
"Maaf sudah merepotkan mas Arya," lirih Tiara,dia merasa tidak enak hati diperlakukan seperti itu oleh Arya,meski sebenarnya merawat dirinya yang sedang sakit memang sudah menjadi tugasnya Arya,karena mereka adalah suami istri.
"Sudah menjadi kewajiban aku untuk merawat kamu sampai sembuh,jadi tidak perlu berterima kasih." Arya menjawab lembut,tidak sinis seperti biasanya.
"Mas,aku mau bilang kalau mas Arya harus menjaga mbak Olivia dengan baik,sepertinya mbak Mel memiliki niat buruk terhadap janin yang ada di kandungannya mbak Oliv." Tutur Tiara memberitahu.
"Apa kejadian ini memang dia yang merencanakannya?" tanya Arya sembari menyipitkan matanya.
"Heem." Tiara mengangguk. "Kalau saja mbak Mauren tidak mengatakan ada minyak yang ditumpahkan dilantai,mungkin mbak Olivia yang akan menjadi korbannya," lanjut Tiara.
"Apa mungkin Mauren tahu sesuatu mengenai Melisa?" ucap Arya berpikir.
"Ya,aku rasa juga begitu. Dan ini juga sangat aneh,mbak Mauren juga tampaknya menyembunyikan sesuatu dari kita,mas ngerasa begitu nggak sih?" mendengar penuturan Tiara,dia tidak langsung menanggapinya,Arya tampak tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu sebaiknya sarapan dulu ya,aku mau ketemu Mauren,mungkin dia sedang berada dirumahnya oma." Ujar Arya kemudian.
"Aku ikut!" pinta Tiara,kenapa akhir-akhir ini dia jadi nggak bisa lepas ya dari Arya barang sedetik pun. Arya yang sudah bangun dari duduknya mulai menatap Tiara dengan tatapan sedikit aneh,hatinya berbisik. "Dia jadi semakin lengket kayak perangko aja."
"Aku ikut!" ucap Tiara lagi,saat suaminya hanya terdiam.
"Tapi kamu belum sarapan dan minum obat." Arya beralasan,padahal dia memang tidak ingin Tiara mengikutinya.
"Arya... Arya!" panggil bu Amara dari luar kamar.
"Pasti mama,buka aja ma nggak dikunci kok!" sahutnya dari dalam. Perlahan pintu dibuka,dan terlihatlah sosok wanita yang tak lain adalah mamanya,tapi... di samping bu Amara ternyata ada seorang perempuan lagi,dia adalah Desi sahabatnya Arya sekaligus sekertaris cowok itu.
"Siapa itu,mas?" Tiara bertanya dengan rasa curiga dihatinya.
__ADS_1
"Teman dekat!" jawabnya singkat sambil berjalan dan menyambut kedatangan Desi.
"Dua hari nggak masuk kantor membuat aku khawatir aja,ku pikir kamu juga ikutan sakit," celetuk Desi.
"Dia tidak sakit Des,hanya tidak bisa lepas dari samping istri tercintanya," bisik sang mama,dan ucapan wanita itu terdengar jelas oleh Tiara dan Arya. "Kalian ngobrolnya disini aja ya,mama keluar dulu!" pamit bu Amara sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga di sana.
"Hai Tiara,bagaimana keadaan kamu sudah lebih baik,kan?" tanya Desi ramah,Tiara masih terlihat bingung karena cara Desi bicara terlihat sok kenal begitu,padahal Tiara sama sekali tidak mengenalnya.
"Mbak kenal saya?"
"Kenal dong,Arya sering cerita tentang kamu di kantor," jawab Desi sambil melirik kearah Arya dengan senyum menggoda.
"Jangan melebih-lebihkan,aku tidak pernah menceritakan soal kamu sama Desi,dia cuma mengarang cerita,nggak usah dipercaya.!" Arya menyangkalnya,dia tahu Desi ingin membuat dirinya malu didepan Tiara.
"Aku tidak percaya." Ucap Tiara spontan,omongannya membuat Arya tertawa,dan Desi harus gigit jari. "Haha... dia tidak akan percaya omongan kamu Desi,dia sudah tahu bagaimana sifat aku. Jadi,tidak mungkin aku sering menceritakan tentang dia sama kamu,emang apa menariknya dia?" ucap Arya di sela-sela tawanya.
"Ya,dia memang sering menceritakan tentang kamu sama aku,katanya saja tidak suka dan tidak peduli,tapi kamu lihat sendiri kan,dia bahkan rela tidak kekantor karena ingin menemani kamu disini." Ucap Desi yang membuat Arya semakin tersudut.
Tiara melemparkan senyum mengejeknya ke arah Arya.
"Mas Arya selalu mengataiku,tidak tahunya dia malah menaruh rasa," cicit Tiara penuh percaya diri,suaranya kecil hampir tidak terdengar,tapi Desi bisa mendengarnya dengan jelas. Sedangkan Arya tidak,karena dia duduk sedikit jauh dengan mereka,cowok itu duduk di atas sofa yang terletak didekat jendela kamar.
"Kamu benar Tiara. Maklum,dia memang begitu,hanya terlihat cuek padahal sebenarnya dia sangat perhatian,bahkan saat mendengar kabar kalau kamu jatuh dari tangga hari itu,dia sangat khawatir dan langsung pulang begitu saja,hingga menitipkan semua urusan kantor sama aku." Tutur Desi bercerita,dia setengah berbisik mengecilkan volume suaranya agar Arya tidak mendengarnya.
"Benarkah?" tanya Tiara dengan suara sedikit kencang.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Arya jadi curiga sendiri,apalagi saat Tiara melihat kearahnya sambil tersenyum,dan senyumannya itu membuat Arya geram sekali.
__ADS_1
"Bukan apa-apa," jawab mereka kompak.
"Mas sebaiknya ketempat mbak Mauren aja,kan katanya mau ke sana dari tadi,kenapa masih disini?" suruh Tiara,dia terkesan sengaja menyuruh Arya pergi,supaya tidak mengganggu obrolannya dengan Desi.
"Aku sedang kedatangan sahabatku disini,tidak mungkin pergi begitu saja,itu namanya tidak sopan," jawab Arya membuat alasan.
"Tidak apa-apa,disini juga ada Tiara. Kami bisa ngobrol berdua saja,kalau kamu memang mau pergi,silahkan!" tambah Desi.
"Kalian berdua ngusir aku dari kamar ini?" tanya Arya tidak percaya. Dua perempuan didepannya itu terlihat semakin menyebalkan. Tiara kembali tersenyum. "Kalau mas tidak mau keluar,ya tidak apa-apa,jangan memasang wajah kesal seperti itu,lagian ini juga obrolan perempuan." Ucap Tiara,dia sengaja membuat Arya kesal,biar cowok itu segera keluar dari kamar dan meninggalkan dia dan Desi berdua di sana,karena ada banyak hal yang ingin ditanyakan Tia kepada Desi tentang keluarga suaminya itu.
"Dasar,kalian perempuan sama aja,sama-sama menyebalkan!" sungut Arya sembari bangkit dan keluar dari kamarnya,mereka berdua sama-sama tersenyum melihat kepergian Arya.
"Kamu membuat suasana hati dia menjadi tidak baik,apakah tidak apa-apa?" tanya Desi sedikit khawatir.
"Tidak apa-apa mbak,dalam beberapa hari ini mas Arya menjadi lebih baik,dia sangat perhatian sama aku,jadi dia tidak akan marah,palingan cuma kesal gitu aja." Jawab Tiara. "Mbak,aku ingin menanyakan sesuatu," lanjutnya lagi mulai terlihat lebih serius.
"Tanyakan saja.!"
"Ini tentang papanya mas Arya,pak Wijaya. Apa benar papanya itu sudah meninggal?" tanya Tiara,dia sangat penasaran akan hal itu.
"Sampai sekarang aku masih tidak yakin kalau pak Wijaya sudah meninggal,meski saat aku bekerja di perusahaan itu pak Wijaya sudah tidak ada,namun aku mengenal beliau dengan cukup baik,karena aku dan Arya adalah teman sejak kecil," ucap Desi.
"Apa mungkin tentang kecelakaan pak Wijaya juga sudah direncanakan?" pertanyaan Tiara seketika membuat mata Desi tidak bisa berkedip,dia merasa takjub dengan pemikiran Tiara yang sama dengan apa yang dipikirkannya selama ini. "Kamu juga berpikir demikian kan,berarti kita sama,padahal kamu anggota baru di keluarga ini,tapi sudah seteliti itu memperhatikan tentang semua masalah yang terjadi di keluarga ini."
"Aku hanya ingin menolong saja mbak,kasian setiap kali melihat mama duduk termenung dikamar sambil menatap hampa foto papa yang terpajang didinding," ungkapnya. Tiara memang sudah beberapa kali mendapati ibu mertuanya itu sedih setiap kali melihat foto suaminya,Tiara tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dicintai.
\*\*\*
__ADS_1