Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Tragedi Berdarah Di Rumah Mauren


__ADS_3

Hanya bisa terdiam mendengar omongan Tiara,gadis itu benar,Arya tidak seharusnya memandang Tiara seperti itu tadi,Arya mencoba mengingat kembali kejadian tadi.


Satu Jam Yang Lalu...


"Wah kamu terlihat cantik sekali Tiara,benarkan Arya?" ibu Amara meminta pendapat anaknya.


Arya melongos tidak senang dan tersenyum sinis ke arah Tiara dia juga tidak lupa melemparkan pandangannya yang merendahkan Tiara. Tiara menyadari akan reaksi suaminya,dia merasa kecewa dan sedih. Arya langsung pergi dari sana,dia hanya bisa menatap kepergian Arya dengan perasaan sedih dan kecewa.


"Aku tidak sadar saat melakukannya." Arya memberi alasan yang tak masuk akal.


Tiara menutup seluruh tubuhnya dengan selimut,dia tidak ingin mendengar alasan apapun,karena dia tahu Arya memang tidak mungkin mencintainya,Arya hanya menjadikannya sebagai informannya saja.


"Aku tidak pernah sekalipun meminta lebih,aku hanya ingin dia menghargaiku sebagai istrinya,meski pernikahan ini tak pernah di harapkan namun semuanya sudah terjadi. Mestinya,dia bisa menerimanya dan tidak membuat aku terluka, ah... Tiara,harusnya kamu sadar diri!" Tiara berbicara pada dirinya sendiri,dia sudah tidak mendengar suara Arya lagi,mungkin suaminya itu sudah tidur atau dia masih merenungi kesalahannya,Tiara tidak tahu dan sama sekali tidak mau tahu.


\*\*\*


Olivia berbaring di atas ranjangnya dengan perasaan khawatir,dia terus teringat dengan perkataan Arya,yang mengatakan kalau bisa saja Andika selingkuh dengan Melisa.


"Ini tidak mungkin Oliv. Andika tidak akan mengkhianati kamu,dia itu sangat mencintai kamu,kamu adalah wanita terakhir dalam hidupnya!" Olivia mencoba menghibur dirinya sendiri.


Tapi sebenarnya keraguan tentang kesetiaan Andika mulai tumbuh dihatinya,karena dia sudah pernah memergoki Andika pulang bersama Melisa,dan dia juga tahu bahwa Melisa hanya menginginkan harta kakaknya saja. Bisa jadi Melisa juga ingin merebut Andika darinya,karena dia dan Melisa tidak pernah sekalipun bersikap layaknya saudara ipar,mereka bisa dikatakan seperti musuh.


Malam semakin larut,Olivia semakin cemas karena Andika tak kunjung pulang,dia kemudian memutuskan untuk menelpon kakaknya Ardian.


"Mas... mas Ardian ada dimana?"


"Aku masih di tempat acaranya teman aku,disini juga ada Andika,memangnya ada apa?" tanya Ardian di seberang sana.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa," jawab Olivia,dia memutuskan pembicaraannya dengan Ardian begitu saja,hatinya kembali tenang sekarang,ternyata apa yang tadi ditakutkannya tidak terjadi.


\*\*\*\*


RUMAH MAUREN


Mauren pulang dengan hati kacau,dia sudah dua hari tidak bisa pulang kerumahnya,karena Marvel terus menyuruhnya untuk tetap tinggal bersama,dan akhirnya malam ini dia berhasil kabur dari kediaman tunangannya itu.


Namun semua tidaklah seperti yang diharapkan Mauren,dia sangat terkejut begitu melihat seisi rumahnya berantakan,sofa diruang tamu terbalik,sepanjang ruangan dirumahnya menuju dapur dan ruang tv semuanya berantakan. Namun,tidak ada yang hilang,ini pasti ulah seseorang,begitulah yang dipikirkan Mauren,tapi siapa? papanya itu tidak memiliki musuh,apakah itu penculik?


"Papa...!" panggil Mauren


"Pa...!"


"Papa dimana?" Mauren terus memanggil ayahnya,sambil berjalan cepat menuju kamar sang ayah.


"Papa...!" dia merintih,menangis tidak berani mendekat,dan disaat seperti itu tidak ada yang bisa dia lakukan,dia sangat ketakutan.


"Papa... apa yang terjadi sama papa? Mengapa? Siapa yang melakukan ini semua?" dia terus bertanya-tanya,terduduk lemah di samping mayat papanya. Mauren ketakutan dia juga tidak berani menelpon pihak kepolisian,sekarang yang ada di pikirannya hanya Marvel,lelaki itu menjadi satu-satunya orang yang bisa dijadikan sandarannya,Mauren mengambil handphonenya dan kemudian dia menelpon Marvel.


Tidak sampai lima belas menit Marvel sudah sampai dirumahnya,dia juga sudah menelpon pihak kepolisian.


"Kamu tidak apa-apa kan?" melihat dari wajahnya saja,sudah jelas kalau Marvel memang sangat mengkhawatirkan keadaan Mauren.


Mauren menangis semakin dalam,dia seperti kehilangan jiwanya,melihat papanya meninggal dibunuh secara kejam seperti itu,dengan banyak tusukan di perut dan di dadanya,pastilah pembunuh itu menyimpan dendam pada sang ayah.


"Aku berjanji akan mencari siapa pelakunya,aku janji sama kamu kalau aku akan membuat orang itu membayar atas apa yang sudah dia lakukan!" ucap Marvel bersungguh-sungguh,dia memeluk Mauren dengan penuh cinta,saat ini Mauren sangat rapuh yang dia butuhkan hanyalah dorongan semangat untuk terus melanjutkan hidupnya meski tanpa sang ayah.

__ADS_1


\*\*\*\*


"Kamu masih tidak mau makan?" Marvel bertanya lembut.


"Aku tidak lapar," jawab Mauren sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Ini seperti mimpi,Vel. Aku tidak pernah membayangkan kalau hal semacam ini terjadi pada keluarga aku,dari kecil aku di jaga,dirawat dengan baik oleh papa,aku tidak pernah sekalipun melihat wajah mama,aku hanya punya papa. Tapi,tuhan begitu cepat mengambilnya,aku tidak marah karena ini adalah takdir,sudah ajalnya. Yang membuat aku marah kenapa orang itu bisa begitu tega membunuh papa aku,kesalahan apa yang sudah papa lakukan?"


"Hiks....!" dia kembali menangis, tatapannya terasa gelap,Marvel segera meletakkan piring itu di atas nakas,dan dia menarik tubuh Mauren agar duduk lebih dekat dengannya.


"Jangan menangis lagi,aku tidak bisa melihat kamu bersedih seperti ini," ucap Marvel,dia mengepalkan tangannya saat itu,menahan amarah di dadanya,ingin sekali cepat-cepat menemukan siapa yang sudah berani membunuh calon mertuanya,hingga membuat sang pujaannya kehilangan semangat untuk hidup.


"Tidak ada jejak sama sekali,bagaimana bisa kita menemukannya,rekaman Cctv di rumah juga dihancurkan,aku tidak yakin bisa menemukannya," lirih Mauren pilu.


"Aku sudah menyewa seorang detektif handal untuk mengusut tuntas kasus ini,kamu tenang saja kita pasti akan segera mengetahuinya," hibur Marvel.


"Aku ingin sendiri dulu,kamu bisa kan keluar sebentar,a-ak...


"Aku akan keluar,kamu tenangkan dulu pikiranmu!" ucap Marvel cepat,dia menjadi lebih pengertian sekarang,tidak lagi kasar dan cepat marah,sepertinya dia memang sangat mencintai Mauren.


"Kenapa disaat seperti ini aku masih juga ingin pergi meninggalkan Marvel?" Mauren bertanya pada dirinya sendiri.


Marvel sudah sangat baik,selalu ada saat dia butuhkan,tapi Mauren tidak mencintainya,terlebih lagi dia juga takut kalau berhadapan kembali dengan sikap temperamental tunangannya itu,dia memang tidak sanggup hidup dengan Marvel,niatnya untuk pergi sejauh mungkin kembali muncul,dia ingin pergi ketempat dimana Marvel tidak akan pernah bisa menemukannya.


Apa yang bisa diharapkan lagi sekarang? Dia memang sudah kehilangan semuanya,papanya sudah meninggal,tentang perusahaan itu dia juga sudah tidak ingin mempertahankannya,meski tahu kalau papanya akan kecewa dengan pilihannya itu. Tapi,Mauren harus tetap melakukannya,dia ingin hidupnya jauh lebih tenang,dia ingin mencari Ardian,sosok lelaki yang selama ini selalu dirindukannya,mungkin ini juga akan membuat Marvel terluka dan pastinya Marvel akan sangat marah,namun keputusannya sudah bulat.


"Non Mauren,maaf mengganggu waktu istirahatnya,saya hanya ingin mengantarkan surat ini,tadi seseorang menitipkannya dan meminta saya memberikannya kepada nona." Ucap seorang pelayan menyodorkan sepucuk surat kepada Mauren,kedatangan pelayan itu membuyarkan lamunan Mauren.


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2