
"Kita kan nggak akan tahu kalau belum melihat langsung,mbak."
"Kamu yakin itu papa?" Olivia masih terlihat ragu.
"Aku yakin mbak!" jawab Tiara mantap.
"Tapi kan papa sudah...
"Oliv,sebaiknya kita cari tahu aja dulu!" potong Steven.
Steven juga yakin kalau pak Wijaya sebenarnya masih hidup,hanya saja dia tidak tahu dimana keberadaan lelaki itu.
Mereka menghentikan mobilnya tepat diparkiran Restoran Arwi itu,yang sebenarnya sudah berdiri sejak dua tahun yang lalu. Bahkan Steven sendiri sudah pernah makan di sana.
Namun,dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan pemilik restoran itu.
Steven merasa ada yang disembunyikan Tiara,kok bisa-bisanya dia menyimpulkan kalau Arwi itu adalah Arya Wijaya.
"Tia,aku masih nggak yakin ni. Kalau papa memang masih hidup kenapa papa nggak pulang kerumah dan menemui kita?" ucap Olivia mengungkapkan keraguannya.
"Kita turun sekarang yuk! Keburu maghrib nanti" ajak Steven sambil melepaskan seat belt nya.
"Aku yakin soal ini,mbak. Meski papa sudah merubah penampilannya." Tiara langsung turun.
Dia sudah tidak sabar ingin menemui papa mertuanya,dan ada hal lain yang disembunyikan Tiara. Saat membantu pak Wijaya mengutip berkas yang berjatuhan karena kecerobohannya,tanpa sengaja dia melihat kartu identitas asli lelaki itu,dan Tiara langsung saja mengantongi kartu itu. Dia tidak ingin memperlihatkan dulu kartu tersebut pada mereka,bahkan Arya pun tidak diberitahu sama sekali menyangkut kartu ID tersebut.
"Mau pesan apa mbak,mas?" tanya pelayan wanita yang memegang buku menu ditangannya dan menyodorkan buku itu kepada mereka.
Oliv mengambilnya,baru saja dibuka eh... Tiara malah langsung berkata. "Kita pesan makanan apa aja yang enak yang ada direstoran ini!" jawabnya cepat dan dengan santainya Tiara menutup kembali buku menu yang baru aja di buka Olivia.
"Nggak mau dilihat-lihat dulu menunya,mbak?" tanya pelayan itu.
"Nggak perlu!" Tiara menjawab diiringi dengan gelengan kepalanya.
Mereka menatap Tiara dengan pandangan aneh.
"Baiklah kalau begitu,airnya mau pesan apa?"
"Apa aja mbak!"
Tiara tidak memberikan Steven dan Olivia untuk memilih selera mereka sendiri.
Pelayan itu tidak bertanya lagi,jawaban Tiara sudah membuatnya cukup pusing.
"Ra,kok kamu nggak ngasih kita kesempatan untuk membuat pilihan sendiri sih?" sungut Steven.
Olivia memanyunkan bibirnya yang merah merona itu,dia agak merasa heran dengan sikap Tiara.
"Kita kesini kan mau cari tahu keberadaan papa,bukan buat makan-makan. Kak Steven sama mbak Oliv nggak lupa,kan?" tanya Tiara,dia mulai mencari-cari sosok keberadaan lelaki yang dicurigainya sebagai pak Wijaya.
Tak berapa lama kemudian makanan yang mereka pesan dibawa.
__ADS_1
"Tiara tidak langsung menyentuh makanannya,pandangannya mulai teralihkan oleh sosok dua lelaki yang tadi membantu pak Wijaya.
Tiara bangun dari duduknya,gadis itu berjalan mengikuti mereka menuju kesebuah ruangan.
Melihat gelagat Tiara yang aneh,Steven dan Olivia pun ikut bangun,mereka mengabaikan aroma hidangan lezat yang sudah tercium sampai ke hidung mereka,rasa lapar pun hilang begitu saja.
Mereka hendak kemana?
Dan siapa dua lelaki berpakaian hitam itu?
Lalu apa benar,kalau mereka adalah anak buahnya pak wijaya?
Mereka terus berjalan mengikuti dua lelaki itu hingga sampai disebuah ruangan dengan dinding bercat abu-abu.
Dua lelaki itu berdiri tepat didepan pintu ruangan. Steven bertanya setengah berbisik.
"Siapa mereka Tiara?"
"Tiara juga tidak tahu dengan jelas kak,mungkin mereka anak buahnya papa"
Tiara,Olivia dan juga Steven. Mereka bertiga berdiri tidak jauh dari kedua lelaki itu,keberadaan mereka sedikit tertutupi dengan dinding yang bersebelahan dengan dapur Restoran.
Beberapa saat kemudian pintu kaca itupun terbuka. Kini keluarlah seorang lelaki yang tak lain adalah pak Wijaya.
"Papa!" Olivia bergumam menyebut nama papanya.
"Itu benar-benar pak Wijaya,Oliv.Tiara memang tidak salah lihat. Sekarang papa kamu ada disini,dia masih hidup." Steven tersenyum senang,dia sangat terharu dan berbahagia.
"Apa kalian sudah mengatur semuanya? Sudah menyuruh pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus pak Erick?" tanya pak Wijaya
"Bagus! Kalian berdua memang bisa diandalkan." Puji pak Wijaya tersenyum senang,dua lelaki itu juga ikut tersenyum.
Olivia sudah tidak sabar lagi terus melihat dari balik dinding,dia ingin melihat langsung papanya yang sudah hampir lima tahun menghilang itu.
"Lho,Olivia kamu mau kemana?" Steven berusaha mencegahnya,tapi Olivia keburu keluar dan memanggil pak Wijaya.
"Papa!"
"Aku tidak salah lihat,kan? Papa ternyata memang masih hidup."
DEG!
Kedatangan Olivia menghentikan obrolan mereka,suasana menjadi sedikit menegangkan.
Keberadaan Pak wijaya sudah diketahui anaknya,beliau sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Dua orang lagi juga datang dan berdiri disisi Olivia,mereka adalah Steven dan Tiara.
"Pak,kami permisi dulu!" setelah mengangguk hormat,dua lelaki tadi langsung pergi meninggalkannya.
Pak Wijaya masih bungkam,mulutnya kaku tak bisa digerakkan.
__ADS_1
Melihat papanya yang masih berdiri mematung Olivia segera mendekat dan memeluk lelaki yang sejak lama dirindukannya.
"Papa,ini papa kan?" Olivia masih bertanya.
"Iya,nak!" jawab pak Wijaya,dia membalas pelukan putrinya.
Keadaan hening,anak dan bapak itu saling melepas rindu. Tiara dan Steven juga tidak bicara sama sekali mereka hanya menyaksikan saja.
\*\*\*\*
Sekarang mereka sudah berada dalam ruang kerjanya pak Wijaya,mereka duduk berhadapan.
"Padahal papa sudah mengatur semuanya,papa hendak pulang kembali ke rumah,setelah pak Erick dan Om Leon di beri hukuman yang tepat,papa ingin memastikan kalau mereka benar-benar di penjara seumur hidup." Ungkap pak Wijaya
"Kenapa tidak sekarang saja pa? Mama juga sangat merindukan papa,oma dan mas Ardian juga Steven." Ucap Olivia
"Papa tidak kangen sama mereka?" sambungnya lagi
"Siapa bilang papa tidak kangen? Papa selalu merindukan kalian. Hanya saja keadaaan saat ini benar-benar tidak memungkinkan untuk papa keluar dan berkeliaran diluar sana,kita tidak tahu jebakan apa lagi yang akan dibuat oleh om kamu dan juga mertua kakakmu,jika mereka tahu papa masih hidup." Tutur pak Wijaya.
"Ternyata pak Leon memang ada kaitannya dengan kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu?" Steven sungguh tidak menyangka dengan kabar yang didengarnya.
Pak Wijaya mengangguk. "Iya,dia melakukan semua ini karena terlalu benci dengan saya. Dia ingin mendapatkan apa yang saya miliki,saya tidak menyangka Steven,kalau Leon bisa setega itu," lirih pak Wijaya.
"Tiara keluar dulu,ya?" dengan agak ragu Tiara bangun dari duduknya berniat keluar dari ruangan itu.
"Kamu mau kemana,nak?" tanya pak Wijaya.
"Ini pembicaraan keluarga,Tiara tidak terlalu tahu kejadian beberapa tahun lalu, mestinya Tiara tidak disini," jawab Tiara seraya menundukkan wajahnya,dia merasa diabaikan saat itu.
Lagian,ngapain di ruangan itu kalau dia sama sekali nggak tahu menahu tentang keluarga suaminya,tentu saja kalau dia bicara akan tidak nyambung jadinya. Bukankah lebih baik keluar dari sana?
Pak Wijaya tersenyum mendengar omongan Tiara. "Kamu kan juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami,Tia."
"Iya,papa benar. Duduk saja disini dan dengarkan tentang rencana yang akan kita lakukan selanjutnya." Sambung Olivia.
"Bukankah kamu yang membuat mereka menemukan papa disini? Itu artinya,kamu bisa diajak kerjasama untuk membantu menyelesaikan semua masalah ini,kamu mau kan?" tanya pak Wijaya.
Tiara sedikit ragu,apa yang bisa dia lakukan?
"Semua masalahnya sudah selesai,apa yang bisa Tiara lakukan?" dia mengerutkan keningnya.
"Cukup tutup mulut kamu dan berusaha merahasiakan semua ini dari Arya!" ucap Steven.
Buk!
"Akh!" Steven meringis menahan sakit dibagian punggungnya.
"Rasain itu,kakak pikir mulut aku kayak ember bocor apa?"
Suasana diruangan itu menjadi lebih hidup saat suara tawa mereka terdengar. Oliv dan pak Wijaya tertawa melihat Tiara yang cemberut karena Steven.
__ADS_1
"Sakit juga pukulannya Tia,padahal tadi aku cuma bercanda doang," Steven mengelus-elus punggungnya yang dipukul Tiara.
-oOo-