Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Dijadikan Tawanan


__ADS_3

Tiara menyandarkan tubuhnya ke pohon besar yang sekarang menjadi tempat berteduh mereka.


Sejenak melepas lelah dan menghirup udara dengan perasaan lega,karena sudah jauh dari kejaran Melisa.


Apakah kita akan terjebak di hutan belantara ini?" Olivia bertanya,dia khawatir tidak bisa keluar lagi dari hutan itu.


"Kamu jangan berpikir yang bukan-bukan dulu,Liv. Yang penting sekarang kita bisa lari menjauh dari Melisa,semoga saja dia tidak menemukan kita disini." Ucap Mauren memberi semangat.


"Aku khawatir sama mereka bertiga mbak,apakah mereka bisa melawan anak buahnya mbak Mel." Lirih Tiara.


Tiara kembali teringat kepada Arya dan kakak-kakak iparnya.


Mereka terdiam,tidak tahu harus menjawab apa,dalam keadaan seperti ini mereka sama-sama merasa khawatir,hanya bisa saling menguatkan.


Tiara mulai merasa tangannya sakit,lengannya terasa begitu perih.


Setetes darah mengalir turun,terus bercucuran sampai ke telapak tangannya,dia kaget saat menyadarinya.


Mauren yang melihat hal itu juga tak kalah kagetnya.


"Darah? Ya ampun Tia,kamu terluka?" Mauren semakin khawatir saja.


Wajah Tiara mulai memucat,dia sebenarnya takut melihat darahnya yang mengalir deras.


Pandangannya sudah berkunang-kunang kala itu,tapi untuk membuat dua orang didepannya tetap tenang,dia berusaha kuat dan terlihat santai.


"Ini pasti sangat sakit,kamu kenapa tidak mengatakannya dari tadi." Olivia sangat cemas,wajahnya tampak begitu khawatir.


Tanpa pikir panjang Olivia segera merobek blezer maroon berbahan kaos yang dikenakannya,dia ingin mengikat luka sayatan di lengannya Tiara.


Mauren juga tidak tinggal diam,dia juga berusaha mencari dedaunan yang bisa dijadikan obat untuk menutupi luka di lengannya Tiara.


Melihat kedua orang didepannya yang begitu sibuk mengkhawatirkannya membuat Tiara terharu,dia baru sadar ternyata Olivia juga sangat peduli padanya.

__ADS_1


Mauren menempelkan daun itu di lengan Tiara yang terluka,kemudian baru mengikatnya dengan baju yang disobek Oliv.


Dengan wajah ditekuk Tiara meminta maaf,dia merasa sangat merepotkan.


"Maafkan aku mbak,maaf karena sudah ngerepotin mbak Mauren sama mbak Oliv." Ucap Tiara sedih.


Mauren yang masih sibuk membersihkan darah yang tadi menetes di telapak tangan Tiara segera menjawab. "Kamu terluka juga karena ikut membantu kita melawan ke empat anak buahnya Melisa,syukur kamu ilmu bisa bela diri,meski tidak jago-jago banget." Celetuk Mauren.


"Iya,aku sampe nggak berkedip saat melihatnya,nggak nyangka banget kamu yang terlihat polos gini,ternyata suhu." Olivia memuji sambil terkekeh. Benar-benar hal yang sungguh menakjubkan karena Tiara yang mereka kenal kalem dan lugu itu ternyata bisa karate juga.


"Hehe..." Tiara terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


"Aku pernah belajar sedikit ilmu bela diri waktu di SMP dulu." Sambung Tiara.


"Lalu,sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Oliv kebingungan.


"Sebaiknya kita cari tempat berteduh dulu,sebentar lagi sore,aku nggak mau kita bermalam disini,takutnya ada binatang buas." Ucap Mauren.


"Iya,kalau ada binatang buas yang lewat kita juga tidak akan berhasil melawannya." Tiara bergidik ketika membayangkannya.


Di hutan tempat mereka berada sekarang memang ada jalan setapak,tapi anehnya disekelilingnya semua pepohonan,Mauren juga tidak yakin di sana ada pemukiman warga.


Baru saja mereka bangun hendak kembali melanjutkan perjalanan,tiba-tiba empat anak buahnya Melisa kembali mengepung mereka.


"Nah! Ketangkap juga kalian,kali ini kalian tidak bisa kabur lagi." Seru lelaki berambut pirang.


Melisa tampak memegang pisau ditangannya,dan menyunggingkan senyum jahat diwajahnya.


"Ngapain lagi kalian kesini!?" sentak Mauren memperlihatkan wajah garangnya.


"Wah,punya nyali juga ini cewek ngebentak kita bos." Ucap lelaki yang bertubuh besar di antara mereka berempat.


"Aku tidak punya urusan dengan wanita itu,aku hanya menginginkan dia!" Melisa menunjuk ke arah Olivia.

__ADS_1


Pandangannya begitu tajam menatap ke arah perutnya Oliv,seakan-akan ingin membunuhnya saat itu juga.


Mereka bertiga sudah dikepung,sekarang tidak bisa lari dengan begitu mudah. Tiara masih berusaha mencari celah untuk kabur,meski lengannya sakit tapi dia tetap harus kuat,harus bisa membawa Olivia kabur dari sana.


Terus mencari cara,akhirnya dia memutuskan untuk mengulur waktu saja,membuat Melisa lengah.


"Mbak,mbak Mel seharusnya berhenti saja melakukan semua ini. Semuanya masih bisa diperbaiki,kita bicarakan ini baik-baik." Ucap Tiara.


"Tidak! Aku tidak mau bernegosiasi dengan kalian,aku hanya ingin meminjam Olivia sebentar,aku ingin membunuh anak yang ada dalam perutnya itu." Dia menatap Olivia dengan tatapan penuh kebencian.


Melisa begitu menakutkan. Oliv bahkan begitu erat memegang lengannya Mauren,keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Melisa! Hentikan kegilaan kamu ini! Kamu sudah membunuh ayah aku,dan sekarang kamu juga ingin membunuh anak yang sedang dikandung Olivia,kamu benar-benar sudah gila!" bentak Mauren,dia dengan penuh keberanian berdiri di depan Olivia untuk menghadang Melisa menyentuh Oliv.


"Ya,aku salah. Aku sudah salah besar karena membunuh ayah kamu,seharusnya yang aku bunuh adalah si tua Erick,aku tidak gila Mauren. Aku hanya terlalu ekstrem haha..." Melisa tertawa,tapi matanya tidak menyiratkan kebahagiaan,dia seperti orang yang tengah terluka,mungkin batinnya juga ikut tertekan.


"Kamu tidak bahagia Melisa,kamu tetap tidak akan bahagia meski membunuh anak aku." Kini Oliv angkat bicara.


"Tapi setidaknya aku sedikit tenang,karena sudah membuat kamu kehilangan bayi kamu." Dia menjawab sambil terus mengayunkan pisau ditangannya.


"Tia,apa yang harus kita lakukan sekarang?" Mauren mulai berdiri lebih rapat dengan Tiara,mereka semakin dibuat gundah dengan sikap gila Melisa.


"Tunggu apa lagi,bawa Olivia kesini!" perintah Melisa dengan suara lantang.


Situasi semakin mencekam,Tiara berusaha mencegah ke empat orang suruhannya Melisa,tapi sia-sia saja dia tidak berdaya,baru satu tendangan di arahkan ke atas lelaki yang mencoba menarik tangan Oliv,tiba-tiba dia dipukul dari belakang,membuatnya tersungkur ke tanah.


Olivia berada dalam cengkeraman Melisa sekarang,sedangkan Mauren ditawan oleh lelaki yang berambut pirang tadi.


Tiara masih berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk menyelamatkan Olivia.


"Kamu tidak akan bisa melawan mereka Tia. Sudahlah,biarkan saja aku membunuh anak yang ada diperutnya Olivia,kamu jangan takut aku hanya akan membunuh anaknya saja,bukan ibunya."


Melisa mencengkeram tangannya Oliv dengan begitu erat,dan mulai memainkan pisau dengan cara menempelkannya diperut Oliv,dia membuat seolah-olah ingin segera membelah perutnya (Olivia), membuat Oliv gemetar ketakutan.

__ADS_1


Dia benar-benar gila!


Tiara dan Mauren hanya bisa pasrah,mereka berharap kiranya pertolongan segera datang saat itu juga.


__ADS_2