
"Rintikan hujan mulai turun,diluar angin bertiup kencang,Melisa masih diam tanpa kata,sudah hampir dua jam dia seperti itu,Ardian mulai merasa ada yang aneh dengan istrinya,sambil memijit bahu Melisa dia bertanya baik-baik agar tidak menyinggung perasaan istrinya,karena akhir-akhir ini Lisa lebih mudah marah,dan sangat sensitif.
"Tiga hari kamu enggak pulang ke rumah,dan semenjak hari itu kamu sudah banyak berubah,lebih banyak diam,kamu punya masalah?" tanya Ardian.
"Tidak ada mas,aku hanya kelelahan saja,terlalu banyak masalah di kantor yang belum aku selesaikan," jawabnya berasalan. Tapi,jawaban itu belum membuat Ardian puas.
"Kamu kan bisa meminta bantuan dari papa kamu Mel," saran Ardian.
"Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri."
"Lalu dalam tiga hari ini,apa yang kamu lakukan di rumah orang tuamu?" Ardian bertanya lebih lanjut.
"Aku sakit mas,tubuhku terasa lemas,itu sebabnya papa menyuruh aku untuk tetap berada di rumah."
"Kamu cuma mengabari aku sekali saja,dan setelah itu kamu bahkan tidak menghubungi aku sama sekali," keluh Ardian sambil mencubit gemas pipi istrinya,Melisa hanya tersenyum,senyuman yang sebenarnya sangat dipaksakan.
Dalam beberapa hari ini,Melisa memang sedang memiliki banyak masalah,masalah yang memang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Kalau memang ada masalah yang terlalu membebani pikiranmu,kamu bisa berbagi denganku," ucap Ardian.
Melisa hanya menggeleng pelan,kemudian dia merebahkan kepalanya dibahu Ardian,menikmati setiap belaian lembut tangan suaminya sambil memejamkan matanya,tapi dalam bayangannya itu bukanlah Ardian melainkan Andika,ternyata dia memang sangat mencintai Andika.
"Aku tidak sabar ingin mengakhiri semua ini dan hidup bersama kekasihku," tekad Melisa dalam hatinya. Dia terus memikirkan berbagai macam cara agar bisa cepat-cepat keluar dari rumah itu,tentunya tidak dengan tangan kosong.
Sedangkan Tiara dengan malam yang dingin itu,dia harus kembali menghadapi sikap Arya yang membuatnya sangat jengkel.
"Kamu tidak akan mengatakannya?" tanya Arya lagi,dia terus mendesak Tiara dari tadi.
"Aku tidak akan mengatakan apapun pada mas Arya!" kata Tiara tegas.
"Oma pasti mengatakan sesuatu yang sangat penting,dan kamu bisa-bisanya merahasiakannya dari aku." Ucap Arya,dia semakin mendekat kearah Tiara,dan hal itu membuat Tiara deg-degan. Arya sepertinya akan mengambil kesempatan dari situasi saat ini.
__ADS_1
"A-apa yang akan mas Arya lakukan?" tanya Tiara dengan wajah yang lugu itu,membuat Arya semakin penasaran ingin menggodanya,Tiara mundur beberapa langkah,dia tampak gugup. Saat hendak kabur,Arya dengan cepat mencegahnya,dia menarik tubuh Tiara dan menghimpitnya ke dinding,sekarang bahkan tidak ada jarak di antara mereka.
Nafas Tiara memburu,dadanya naik turun,jantungnya dag dig dug tak karuan,Arya tersenyum senang saat melihat wajah Tiara yang bersemu merah.
"Tidak... tidak,kenapa harus sekarang? Aku belum siap," batin Tiara.
"Kalau di lihat dari jarak dekat,ternyata kamu lebih cantik," puji cowok itu,dia berbisik ditelinga Tiara,suaranya sangat menggoda.
Jujur saja,Tiara sangat senang mendengarnya,dia berasa seperti terbang di atas awan.
"Ti-tidak kah jarak kita terlalu dekat?" ucap Tiara semakin gugup.
"Malam ini sangat dingin,maukah kamu tidur bersamaku?" Arya menawarkan,dia terus menggoda Tiara,ini menjadi kesenangan tersendiri baginya.
"Eum.. it-itu aku tidak bisa,aku lebih nyaman tidur sendiri," jawab Tiara berusaha untuk menjauhkan wajahnya dari kepala Arya yang terus menunduk seperti ingin menciumnya,ini membuat Tiara sangat tidak nyaman.
"Benarkah?" Arya semakin menjadi-jadi,kali ini dia semakin mendekatkan bibirnya ke pipi Tiara,dan gadis itu dapat merasakan hembusan nafas Arya yang hangat di pipinya.
Tiara mulai menutup matanya,dia sudah pasrah karena menjerit dan minta tolong pastilah tidak mungkin,toh mereka juga sudah menjadi suami istri.
"Kau--- Kau pikir apa yang akan aku lakukan?" tanya Arya disela-sela tawanya,dia geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan sikap pasrah Tiara tadi,dia masih terus tertawa sambil memegangi perutnya.
Tiara kembali membuka matanya dan dia melihat Arya dengan tatapan kesal,ia sangat malu saat itu,ternyata Arya hanya bermain-main saja. Arya sengaja menggoda dirinya.
"Aku tidak memikirkan apa-apa!" ucap Tiara,dia pergi dari hadapan cowok itu.
"Hahah... tenang saja,aku tidak mungkin melakukannya."
"Aku juga tidak berharap mas mau melakukannya," jawab Tiara lagi.
"Apa mungkin kamu memang berharap kalau aku mau melakukannya?" tanya Arya,seketika dia kembali turun dari ranjangnya,kini wajahnya terlihat lebih serius.
__ADS_1
"Apa lagi yang dia rencanakan?" Tiara membatin,dia sangat waspada.
"Mas Arya,aku ingin tidur dulu,mataku sudah terasa berat," ujar Tiara saat Arya berbaring disisinya.
"Aku akan memberikanmu dua pilihan,menceritakan apa yang dikatakan oma tadi pagi atau..."
Arya tidak meneruskan ucapannya,tangannya dengan nakal mulai memeluk pinggang Tiara.
"Aku akan mengatakannya,semuanya..." Tiara berkata cepat.
"Bagus,bagus sekali.!" Arya menarik tangannya dari pinggang Tiara,dan kemudian meletakkannya diatas perutnya,sekarang dia tidur dengan posisi telentang disamping Tiara.
"Plihan yang bagus,kalau begitu cepat katakan!" suruh cowok itu sudah tidak sabaran.
"Aku akan mengatakannya,tapi,sebelum itu mas mau nggak ngambilin air untuk aku? Aku tidak berani ke dapur,kalau jam segini pasti masih ada mbak Tintin dan mbak Sella," pinta Tiara.
"Baiklah aku akan mengambilnya,kamu tunggu dulu," Arya langsung keluar tanpa berlama-lama lagi,dia sangat bersemangat karena akhirnya Tiara mau menceritakan apa yang dikatakan oma tadi pagi padanya.
Begitu Arya keluar,ia dengan cepat mengunci pintu kamarnya,ini adalah rencananya dari awal,dia sengaja menyuruh Arya mengambilkan air untuknya,supaya dia bisa mengunci pintu dan tidur sendiri,jadi tidak perlu mengatakan apapun pada cowok itu.
"Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang juga,rasakan itu,siapa suruh ngejailin aku." Tiara tersenyum penuh kemenangan.
Beberapa menit kemudian Arya kembali dengan membawa segelas air untuk Tiara,dia memutar gagang pintu tapi tidak terbuka,beberapa kali dicoba masih sama,dan ini membuat dia benar-benar kesal karena dirinya sudah berhasil ditipu oleh Tiara.
"Sialan...! Aku benar-benar ditipu oleh gadis kecil itu!" umpatnya.
Arya berlalu pergi dari sana,tidak berniat untuk menyuruh Tiara membuka pintu,dia memilih untuk tidur di kamar tamu saja malam ini,dan esok akan membuat perhitungan dengan Tiara.
Sedangkan di dalam kamar,Tiara sudah tidur dengan nyenyak,dia bahkan tidak tahu bagaimana kondisi Arya diluar sana.
"Akh..." Arya mengerang menahan rasa marahnya. "Tidur disini juga tidak nyaman," keluhnya lagi,mungkin malam ini dia tidak akan bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
"Dia sekarang pasti sedang menertawakan kebodohan aku,dan bisa jadi dia juga tidur nyenyak di atas ranjang empuk milikku,ini tidak bisa dibiarkan,aku akan memberi pelajaran besok untuknya." Ucap Arya,dia berpikir yang bukan-bukan terhadap Tiara,padahal Tiara sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya.
Arya mencoba memejamkan matanya,namun tiba-tiba wajah Tiara kembali terbayang dimatanya,momen saat dia menggoda Tiara tadi membuat perasaannya sendiri juga ikut gelisah,sekarang dia malah mengutuk dirinya sendiri kenapa berbuat seperti itu kepada Tiara,dia tidak ingin Tiara berpikir macam-macam,tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum,karena teringat wajah gadis itu yang merona akibat godaannya tadi.