
"Olivia akan pindah ke rumah barunya besok,jika Melisa tahu hal ini dia pasti akan keluar dari tempat persembunyiannya untuk bisa melukai Olivia. Dengan begitu,kita akan mudah menangkap Melisa." Jawab Ardian menjelaskan.
"Apa mungkin Melisa akan keluar semudah itu? Menurutku dia sangat licik,jadi dia tidak akan gegabah dalam bertindak,tentu saja dia tahu kalau ini hanya jebakan saja." Ucap Mauren,dia merasa kalau ide Ardian dan keluarganya itu hanya akan membuat Oliv celaka.
"Awalnya aku juga merasa seperti itu,tapi kita tidak punya cara lain,dan sepertinya sekarang dia juga sudah mulai bergerak,apalagi setelah berita tentang pak Erick ditangkap dan tersebar kemana-mana,sudah pasti Melisa tidak akan duduk diam saja." Pungkas Ardian.
Beberapa saat mereka sama-sama diam,bukan kehabisan kata-kata untuk bicara,tapi sedang mencari cara untuk mengubah topik pembicaraan.
"Mauren...
"Ardian..." ucap mereka bersamaan,Ardian menyuruh Mauren untuk bicara duluan.
"Kamu duluan,kamu mau ngomong apa?"
"Tidak apa-apa,kamu saja yang duluan!" tolak Mauren,menyuruh Ardian yang bicara duluan.
Ardian mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang,dia gugup saat itu. Harus bagaimana mengatakannya pada Mauren.
Sebenarnya Ardian ingin bilang bahwa dia juga mencintai Mauren dulunya,dan sekarang dia ingin hubungan mereka dekat seperti dulu lagi.
"Apa yang ingin kamu katakan sama aku?Katakan cepat! Aku penasaran Ardian." Desak Mauren,tidak sabar ingin mendengar apa yang hendak dikatakan Ardian padanya.
"Em,sebenarnya... dulu aku juga pernah mencintai kamu,tapi aku malu untuk mengatakannya." Ungkap Ardian,hatinya plong sekarang,dia merasa beban yang menindihnya selama ini sudah tidak ada lagi.
Akhirnya dia bisa juga mengungkapkan perasaanya kepada Mauren,dengan begitu lancar dan tidak gugup sama sekali.
Tak disangka ternyata reaksi Mauren diluar perkiraan,dia bukannya kaget mendengar pengakuan jujur dari mulutnya Ardian,eh enggak tahunya malah ketawa terbahak-bahak.
Memangnya ada yang lucu? Dia pasti menganggap omongan Ardian tadi cuma sebagai lelucon aja.
Respon dari Mauren membuat Ardian merasa malu,dia menyesal sudah jujur di depan Mauren.
"Kamu ternyata bisa ngelawak juga,ya?" ucap Mauren di sela tawanya.
__ADS_1
"Ren,aku serius!" Ardian menatap Mauren dengan begitu dalam,dia memperlihatkan kesungguhan kata-katanya tadi.
Tawa Mauren seketika menghilang,saat melihat kesungguhan dimatanya Ardian.
"Kamu tidak sedang bercanda,kan?" tanya Mauren memperjelas.
"Aku serius."
"Ta-tapi kalau kamu memang mencintai aku,bagaimana mungkin kamu sanggup pergi begitu aja tanpa bilang apa-apa sama aku?" ucap Mauren bertanya,dia masih tidak percaya.
"Aku pergi karena keluarga kami pindah dari rumah itu,dan kita menetap di Jakarta,maaf karena aku pergi begitu saja." Ucap Ardian menyesal. Dia menunduk dalam.
"Kamu jahat Ardian,kamu jahat karena sudah membuat aku menunggu begitu lama,aku selalu merindukan kamu,kamu benar-benar jahat!" Mauren memukul dadanya Ardian,dia kesal dengan keputusan yang diambil cowok itu,kini tangisnya tumpah.
Ardian segera merangkul Mauren dan memeluknya,untuk membuat Mauren kembali tenang. "Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama." Gumam Ardian pelan.
"Kamu kan tahu Mauren,kamu itu adalah cewek paling populer disekolah saat SMA dulu,sedangkan aku tidak sepopuler kamu,aku pikir kamu hanya menganggap aku teman biasa,jadi aku tidak berani mengungkapkannya." Ucap Ardian mengakui.
"Bohong!" Mauren masih tidak percaya.
"Ya,aku masih ingat,memangnya siapa gadis itu?"
"Ya,kamu lah!" jawab Ardian,sambil menarik gemas hidung Mauren.
Mauren tertawa kecil mendengar pengakuan Ardian,tidak pernah terbayangkan sama sekali dipikirannya kalau lelaki yang selama ini dirindukannya,ternyata juga memiliki rasa yang sama. Ardian juga menyimpan rasa cinta untuknya.
Kini hati Mauren semakin yakin,dia ingin kembali seperti dulu bersama Ardian,dia ingin hubungannya dengan Ardian lebih dekat lagi.
"Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu juga masih memiliki rasa cinta itu?" tanya Mauren.
"Rasa itu masih sama Mauren,aku masih mencintai kamu." Ungkapnya jujur.
"Tapi,apa mungkin semudah itu kamu melupakan Melisa? Dia masih istri sah kamu,dan sekarang dia juga sedang mengandung anak kamu." Ucap Mauren,hatinya mendadak tidak yakin akan perkataan Ardian.
__ADS_1
Mauren kembali ragu saat mengingat Melisa.
Melisa adalah istri sahnya,dan perempuan itu adalah ibu dari calon bayinya,sedangkan Mauren hanya sebatas kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul ditengah keretakan rumah tangga mereka.
Mauren kembali ragu,apa mungkin cinta itu masih ada?
"Dia sudah mengkhianati aku Mauren,dia sebenarnya juga tidak pernah mencintai aku,yang dia cinta hanya Andika,dia hanya memanfaatkan aku untuk melancarkan usahanya merebut perusahaan papa." Wajah Ardian sedih saat mengatakannya.
"Apa mungkin semudah itu kamu melupakan wanita yang kamu cintai.?"
"Aku memang mencintai dia,bahkan terlalu dalam hingga aku bisa melupakan kamu,tapi karena cinta yang terlalu dalam itu pula,sekarang aku bahkan membencinya lebih dalam dari pada mencintainya,kebencian yang aku rasa saat ini,lebih besar daripada rasa cinta itu sendiri."
"Tidak perduli dia ibu dari anakku atau bukan,yang pasti aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi pada perempuan jahat itu. Aku tidak akan bisa menerima dia kembali,percaya sama aku!" ucap Ardian,berusaha membuat Mauren percaya dan yakin pada apa yang dikatakannya.
Mungkin cintanya hanya sisa-sisa dari cinta masa lalu,itu yang Mauren takutkan. Mungkinkah cinta Ardian bisa bertahan hingga sekarang? Mauren sendiri bahkan tidak yakin.
"Apa yang tengah kamu pikirkan Mauren?" tanya Ardian saat melihat Mauren diam melamun.
"Sebaiknya jangan kita pikirkan soal ini dulu Ar,kamu juga masih terikat dengan Melisa." Ucap Mauren lemah.
"Apa kamu masih memiliki hubungan dengan Marvel?" Ardian menyipitkan matanya.
"Tidak! Aku sudah memutuskan pertunangan kami." Ungkap Mauren. Mendengar hal ini,Ardian tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya,dia tersenyum ke arah Mauren.
"Kamu senang mendengarnya?" Ardian tidak menjawab,dia hanya menatap Mauren dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa kamu membenci Marvel,Ren?"
"Entahlah,Ar. Aku masih bimbang saat ini,apalagi setelah mendengar dari Steven kalau Marvel bekerja begitu keras untuk membuat perusahaan papa bangkit lagi. Bagaimanapun,dia adalah lelaki yang selalu ada disaat aku butuhkan,meski aku sendiri tidak pernah mencintainya. Mauren berkata jujur.
"Jika memang begitu ceritanya,ini memang pilihan yang sulit untuk kamu Mauren,aku bisa memakluminya,aku juga tidak akan memaksa kamu untuk bisa menerima aku lebih dari seorang teman." Ucap Ardian,dia merasa hatinya sakit. Tapi,sakit itu tidak seberapa dengan yang dirasakan Mauren dulunya,saat dia meninggalkan Mauren begitu saja.
"Aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semua ini." Ujar Mauren mengakhiri,dia tertunduk lemah. Pikirannya tidak menentu,setiap membuat sebuah keputusan dia selalu ragu.
__ADS_1
\*\*\*\_\_\_\_\*\*\*