Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Keluar Dari Tempat Persembunyian


__ADS_3

Angin berhembus pelan,mempermainkan rambut Melisa yang panjang sebahu itu. Dia duduk dengan tenangnya dibawah pohon besar yang ada di depan rumah Tintin.


Perempuan yang sudah lama dicari-cari oleh polisi dan juga keluarga Arya Wijaya karena kasus pembunuhan,dan ternyata dia bersembunyi di rumah kontrakannya Tintin dulu.


Saat ini yang setia kepadanya hanya Tintin.


"Kamu tahu Tin,hari ini Olivia akan pindah dari rumah orang tuanya dan dia akan tinggal dirumahnya sendiri,meski aku belum tahu kemana dia akan pindah,tapi aku sudah membuat rencana besar untuk menghancurkan dia hari ini." Ucap Melisa berapi-api,dia mengepalkan tangannya,sorot matanya juga terlihat tajam.


"Saya semakin tidak paham dengan jalan pikiran non Melisa,sebenarnya yang non benci itu pak Erick atau keluarga pak Wijaya?" tanya Tintin bingung.


"Sebenarnya aku tidak pernah membenci keluarga itu,hanya saja aku tidak suka dengan Olivia karena dia mengandung anak dari lelaki yang sangat aku cintai." Jawabnya lirih.


Di balik sisinya yang jahat itu,sebenarnya dia adalah perempuan yang rapuh.


"Aku sudah salah karena membunuh ayah Mauren,setiap saat aku merasa ayahnya Mauren selalu datang menemuiku,dan menyuruh aku untuk menyerahkan diri ke polisi,"  ungkap Melisa.


"Tapi kamu tahu kan Tin,kalau aku tidak mungkin menyerahkan diri aku sendiri sebelum aku berhasil membunuh si tua Erick?" Melisa bertanya meminta pendapat dari Tintin,dia menatap tajam ke arah pelayannya. Jujur saja saat itu Tintin mulai takut dengan sifat psiko Melisa.


Entah darah siapa yang bercampur ditubuhnya,hingga dia begitu besar keinginan untuk membalas dendamnya dengan cara membunuh orang yang sangat dibencinya.


"Sekarang pak Erick dan pak Leon sudah dipenjara,apa lagi yang bisa non Melisa harapkan? Apa Non tidak berniat untuk mengakhiri semuanya,dan kita pergi dari kota ini." Ujar Tintin,dia mencoba mengubah pola pikir majikannya itu.


Dia tidak ingin Melisa bertindak lebih jauh lagi,mereka berdua sudah berada di ambang kehancuran sekarang.


"Apa kamu takut dan menyesal,Tin? Kamu menyesal sudah ikut dengan aku?" tanya Melisa,tak ada tanda-tanda semangat hidup disetiap tatapannya.


Tintin memaksakan senyumnya terukir. "Ini bukan soal menyesal,non. Tapi,kita sudah pasti tidak akan selamat dari kejaran polisi,yang saya khawatirkan bukan diri saya sendiri tapi non Melisa dengan calon dedek bayinya," ucap Tintin tulus.


"Kita sama-sama memiliki gelar pembunuh,Tin. Kamu membunuh Yuna dan aku membunuh pak Doni,ayahnya Mauren. Hari ini,aku akan melakukan rencana yang sudah kususun dengan baik." Gumam Melisa,mengabaikan ucapan Tintin tadi. Suaranya terdengar lemah dan parau,jelas dia tidak bersemangat.


Tintin sendiri bahkan tidak tahu rencana seperti apa yang dimaksud nonanya itu.


"Apakah non Melisa benar-benar tidak ingin mengakhiri ini? Dan mengatakan alasan kenapa harus melakukan semua ini?" tanya Tintin,dia masih belum menyerah dalam upaya untuk membujuk Melisa,ini semua untuk kebaikan Melisa juga,apalagi dia sedang mengandung.


"Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku,aku harap kamu bisa menjelaskan semuanya kepada mereka. Dan tolong sampaikan permintaan maafku kepada Mauren," pesan Melisa,dia kemudian bangkit dari duduknya,melangkah masuk kedalam untuk mengambil kunci mobil dan pergi menjalankan misinya.


Tintin tidak mencegahnya,perempuan itu punya rencananya sendiri.

__ADS_1


Melisa sudah pasti tidak akan berhenti,jadi biar Tintin yang bertindak dan mengungkap semuanya.


Tintin memperhatikan mobil Melisa yang sudah keluar dari pekarangan rumah kontrakannya,mungkin ini akhirnya. Dia tidak boleh membuang waktu lagi,secepatnya harus segera bertindak.


Semua yang mereka simpan,rahasia Melisa kecil yang diketahui Tintin,dia akan mengungkapkannya kepada Marvel dulu.


Jauh di dasar hatinya,Tintin juga sangat menyesal. Kenapa dia harus mengambil jalan pintas dengan membunuh Yuna. Andai saja Yuna tidak ketahuan sedang merekam perbuatan Melisa yang memasukkan racun dalam minumannya Ardian,tentu saja hidup Yuna tidak akan berakhir tragis begitu. Karena terlalu setia kepada Melisa,dia mau melakukan apa saja,termasuk membunuh Yuna.


Tapi,apapun alasannya Tintin tetap bersalah,dia telah membunuh Yuna,dan sekarang dia harus mempertanggungjawabkan semuanya.


\_\_\_\_\_


Kediaman bu Amara


"Sudah siap,pa. Semuanya sudah selesai!" seru Olivia senang.


Andika yang berdiri disampingnya memeluknya penuh sayang,dan disetiap tatapan matanya selalu penuh cinta untuk Olivia.


Pak Wijaya tersenyum bahagia melihat keceriaan diwajah putrinya itu.


"Kita akan berangkat sekarang sayang?" tanya Andika.


"Tentu saja dong!" jawab Olivia masih dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Kita juga mau ikut nganterin,mbak!" ucap Tiara,dia punya niatnya sendiri. Arya sudah tahu kalau Tiara ingin pulang kampung. Apalagi rumah baru Olivia searah sama jalan menuju kampungnya Tiara.


"Cie... cie ada yang mau ikut nganterin atau mau ikut honeymoon,ni?" goda Andika.


Seketika raut wajah Tiara bersemu merah,dia malu ditanyain hal begituan.


"Apa-apaan sih mas Andika,becandanya nggak nengok-nengok tempat deh!" omel Tiara kesal.


Mereka tertawa melihat raut wajah kesal Tiara yang imut-imut itu.


"Oh iya,kita juga bersedia nganterin kamu,itupun kalau kamu izinin." Timpal Mauren.


Dalam beberapa hari ini dia juga sudah sering berbicara dengan Olivia,jadi suasana diantara mereka sudah tidak canggung lagi.

__ADS_1


"Wah ide bagus itu,lebih banyak yang nemanin kamu,maka itu lebih baik,jadi Melisa tidak akan bisa mecelakai kamu." Sambung nyonya Miska.


"Mama benar,biarkan saja mereka berempat nganterin kamu,Liv. Biar kamu lebih aman." Pak Wijaya juga setuju dengan rencana mereka.


"Mama sama papa nyusul belakangan ya,kalian pergi duluan aja!" suruh bu Amara.


Ardian dan Arya langsung memasukkan semua barang-barang Olivia kedalam mobil pick up.


Tak ada lagi yang tersisa,setelah saling berpamitan dan bersalaman,mereka pun segera pergi dari sana meninggalkan rumah mewah itu.


Olivia akan memulai hidup barunya bersama Andika,mereka sudah sepakat untuk melupakan semuanya dan membuka lembaran baru.


\_\_


Setelah kepergian anak-anaknya,kini bu Amara dan pak Wijaya duduk termenung didalam rumahnya,keadaan rumah tampak sepi.


Para pelayan sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri,suasana terasa begitu tenang,tapi tidak dengan hati mereka.


"Mama jadi khawatir Amara." Lirih Oma,beliau mengungkapkan perasaannya yang mulai gelisah.


"Berpikir yang positif saja,ma. Yakinlah bahwa mereka akan baik-baik saja,kita sama-sama mendoakan yang terbaik untuk anak-anak." Ucap pak Wijaya,menepis jauh-jauh kekhawatiran dihati Ibunya.


Bu Amara juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan ibu mertuanya,wanita itu juga mengkhawatirkan anak-anaknya.


Perasaannya tidak tenang sekarang,seolah sesuatu hal yang buruk akan segera terjadi.


Tapi untuk membuat suasana tetap tenang,dia hanya bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.


"Sebenarnya,ada satu hal yang belum kamu ketahui Wijaya." Ucap nyonya Miska,wajahnya terlihat begitu serius,seperti ada sebuah rahasia besar yang ingin diungkapkan oma sekarang.


"Mengenai apa? Hal apa yang tidak aku ketahui?" pak Wijaya mengerutkan keningnya.


"Tentang Leon,alasan dia sangat membenci kamu,itu semua karena dia iri sama kasih sayang papa sama kamu,dia itu marah karena kamu mendapatkan segalanya sedangkan dia tidak,dan kamu juga perlu tahu kalau sebenarnya Leon hanya anak angkat dikeluarga kita."


Glek!


Benar-benar sebuah kenyataan yang mengejutkan,pak Wijaya sangat tidak menyangka bahwa pak Leon bukanlah adik kandungnya,tapi anak angkat dikeluarganya,pantas saja dia sanggup merencanakan pembunuhan terhadap pak Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2