Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Mauren Berhasil Kabur


__ADS_3

Mauren terus berlari menghindari kejaran anak buahnya Marvel,di dalam malam yang gelap dan hujan yang turun dengan deras,membuat dia sangat kesulitan namun itu adalah kesempatannya,dia tidak mungkin menikah dengan orang yang telah membunuh papanya.


Surat yang beberapa hari lalu diberikan oleh seorang pelayan untuknya,itu adalah surat tentang siapa sebenarnya orang yang telah membunuh papanya,dan dalam surat itu mengatakan bahwa Marvel adalah pelakunya,dan pengirim itu menyuruh Mauren untuk pergi dari rumah Marvel,biar dia tidak menjadi korban selanjutnya.


Dan malam ini Mauren berhasil keluar dari rumahnya Marvel. Padahal,sebelumnya Mauren sudah memiliki tekad untuk menerima Marvel dalam hidupnya,tapi semua itu benar-benar diluar dugaannya,Marvel dengan tega membunuh calon mertuanya sendiri,dia sudah membuat Mauren menjadi gadis sebatang kara,Mauren sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini,dan dia juga tidak akan lagi dengan mudahnya mempercayai orang lain.


KEDIAMAN MARVEL...


"Kalian tidak becus menjaga Mauren,bagaimana bisa dia pergi dari sini?" teriak Marvel,suaranya menggelegar,dia dengan sembarangan mengobrak abrik seluruh isi kamar tidur yang ditempati Mauren.


Johan sahabatnya yang paling setia hanya menatapnya dengan pandangan iba,dia merasa kasihan terhadap Marvel,Marvel terlalu mencintai Mauren,dengan kepergian Mauren seperti ini pasti akan membuat sifatp temperamental cowok itu semakin menjadi-jadi.


"Akh... sialan!" kalian tidak ada satupun yang berguna!" Marvel mengayunkan kakinya hendak menendang bawahannya yang sedari tadi menundukkan kepalanya tidak berani berkata apa-apa.


"Vel,hentikan!" cegah johan sebelum kaki Marvel mengenai tubuh anak buahnya.


Marvel tersadar,kakinya berhenti bergerak dan masih melayang di udara,dia pun menurunkan kembali kakinya.


"Jangan selalu seperti ini,kamu jangan mudah terbawa emosi,jangan selalu melampiaskan kemarahan kamu kepada mereka,kamu harus ingat... Mereka adalah orang-orang yang setia sama kamu,mereka sudah mengikuti kamu dari kamu remaja,bersikaplah bijak!" tutur Johan mencoba menenangkan.


"Bagaimana aku tidak marah,Jo. Mauren pergi begitu saja,dan aku juga tidak tahu alasannya apa?" ucap Marvel,suaranya sudah sedikit melunak.


"Maaf sebelumnya bos,saya menemukan surat ini terjatuh di depan gerbang saat tadi mengejar nona Mauren." Ucap salah satu bawahannya,sambil menyodorkan selembar kertas berwarna putih.


Marvel tidak mau membacanya,dia mengambil surat itu dan menyuruh Johan yang membacanya,Johan bahkan tidak sanggup berbicara lagi,dia dengan tangan gemetar memberikan surat itu kepada Marvel biar cowok itu sendiri yang membacanya.


"Aku rasa lebih baik kamu sendiri yang membacanya!" ucap Johan,dia memberikan kembali surat itu pada Marvel. Cowok itu bingung melihat perubahan wajah Johan.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Siapa yang berani memfitnah aku seperti ini?" kini emosi Marvel tidak bisa diredam oleh mereka. Marvel ngamuk-ngamuk sendiri,dua bawahannya dan Johan langsung meninggalkan kamar,dan mereka mengunci pintu dari luar.


"Apa ini tidak akan berakibat fatal tuan?" tanya Gaara,lelaki itu adalah anak buahnya Marvel yang paling muda,umurnya baru 22 tahun.


"Saya rasa sebaiknya kita segera menemukan nona Mauren,agar bos Marvel tidak sampai melukai dirinya sendiri," usul Hendrik,dan pria ini adalah orang yang paling lama bekerja dengan Marvel,dia sudah berumur 35 tahun,mengikuti Marvel semenjak cowok itu masih kelas 2 SMP,sedangkan sekarang Marvel sudah berumur 25 tahun.


"Sekalipun kita menemukan Mauren,saya rasa dia juga tidak mau ikut dengan kita lagi,karena yang dia tahu sekarang pembunuh papanya adalah Marvel," ucap Johan,suaranya lemah dia juga bingung harus berbuat apa sekarang.


"Malam ini hujan juga begitu deras,pastinya Tiger dan teman-temannya juga tidak bisa menemukan Mauren," tambah Gaara.


\*\*\*


"Anda sudah sadar rupanya," tegur Steven,saat melihat Mauren sudah duduk ditepi ranjangnya.


Mauren masih tampak bingung,dia mengalihkan pandangannya kesekeliling ruangan,dan mulai melihat badannya yang sudah terbalut piyama. Ini aneh,dia menatap curiga ke arah Steven,dan spontan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Maaf,anda sudah salah paham,saya sama sekali tidak menyentuh tubuh anda,pakaian itu diganti oleh pelayan di rumah ini. Semalam anda pingsan ditengah guyuran hujan,dan saya yang membawa anda ke sini," Steven menjelaskan.


Mauren mencoba mengingat kembali,ya... terakhir kali yang dia ingat,dia sedang berada disamping halte sambil menunggu hujan reda,tubuhnya yang semakin lemas membuat dia tak sadarkan diri.


"Oh... aku baru ingat,maafkan aku karena sudah menuduh kamu yang bukan-bukan," pinta Mauren tulus.


"Tidak apa-apa saya mengerti,anda pasti sudah lapar,silahkan di makan dulu sarapannya!" dengan hati-hati cowok itu meletakkan sepiring nasi di atas meja disamping tempat tidur.


"Terimakasih,bisakah kita bicara seperti biasa saja,aku kamu? Ucapanmu terlalu sopan,aku tidak terbiasa." Ucap Mauren.


"Dengan senang hati!" cowok itu menjawab singkat,dia kemudian segera keluar dari kamar itu,menunggu Mauren selesai sarapan.

__ADS_1


Saat sudah berada diluar kamar,Steven mulai memikirkan rencana apa yang akan dilakukan selanjutnya,karena dia sudah kenal dengan Mauren. Mauren adalah tunangannya Marvel,dan cowok itu memiliki hubungan dengan Melisa,istrinya Ardian.


"Haruskah aku bertanya disaat seperti ini?" dia masih bimbang,terus melirik arloji yang melingkari tangannya,lima menit sudah berlalu,enam,tujuh,delapan hingga sepuluh menit.


"Pasti sekarang dia sudah selesai sarapan,apakah aku harus masuk sekarang dan menanyakannya?" Steven berkompromi dengan dirinya sendiri.


"Ah... masa bodoh," dia mulai mendorong pintu itu dan terlihat lah Mauren yang sudah menyelesaikan sarapannya dan duduk dengan manis ditepi ranjang,seperti tengah menunggu kedatangan Steven.


"Terimakasih karena sudah mau menolongku," ucap gadis itu.


"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong," jawab Steven datar.


"Aku sudah berhutang budi sama kamu,dan aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya."


"Aku ikhlas melakukan semuanya,jangan terlalu memikirkannya," ujar Steven,tidak mau Mauren jadi susah karena berpikir sudah memiliki hutang budi dengan dirinya.


"Tapi tetap saja,aku tidak mau memiliki hutang dengan orang lain,apalagi hutang budi." Mauren menundukkan wajahnya,dia terlihat gelisah.


"Kamu kenapa?"


"Kalau kamu tidak keberatan aku bisa bekerja di rumah ini,jika memang kamu membutuhkan pembantu,tidak perlu digaji," ucapan Mauren terdengar parau,jelas terlihat diwajahnya dia sedang menanggung banyak beban,dan sebenarnya menjadi pembantu itu hanya alasannya saja,dia sedang membutuhkan tempat tinggal yang aman supaya anak buahnya Marvel tidak bisa menemukannya.


"Kamu bisa tinggal disini kok,tidak perlu jadi pembantu tapi dengan satu syarat," ucap Steven yang membuat Mauren mendongakkan wajahnya dan menatap cowok itu dalam.


"Syarat apa?"


"Katakan alasannya,kenapa kamu kabur dari rumah Marvel?"

__ADS_1


Glekk... pertanyaan Steven membuat dia terkejut,bibirnya seperti membeku,kenapa Steven kenal dengan Marvel dan dia juga tahu kalau dirinya kabur dari rumah cowok itu,apakah Steven salah satu dari orang suruhannya Marvel?


__ADS_2