
Lelaki itu tampak gelisah,dia berulang kali menarik nafasnya yang terasa berat,seorang wanita muda datang menghampirinya dengan membawa secangkir kopi hangat dan beberapa cemilan.
"Silahkan di minum dulu tuan!" suara wanita itu menyadarkannya dan lelaki itu menoleh ke arah pelayannya.
"Hari ini saya bertemu dengan istrinya Arya,bi." Ucapnya memberitahu.
Pelayan itu hanya tersenyum dan menjawab singkat. "Kabar yang bagus tuan."
Mendengar respon singkat dari pelayannya,lelaki yang bernama Wijaya itu tidak lagi melanjutkan ceritanya,dia membiarkan pelayannya pergi,dan dia kembali mengingat kejadian tadi.
BEBERAPA JAM YANG LALU...
"Papa..."
Pak Wijaya tersadar saat Tiara memangilnya dengan sebutan papa.
"Maaf,saya harus pergi sekarang," lelaki setengah baya itu langsung pergi menghindari Tiara,dia tidak ingin Arya mengenalinya saat itu.
"Kamu kenapa malah bengong?" Arya bertanya saat Tiara masih dalam posisi jongkok.
Dua orang yang membantu pak Wijaya juga sudah berlalu pergi dari sana. Pak Wijaya ternyata bersembunyi di balik mobilnya,dan dia masih bisa melihat dan mendengar percakapan Tiara dan Arya.
"Ak... aku melihat papa," ucapnya terbata.
Dengan kening berkerut Arya bertanya. "Papa siapa?"
"Papa kamu mas!" jawabnya,Arya terdiam sesaat dan setelah itu dia tertawa,menertawakan Tiara yang menurutnya sudah agak stres karena masalah yang belum selesai di keluarganya.
"Haha... Kamu memang sangat hebat Tia,tidak cuma bisa melihat roh Yuna,tapi kamu juga bisa melihat rohnya papa," dia kembali menertawakan istrinya sambil memegangi perutnya,bahunya naik turun dia membuat Tiara merasa kesal,sambil menghentakkan kakinya Tiara pergi dengan raut wajah tak enak di pandang.
"Hei mau kemana? Tunggu dulu aku belum selesai ngomong!" seru Arya,namun Tiara tidak mendengarkannya dia langsung masuk ke mobil,setelah membayar uang parkir Arya juga ikut masuk cowok itu masih dengan senyum di wajahnya.
"Ketawa aja terus!" dia ngambek lagi,Arya langsung diam,tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya,tapi mempertanyakan dulu apa benar Tiara tidak salah lihat?
.
__ADS_1
.
"Pak Wijaya,tuan Seno ingin bertemu dengan bapak," salah satu anak buah kepercayaannya datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya.
"Suruh saja dia masuk!"perintah lelaki itu.
Baru saja anak buahnya berbalik arah ingin memanggil pak Seno,eh lelaki itu malah sudah masuk duluan tanpa permisi.
"Aku datang Wijaya,bagaimana kabarmu?" tanya pak Seno ramah.
Sembari bangun dari kursi santainya yang diletakkan menghadap ke jendela,pak Wijaya menjawab "Kabarku sangat baik Seno,tapi hari ini semuanya hampir saja menjadi malapetaka baru untukku."
"Apa maksudmu?" tanya pak Seno sembari ikut duduk di sofa yang sama.
Pak Wijaya menceritakan apa yang telah terjadi tadi siang.
"Apa Arya juga mengenali kamu?"
"Ah,anak itu? Kalau memikirkan dia membuat kepalaku hampir pecah,dia bahkan tidak mengenaliku sama sekali," keluh pak Wijaya kecewa.
"Wajar saja Wijaya,kamu sudah banyak merubah penampilanmu,jadi kalau hanya melihat kamu sekali,tentu saja Arya kesulitan untuk mengenali kamu."
"Menantumu yang satu itu memang memiliki mata yang sangat jeli,tidak salah kamu menjodohkan mereka berdua," ucap pak Seno tersenyum.
"Ya,kamu benar. Kalau saja Alya bukan istri dari teman baikku,mungkin aku juga tidak akan pernah kepikiran untuk menjodohkan mereka berdua," tutur pak Wijaya.
Jadi apa yang terjadi selama ini adalah rencananya dari awal,pak Wijaya lah yang menyuruh bu Amara untuk menjodohkan Arya dengan Tiara.
"Empat tahun hampir berlalu Wijaya,meski semua orang sudah menganggap kamu mati,tapi apa kamu tidak memiliki keinginan untuk muncul kembali? Istri dan anak-anakmu pasti sangat berharap kalau kamu tidak mati dalam kecelakaan itu." Pak Seno kembali bersuara setelah sejenak terdiam.
"Aku akan menunjukkan kembali wajahku setelah aku mengetahui dalang dibalik kejadian yang hampir merenggut nyawaku hari itu," jawab pak Wijaya,matanya terlihat berapi-api,dia sudah lama memendam kebencian terhadap orang yang ingin mengambil kehidupannya.
"Kamu masih tidak yakin dengan informasi yang aku sampaikan? Kamu masih ragu dengan kebenarannya? Atau kamu tidak berani menerima kenyataannya?"
"Entahlah Seno," raut wajah pak Wijaya tampak lesu,dia memang tidak sanggup menghadapi kenyataan itu,dia bahkan berharap kalau orang yang menginginkan kematiannya bukanlah adiknya sendiri.
__ADS_1
"Leon benar-benar tidak pernah menyukai kamu Wijaya,dia bahkan bekerjasama dengan Erick untuk merebut harta kamu,bukankah kamu juga sudah tahu mengenai hal ini.?" Tanya pak Seno.
"Aku memang mengetahui semuanya Seno,semua masalah yang terjadi di keluargaku,anak buahku ada di mana-mana,mereka selalu memberikan informasi terbaru padaku setiap saat,bahkan tentang Melisa yang kabur setelah membunuh calon mertua kakaknya sendiripun aku juga tahu," ungkapnya.
Meski sudah mengetahui siapa yang ingin membunuhnya,tapi pak Wijaya masih belum ingin menampakkan dirinya pada keluarganya,ini bukan waktu yang tepat,dia akan mengungkap semuanya jika waktunya sudah tiba.
"Aku akan mengungkapkan semuanya jika waktunya sudah tepat,sekarang sebaiknya kamu pergi dan bawa Harto kesini!" suruh pak Wijaya.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya," lanjutnya lagi.
"Ini yang tidak aku suka setiap kali berkunjung ke kediaman kamu,selalu saja ada tugas untuk aku." Pak Seno mendengus kesal.
"Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau melakukannya sekali lagi untukku."
"Sekali lagi,sekali lagi lama-lama berkali-kali,kamu sudah tua tapi masih saja memiliki sifat seperti saat masih muda dulu,kalau ada maunya paling bisa membujuk orang," cicit pak Seno geram.
Pak Wijaya terkekeh mendengar ocehan teman dekatnya. Pak Seno adalah orang yang sudah menyelamatkan hidupnya di saat-saat genting hari itu,sedetik saja pak Seno terlambat menyelamatkannya,mungkin nyawa pak Wijaya sudah melayang.
Jadi pak Wijaya berhutang budi dengan pak Seno,dan dia sudah berjanji dalam hatinya,kalau semua masalahnya sudah terselesaikan dia akan memberi hadiah istimewa untuk temannya itu.
\*\*\*\*
"Kamu kenapa terus menghindar dariku,Steven?" tanya Olivia penasaran,dia menahan tangannya Steven,mencoba mencegah cowok itu untuk tidak pergi dari hadapannya.
"Maaf sebelumnya Olivia,aku bukan menghindar dari kamu,tapi aku memang sangat sibuk," jawabnya berbohong.
Dia memang menjawab pertanyaan Olivia,tapi matanya sama sekali tidak memandang Olivia,dia malah melihat ke arah lain.
Olivia bukanlah perempuan bodoh,dia tahu ada yang di sembunyikan Steven dari dirinya.
"Sudah setahun lebih kita tidak bicara sedekat ini." Ucap Olivia,tangannya menggenggam erat kedua lengan Steven,berharap cowok itu membalas pandangannya.
"Kamu membenciku karena aku menikah dengan Andika?" tanya Olivia dengan suara terdengar parau
DEG!
__ADS_1
Pertanyaan Olivia seketika membuat jantungnya berdegup kencang,bagaimana mungkin Olivia tahu hal itu,apa dia hanya asal nebak aja? Atau dia memang sudah tahu kalau sebenarnya selama ini Steven menyimpan rasa cinta untuk dirinya?
"Aku hanya ingin menjaga batas saja sama kamu Oliv,kamu sudah menjadi istri orang," jawab Steven,berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan.