
"Tia..." Melisa memanggilnya dengan suara pelan. "Berikan cincin ini kepada Ardian! Meski aku sudah mengkhianati dia,tapi satu hal yang tidak pernah aku lakukan,yaitu melepaskan cincin tanda ikatan cinta ini. Namun,sekarang aku melepaskannya supaya dia bisa memberikannya kepada orang yang tepat." Melisa menengadah menatap ke arah Tiara,dia tersenyum meski air matanya terus jatuh mengalir. Ada banyak luka dan derita yang tersimpan di hatinya.
"Mbak jangan ngomong seperti itu."
"Ambil ini Tia,simpan baik-baik! Kalau mereka datang untuk menyelamatkan kamu dan aku sudah tidak ada,maka berikan ini pada Ardian." Lirih Melisa,dia meletakkan cincin itu dalam genggaman Tiara.
Tiara menangis sesenggukan,hubungan dia dan Melisa memang tidak baik,tapi saat melihat Melisa sekarat seperti ini membuat dia sangat sedih.
"Jika aku bisa hidup kembali,aku ingin menjadi orang yang memiliki hati selembut kamu,sebaik kamu,Tia. Tapi hidup itu hanya sekali,dan aku malah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik."
"Mbak,mbak nggak boleh ngomong seperti itu,kita akan keluar dari sini,mereka pasti sedang berusaha menyelamatkan kita. Jangan tinggalin aku,aku juga takut sendiri." Tangis Tiara semakin menjadi-jadi. Dia dengan erat memeluk tubuh Melisa.
Tiara menggenggam erat tangan Melisa yang terasa semakin dingin, wajahnya juga terlihat pucat dibawah terpaan sinar rembulan. Tiara sangat khawatir jika Melisa tidak akan bertahan.
"Aku bahagia sekarang,Tia. Aku bahagia bisa memiliki teman disisa terakhir hidupku. sampaikan maaf ku pada Ardian dan semuanya,aku akan membawa anak ini pergi bersamaku." Detik-detik berlalu dalam keheningan,Tiara dapat merasakan tubuh Melisa tidak lagi bergerak,dia sudah pergi.
Tuhan memanggilnya kembali,sang rembulan dan bintang-bintang dilangit menjadi saksi bisu atas kejadian malam itu.
Tiara lemah,dia menghapus air matanya pelan. Melisa menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya. "Selamat jalan,mbak! Semoga Tuhan mengampuni semua dosa mu." Ucap Tiara seraya mencium kening Melisa dengan lembutnya.
Tiara merasakan pandangannya mulai berkunang-kunang,tubuhnya juga terasa lemah. Dia sudah tidak kuat lagi,sambil merebahkan tubuhnya disamping Melisa,Tiara memeluk perempuan itu,untuk pertama dan terakhir dia menjadi orang yang mengantarkan kepergian wanita yang pernah menjadi musuhnya.
Tiara memejamkan matanya,sebelum akhirnya kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Di kesunyian malam,tampak terlihat sosok wanita berpakaian serba putih dengan wajah berseri-seri berdiri didepan dua wanita yang sudah tak sadarkan diri dalam artian yang berbeda. Yang satu tidak sadarkan diri tapi jiwa raganya masih bersatu,sedangkan yang satu lagi,dia sudah benar-benar tak bernyawa.
Sosok perempuan itu tersenyum melihat jasadnya,dia adalah Melisa.
__ADS_1
Mungkin jiwanya sudah tenang disana,perlahan sosok itu menghilang seperti di hembus angin.
\*\*\*\*
Dua minggu kemudian saat matanya terbuka,dia tidak mendapati siapapun berada di dekatnya.
Dia sendiri,Tiara menatap hampa ruangan kosong itu. Ruangan yang tampak asing baginya.
Tiara mulai berpikir kemana semua orang? Kenapa tidak ada satupun yang menjaganya?
Pintu kamar kamar mandi kemudian terbuka perlahan,dan dari balik pintu seseorang muncul. Lelaki itu tersenyum bahagia melihat wanita yang sangat dicintainya akhirnya sadar juga.
Arya berjalan menuju sisi tempat tidur Tiara,dia dengan penuh kebahagian mencium pipi istrinya berkali-kali.
"Kamu sudah sadar sayang? Aku menunggumu sangat lama,aku melewati hari yang begitu berat." Arya tak kuasa membendung air matanya,beningan itu jatuh mengalir di kedua sudut matanya.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu khawatir dan sedih." Tiara membelai lembut wajah suaminya.
Arya menghentikan pergerakan tangan Tiara yang masih membelai wajahnya,dia mulai menatap Tiara dengan begitu intens,dia sedikit menundukkan kepalanya,entah apa yang akan dilakukannya. Di detik berikutnya dia mulai mencium bibir wanita yang sudah sah menjadi istrinya,dia ********** dengan lembut,Tiara membalasnya dan itu tidak berlangsung lama,bahkan tak sampai satu menit.
Tiara masih begitu lemah,dia tidak ingin Arya bertindak terlalu jauh,jadi dia mendorong tubuh Arya agar sedikit menjauh darinya.
"Maaf,aku terlalu semangat hari ini,aku sudah terlalu lama menahannya." Ucap Arya setengah berlirih.
Melihat kekecewaan di wajah suaminya,Tiara jadi merasa bersalah.
"Nanti kalau aku sudah benar-benar pulih,aku akan melakukan tugas ku sebagai istrimu,jadi tidak usah memperlihatkan wajah seperti itu didepanku." Ucapnya ketus.
__ADS_1
"OMG! Aku benar-benar sangat bodoh,bukan kalimat seperti ini yang ingin ku ucapkan kepada Arya. Dan lagi,ada apa dengan nada bicara ku? Kenapa jadi ketus begini?" monolog Tiara dalam hatinya
"Baru sadar tapi sudah sejudes itu,entah bagaimana kalau sudah benar-benar pulih,mungkin kamu akan kembali seperti diri kamu sebelumnya." Ucap Arya bergurau,dia ingin melihat Tiara tersenyum lagi.
Namun kali ini sia-sia,Tiara tidak tersenyum sama sekali,dia masih teringat Melisa. Air matanya jatuh bergulir,dia kembali menangis.
"Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit? Mananya yang sakit,tolong tunjukkan padaku!" Arya sangat khawatir.
"Dimana mbak Melisa,mas?"
"Dia sudah meninggal,Tia. Kamu ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri sambil memeluk Melisa,jadi semua orang berpendapat bahwa kamu sudah tahu kalau Melisa sudah tiada,apalagi saat melihat baju kamu yang menutupi tubuh dia." Tutur Arya,dia menghapus pelan air mata yang mengalir dari sudut mata istrinya.
"Kalian menguburkannya dengan layak,kan?" Tiara memastikan.
"Kita melakukan yang terbaik untuk dia,semua orang sudah memaafkannya sayang."
"Lalu,bagaimana dengan mas Ardian?" Tiara semakin penasaran.
"Kamu baru sadar dari koma,dan sekarang mengajukan begitu banyak pertanyaan,aku tidak akan menjawabnya sekarang,tunggu sampai kamu benar-benar sembuh,kamu akan mengetahui sendiri bagaimana keadaan mereka." Arya tidak ingin membahas tentang kejadian itu untuk saat ini.
"Mas tidak mengatakan pada ibu tentang keadaanku ini kan?" Tiara sangat takut ibunya mengetahui keadaannya sekarang,dia tidak mau ibunya sedih.
Arya hanya menjawab dengan gelengan kepalanya,menandakan kalau dia memang tidak mengatakan pada ibu mertuanya kalau Tiara masuk rumah sakit.
-oOo-
Seminggu setelah keluar dari rumah sakit,Tiara meminta Arya untuk mengantarkannya ke rumah Marvel,dia ingin menyampaikan pesan yang dititipkan Melisa padanya.
__ADS_1
"Sungguh akhir yang sangat tragis Tiara." Marvel bergumam,tatapannya kosong. Sepertinya dia sangat terpukul dengan kepergian adiknya.
"Semua sudah berlalu mas,aku yakin mbak Mel sudah tenang disana,aku yang menemaninya disisa terakhir hidupnya,aku bisa melihat dia tersenyum. Dan aku yakin dia pasti bahagia,setidaknya dia tidak pergi dalam keadaan menyimpan dendam." Tiara menceritakan detik-detik terakhir sebelum kepergian Melisa.