mama harus menepati janji mama." Tutur bu Amara menjelaskan,wajahnya terlihat sedih.
"Bagaimana sayang,apa kamu tetap mau pindah kerumah baru kita,atau tetap disini?" tanya Ardian meminta pendapat istrinya.
Melisa berpikir kembali,jika dia tetap berada dirumah ini,itu artinya dia masih leluasa bertemu Andika,dan dia juga bisa melancarkan rencananya untuk membunuh janin yang dikandung Olivia. Jadi dia memilih untuk tetap tinggal,tentu saja harus membuat alasan lain agar mertuanya tidak curiga.
"Aku akan tetap tinggal disini ma,karena dalam keadaan seperti ini yang aku butuhkan adalah seorang ibu,aku tidak bisa tinggal hanya berdua dengan mas Ardian,mungkin kami akan pindah setelah aku melahirkan anak ini." Ujar Melisa mencari alasan yang pas.
"Pemikiranmu sangat bijak,mama senang mendengarnya," perkataan yang keluar dari mulut bu Amara tentu saja tidak sesuai dengan kondisi hatinya saat ini,dia sendiri bahkan menjadi curiga terhadap menantunya itu. "Entah apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Melisa." Batin bu Amara bertanya-tanya.
\*\*\*
__ADS_1
"Masih belum tidur?" Arya bertanya,mata cokelatnya melirik kebawah,tempat dimana Tiara tidur.
"Belum ngantuk." Tiara menjawab singkat,matanya menatap hampa langit-langit kamar.
"Kamu sedang memikirkan apa?" ternyata cowok itu penasaran juga.
"Hanya memikirkan tentang kejadian malam itu,aku minta maaf aku tidak sengaja," perkataan maaf Tiara hampir tidak terdengar.
"Untungnya kamu hanya mencium pipiku,coba saja kalau bibir aku yang kamu cium,entah apa yang akan terjadi." Ucap Arya begitu jelasnya,dia membuat Tiara malu,padahal Tiara sama sekali tidak berniat untuk mengatakan tentang ciuman itu,sepertinya Arya memang sengaja ingin menggodanya,dan membuatnya malu.
"Jangan dibahas,aku sudah bilang tidak sengaja melakukannya."
"Tidak sengaja? Saat itu kamu sudah sadar tapi kenapa tidak turun dari ranjangku?" Arya semakin menjadi-jadi.
"Sabar Tiara,sabar..." Tiara menenangkan hatinya,tidak memiliki niat untuk meladeni omongannya Arya,beberapa hari ini Arya selalu punya cara untuk menggodanya,dan Tiara tidak akan terkecoh lagi.
"Kenapa diam,kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku?" Arya lanjut bertanya,saat Tiara masih diam seperti tidak mendengar perkataannya. Sebenarnya sih Arya tidak suka di abaikan begitu,Tiara pikir jika didiemin gitu,lama kelamaan dia juga bakal berhenti untuk mengganggunya,eh ternyata dia salah,Arya malah semakin menggodanya.
"Apa kamu sedang memikirkan cara baru untuk naik keranjangku?"
"Diam...!" Tiara akhirnya bersuara,dia mulai kesal juga "Apa yang mas tanyakan,aku tidak pernah memikirkan hal menjijikkan seperti itu." Tiara menyangkalnya,ya karena memang dia tidak kepikiran untuk melakukan hal semacam itu.
"Menjijikkan?" ulang Arya tertawa lucu mendengar ucapan Tiara.
"Iya,menurutku itu menjijikkan,kenapa juga aku harus memikirkan cara konyol begitu,jika ingin tidur di sana,ya aku tidur aja lagian kan kita sudah..." Tiara tidak jadi melanjutkan omongannya,dia baru sadar ternyata perkataannya sudah terlalu berlebihan,dan Arya tentu saja sedang tersenyum-senyum sambil terus memandanginya.
"Sudah apa hayo...? Kenapa nggak dilanjutkan?"
__ADS_1
Tiara langsung tidur memunggungi Arya,dia ingin menyembunyikan wajahnya yang sudah bersemu merah,Tiara berharap Arya tidak turun dari tempat tidurnya untuk kembali mengganggu dirinya.