
Kelihatannya masalah keluarga pak Wijaya akan segera terselesaikan,mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.
Tapi,selama keberadaan Melisa belum diketahui,mereka juga tidak bisa hidup dengan aman. Dendam sudah bersarang dihatinya dan dia sudah pasti akan datang kembali dan membalas semuanya.
Melisa sudah menggila,dia sekarang menjadi orang yang sangat menakutkan.
KEDIAMAN MARVEL
"Aku pikir kamu tidak akan datang kesini lagi." Ucap Marvel membuka suaranya.
"Papa sudah tidak ada,Vel. Bisakah pertunangan ini kita akhiri saja?" tanya Mauren langsung ke intinya.
"Tidak bisakah hubungan kita dilanjutkan?" Marvel masih berharap meski keputusan ada ditangan Mauren. Dia hanya akan bertanya satu kali,cowok itu tidak akan memaksakan kehendaknya.
Akankah Mauren mempertahankan Marvel,atau sebaliknya?
Bisakah cinta itu tumbuh diantara dua insan tersebut?
Marvel yang terlalu mencintai Mauren,dan Mauren malah lebih mencintai Ardian.
Sedangkan Ardian,lelaki itu belum tentu bisa mencintai Mauren seperti Marvel mencintainya.
"Aku tidak bisa mencintai kakak dari perempuan yang sudah membunuh ayahku sendiri!" Mauren menjawab jujur. Tapi,jelas saja itu juga bukanlah alasan utamanya.
Marvel menunduk lemah,mungkin jawabannya Mauren terlalu menyakiti perasaannya.
"Kamu yakin cuma itu alasannya?" tanya Marvel menyelidik.
"Lalu? Mauren sedikit menungging kepalanya dan lanjut bicara, "Apa kau berpikir bahwa aku memiliki alasan lain selain itu?"
Marvel mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum.
"Setiap jawaban yang kamu berikan pasti memiliki alasannya,aku tidak akan memaksa cintaku terbalaskan. Tapi kamu perlu ingat!" Marvel terdiam.
"Apa yang perlu aku ingat?"
"Cinta yang tulus tidak datang dua kali." Ucapan Marvel membuat Mauren bungkam.
Apa yang dimaksud Marvel? Sekarang dia sedang mengancam atau sekedar mengingatkan?
Kata-kata dan tatapannya sepertinya menyimpan arti mendalam.
Tak salah lagi,ucapan tadi itu memang untuk mengingatkan Mauren,dia ingin mengatakan bahwa cinta Ardian belum tentu setulus dirinya.
"Aku tahu semua tentang kamu Mauren,selama ini kamu tidak bisa mencintai aku karena kamu mencintai Ardian,kan?"
Mendengar pertanyaan Marvel,rasanya seperti ditampar berkali-kali. Mengapa pertanyaan itu membuat Mauren malu? Mungkin karena Ardian sudah menjadi suami orang dan tak seharusnya dia mengejar Ardian lagi.
"Jangan ngomong sembarangan!"
__ADS_1
"Aku tidak ngomong sembarangan,apa yang aku katakan adalah fakta."
"Memangnya kenapa kalau aku ingin mengejar Ardian lagi? Bukankah ini akan semakin menyenangkan? Aku akan membuat Melisa ikut merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Mauren menyeringai.
Dia sekarang juga terlihat seperti orang yang tengah menyimpan dendam,mungkin dia juga akan membalaskan dendamnya pada Melisa.
"Dia sudah membunuh ayahku,dan aku tidak akan melepaskan dia. Akan aku cari dia hingga ke lobang semut sekalipun."
Perkataan Mauren membuat sekujur tubuh Marvel bergetar,dia bisa melihat kesungguhan di matanya Mauren,dia tidak main-main dengan ucapannya.
Sepertinya badai akan segera tiba,dia hanya perlu menunggu waktu saja.
\*\*\*
"Pulang terlambat lagi,kamu sama Steven kemana aja?" tanya Arya,dia duduk ditepi ranjang dengan wajah tak enak dipandang
"Kita perginya bertiga,bukan cuma aku sama kak Steven." Tiara membetulkan letak kesalahan ucapan Arya.
"Iya,aku tahu! Kalian kemana aja? Kok pulangnya sampai malam begini?"
Tatapan Arya seolah sedang mencurigai sesuatu,mungkinkah dia tahu kalau Tiara sedang menyembunyikan sesuatu darinya?
"Kita tadi juga pergi kerestoran sekalian sama makan malam,mas." Ungkap Tiara.
"Kamu serius? Nggak bohong,kan?" Dia masih terlihat tidak percaya.
"Tidak!"
"Aku tidak akan bertanya lagi,sudah jelas kamu menyembunyikan sesuatu dari aku." Arya masih tidak percaya,dia tetap bersikeras mengatakan kalau Tiara berbohong.
"Nggak percaya ya sudah!" Tiara masa bodoh dengan suaminya.
"Kamu tidak pandai berbohong,Tiara." Gumam cowok itu dan tersenyum miring ke arah Tiara.
Tiara baru menyadari keanehan diwajahnya Arya.
Tapi,dia tidak peduli dengan hal itu,badannya sudah terasa panas dan lengket sekarang,dia ingin cepat-cepat membasahi tubuhnya biar bisa tidur dengan nyenyak nantinya.
Mengambil handuk dan segera masuk kekamar mandi,tanpa menoleh kearah Arya yang terus menatap dirinya.
"Tuh kan,kita belum selesai ngomong dia sudah duluan pergi." Ucap Arya kesal dengan sikap cuek yang ditunjukkan Tiara.
"Mau mandi dulu,mas. Badan aku sudah kepanasan dari tadi." Jawab Tiara sambil berlalu pergi.
\*\*\*\*
Kediaman Steven
"Bibi lihat Steven nggak?" tanya Mauren pada bi Murni.
__ADS_1
"Ada di teras belakang non,kayaknya den Steven lagi galau."
"Kalau dia galau sih nggak mungkin,bi." Sangkal Mauren
"Ya,siapa tahu benar. Soalnya tadi bibi lihat dia terus menatap langit dengan pandangan kosong begitu,wajahnya juga murung." Ungkap bi Murni.
Tanpa banyak tanya lagi Mauren langsung menuju tempat Steven menghabiskan kesunyian malamnya.
"Lagi galau ya?" canda Mauren
"Siapa yang galau? Kamu mungkin saja,tapi kalau aku tidak." Balas Steven.
Halaman belakang memang tidak terlalu luas,tapi cukup nyaman untuk dijadikan sebagai tempat bersantai dan menghabiskan waktu malam untuk sekedar melihat bintang-bintang yang bersinar terang dilangit.
"Tadi aku sudah menemui Marvel dan mengatakan padanya kalau aku ingin pertunangan ini tidak dilanjutkan lagi,ayah juga sudah tidak ada." Mauren mulai bercerita,saat ini dia hanya punya Steven sebagai tempatnya berbagi suka dan duka.
Steven mulai mencari kata-kata yang pas untuk menanggapi cerita Mauren tadi.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu,Mauren?" Steven memastikan.
"Keputusanku sudah bulat Stev,aku tidak ingin membuat Marvel tambah menderita. Untuk apa aku membohongi dia dengan mengatakan kalau aku mencintainya,sedangkan dihati aku sudah lama ada nama pria lain,bukankah itu sangat menyakitkan?"
Kegundahan terpancar jelas diwajahnya kala itu,Mauren sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
Dia menyimpan terlalu banyak derita,dan rasa sakit yang dia rasa,lebih besar dari rasa sakit yang dirasakan Steven.
Sudah lama senyum diwajahnya menghilang,bisakah senyum itu kembali? Bisakah Ardian mengembalikan senyumannya?
Alasan Marvel melepaskan Mauren,itu karena dia sadar bahwa Mauren tak pernah bahagia saat bersama dirinya.
"Aneh bukan,Marvel mau melepaskan kamu dengan begitu mudahnya?"
Kata-kata Steven membuat Mauren tersadar,ya dia baru menyadarinya sekarang.
Marvel yang dia kenal adalah orang yang sangat ambisius,dan dia juga sangat terobsesi dengan dirinya,lelaki itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
"Ya,ini memang agak sedikit aneh."
"Kamu baru menyadari keanehan itu sekarang?"
"Apa mungkin dia sedang merencanakan sesuatu sekarang?" Mauren mulai curiga.
Tapi Steven malah sebaliknya,cowok itu dengan santainya berkata. "Aku rasa tidak,mungkin Marvel sudah berubah."
"Tidak mungkin dia berubah secepat itu."
"Bukankah kamu bilang kalau Marvel mau melakukan apa saja untuk kamu?
"Maksud kamu... dia berubah menjadi lebih baik hanya untuk aku?" tebak Mauren.
__ADS_1
"Bisa jadi kan? Namanya juga cinta." Steven melipat tangannya dan meletakkan dibelakang kepalanya sambil menatap bintang dilangit.
"Lalu,apa keputusan aku ini tidak benar?" dia mulai ragu dengan keputusannya sendiri.