Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Mengungkap Sebuah Rahasia


__ADS_3

Di dalam kamar mandi Arya mulai merenungi kembali tentang pertanyaan Tiara tadi,perasaan bersalah tiba-tiba muncul,apalagi tadi dia sempat menangkap ekspresi kecewa di wajah Tiara.


"Apakah sikapku sudah keterlaluan? Tapi,aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku memang tidak mencintainya sama sekali,dan tidak akan pernah!" ucap Arya bicara pada dirinya sendiri.


Dia berusaha menepiskan bayang-bayang wajah Tiara yang seolah menari-nari di pelupuk matanya


"Aish... Sial,kenapa juga aku terus terbayang-bayang dengan wajah dia,bukankah aku tidak mencintainya?" Arya kesal dengan dirinya sendiri.


"Tadi aku merasa sangat marah kepada Melisa,karena membuat Tiara menjadi seperti pelayan,bukankah itu dinamakan cinta? Tidak... tidak,aku tidak mungkin mencintainya." Arya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Lalu,kalau bukan cinta terus apa?" dia semakin bingung dengan perasaannya sendiri.


Beberapa hari yang lalu dia bahkan sama sekali tidak perduli dengan keadaan Tiara,meski Tiara selalu berada disampingnya tapi dia tetap tidak menganggapnya ada. Namun,setelah Tiara jatuh sakit hari itu,Arya jadi sedikit lebih perhatian,dia sadar ada yang aneh dengan dirinya sendiri,dia terus mengelak dan mengatakan bahwa dia tetap tidak mencintai Tiara.


Tiara masih berada di kamarnya menunggu Arya sampai dia selesai mandi,ingin menanyakan sesuatu yang penting,dan itu adalah tentang Yuna,pelayan mereka yang menghilang begitu saja seperti di telan bumi.


Tiara pikir dengan mengatakan apa yang diketahuinya dari para pelayan itu,akan membuat hubungannya dengan Arya menjadi lebih akrab.


Ya,Tiara akan menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Arya.


"Semoga saja berhasil," harapnya dalam hati.


Lima belas menit kemudian,Arya keluar dengan mengenakan handuk putih yang melilit di pinggangnya.


"Mas,aku ingin ngomong sesuatu!" ucap Tiara memulai percakapan.


"Ngomong aja!" jawab Arya acuh tak acuh,sambil mengambil baju santainya di lemari.


Tiara tidak langsung ngomong,dia terlebih dulu menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan,dia masih bingung mau mulai dari mana.

__ADS_1


"Mau ngomong apa sih?" tanya Arya dia sepertinya penasaran.


"Tentang mbak Yuna." Ucap Tiara,dia mengecilkan suaranya,takut ada yang mendengar sebab apa yang dikatakannya itu sangat rahasia.


"Apa...?" Arya tidak bisa menyembunyikan kekagetannya,hingga tanpa sadar suaranya itu begitu keras.


"Suaranya dikecilin toh mas!" bisik Tiara,dengan raut wajah serius.


"Coba kamu ceritakan sama aku!" kini Arya duduk tepat di samping Tiara,tubuh mereka berdua sama-sama bersandar di sisi tempat tidur,dia bahkan lupa kalau dirinya itu tidak ingin terlalu dekat dengan Tiara.


"Mbak Yuna,dia sudah meninggal." Ungkap Tiara. Wajah Arya tegang seketika,dia bahkan tidak bisa menggerakkan bibirnya,apa yang tadi dikatakan Tiara telah membuat Arya seperti kehilangan separuh dari jiwanya,kalau benar Yuna sudah mati,itu berarti keluarganya lah yang akan menjadi tersangka. Tapi,bagaimana Tiara bisa mengetahui tentang Yuna? Tiara kan baru sebulan tinggal di sana,dan ini membuat Arya tambah penasaran.


"Ba-bagaimana bisa kamu mengetahui tentang Yuna?" Arya tergagap


"Dari mbak Lia,mbak Mira dan mbak Sherina," jawabnya jujur.


"I-ini..." Tiara menggantungkan ucapannya,dia tidak berani melanjutkan lagi,peringatan dari Lia membuatnya takut,dia seperti baru tersadar kalau nyawanya juga akan berada dalam bahaya,karena belum tentu Arya mau menjamin keselamatannya.


"Kenapa? Kenapa kamu diam,ayo katakan!" pinta Arya,dia sudah tidak sabar ingin mendengar kelanjutannya.


"Tidak!" Tiara menggeleng kuat.


"Aku tidak bisa mengatakannya,aku takut..." Tiara gemetaran,wajahnya pucat pasi,dia tidak sedang berpura-pura dia benar-benar ketakutan.


Melihat ketakutan dimata Tiara,membuat Arya tidak tega memaksanya untuk bercerita,mungkin ini hal yang sangat rahasia,dan akan mengancam jiwanya. Jadi Arya membuat sebuah janji.


"Kamu jangan takut,setelah kamu menceritakan semuanya yang kamu ketahui,aku berjanji akan melindungi kamu,tidak akan ada yang bisa menyakiti kamu," ucap Arya bersungguh-sungguh.

__ADS_1


"Mas tidak sedang bercanda kan?" tanya Tiara masih kurang yakin.


"Aku bersungguh-sungguh." Arya meyakinkan.


"Mbak Lia bilang,dua hari sebelum mbak Yuna menghilang,mbak Yuna menceritakan kalau dia mendengar percakapan antara mas Andika dan mbak Mel,kalau mereka berencana untuk merebut harta keluarga ini dan setelah itu mbak Yuna menghilang begitu saja,padahal dia tidak pernah keluar dari rumah ini,dan mbak Mira juga menemukan darah yang tercecer di jalan setapak yang menuju hutan yang ada di belakang rumah ini." Tutur Tiara menceritakan secara detail. Arya terperangah mendengarnya.


"Jadi tidak hanya Melisa,Andika juga? Dua orang itu ternyata bekerja sama," gumam Arya,suaranya kecil hampir tidak terdengar.


"Soal ini,cukup mas saja yang tahu jangan mengatakannya dulu sama mama,mas harus mencaritahu kebenaran dibalik peristiwa menghilangnya mbak Yuna,apa benar kalau dia sudah di bunuh atau tidak," ujar Tiara.


"Lalu kenapa mereka menutup-nutupinya selama ini,dengan mengatakan kalau Yuna sudah membawa semua pakaiannya?" tanya Arya,dia sebenarnya marah saat mengetahui kejadian sebenarnya,dan ketidakjujuran para pelayannya yang membuat dia sendiri kewalahan mencari keberadaan Yuna.


"Semua pakaian mbak Yuna memang tidak ada lagi di sana mas,itu juga yang membuat mereka heran,mbak Lia dan mbak Sherina bilang,bisa jadi salah satu dari pelayan di sini ada yang berkhianat,dan yang mereka curigai adalah mbak Tintin dan Sella,karena mereka orang yang lebih dekat dengan mbak Melisa."


Arya mulai paham sekarang,satu masalah sudah menemukan titik terangnya,dia sangat senang dan tanpa sadar memeluk Tiara.


"Akhirnya aku bisa juga memecahkan kasus ini,terimakasih Tiara!" ucapnya seraya memeluk tubuh mungil gadis itu. Tubuh Tiara menegang seketika,mendapat pelukan yang tidak terduga dari Arya.


"Mas Arya nggak salah peluk ni?" tanya Tiara saat Arya masih belum melepaskan pelukannya,ditanya seperti itu membuat Arya tersadar,dan dia langsung mendorong tubuh Tiara dengan kasar."


"Dasar,kamu sengaja kan mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tuduh cowok itu kesal,kata-kata itu digunakan hanya untuk menutupi rasa malunya saja.


"Kok malah Tiara yang disalahin sih,kan mas duluan yang meluk aku,itu berarti mas Arya yang ngambil kesempatan bukan aku!" Tiara tidak terima dirinya disalahkan,dia segera bangun dan pergi dari sana,kesal dengan tingkah suaminya yang kadang terlihat peduli dan kadang tidak sama sekali. Sifatnya benar-benar tidak bisa ditebak.


"Ah... Aku benar-benar bodoh,terlalu kebawa perasaan sampai meluk dia segala lagi,kalau sudah begini entar yang ada dia jadi makin kepedean," ucap Arya,saat Tiara sudah keluar dari kamarnya.


Sebuah ide cemerlang muncul di otaknya,dia ingin meminta Tiara agar mau mengawasi gerak-gerik Melisa dan Andika,kan Tiara sering di rumah nggak kemana-mana,sedangkan mamanya jarang berada di rumah dan sering ke kantor,hanya Tiara yang bisa diandalkannya sekarang,jadi Arya berniat ingin bersikap baik dengan gadis itu.

__ADS_1


....


__ADS_2