Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Membela Bukan Berarti Cinta


__ADS_3

"Semoga apa yang mama katakan memang benar,kalau memang mas Wijaya masih hidup aku akan sangat bahagia." Ucap bu Amara dengan mata berbinar seketika,beliau juga merasakan hal yang sama,kalau selama ini suaminya itu masih hidup.


"Punya banyak harta itu juga tidak membuat mama bahagia,rasanya lebih tenang kalau bisa hidup sederhana seperti ini," ujar oma Miska. Bu Amara sedikit heran mendengar penuturan ibu mertuanya,apa dia tidak salah dengar kalau tadi ibu mertuanya itu mengatakan hidup sederhana?


Sambil tersenyum lucu,bu Amara berkata.


"Seperti ini mama bilang hidup sederhana?"


"Iya sederhana,dan ini membuat mama sangat nyaman,rasanya tenang,jauh dari pada orang-orang yang sibuk mencari kesempatan untuk merebut harta keluarga kita," jawabnya santai.


Bu Amara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan,rumah yang ditempati oma memang tidak terlalu besar,tapi di dalamnya sangat mewah,semua barang-barang mahal,rumah yang hanya memiliki satu lantai itu di desain dengan begitu sempurna,membuat betah berlama-lama tinggal disana,dan oma bilang beginilah hidup sederhana,pantas saja membuat bu Amara tertawa.


"Mama tidak sadar apa,rumah mama ini sudah termasuk mewah loh,meski tidak terlalu besar,namun di dalamnya semua barang-barang mahal. Dan di luar,tamannya juga sangat indah,bahkan mama juga menghabiskan puluhan juta untuk membuat taman itu,dan setiap seminggu sekali harus menghabiskan beberapa juta hanya untuk menyewa tukang kebun yang handal untuk merawat tanaman mama,apakah seperti itu yang dikatakan hidup sederhana?" tanya bu Amara sekali lagi,dan tentu saja pertanyaan itu membuat oma Miska jadi sadar,apa yang dikatakan menantunya memang benar,dia sendiri bahkan tidak bisa benar-benar hidup dalam kesederhanaan.


"Huh...!" oma Miska menghembuskan nafasnya yang terasa berat, "Lalu apakah mama harus tinggal di desa dengan gubuk bambu biar bisa dikatakan sederhana,begitu?" lanjut oma lagi.


"Bukan seperti itu juga ma,maksud hidup sederhana itu,ya kita harus bisa hidup apa adanya,nggak mencerminkan sikap yang berlebihan ataupun mengandung unsur kemewahan. Nah,kalau kayak kehidupan mama sih belum bisa dikatakan sederhana," tutur bu Amara menjelaskan.


"Mama masih sanggup membelinya,ya di beli saja,yang penting mama nyaman di sini,meski sendiri,daripada tinggal di rumah kamu sama menantumu itu,mama lebih suka disini." Ucap wanita itu jujur.


\*\*\*


Kediaman bu Amara...


"Siapa suruh kamu duduk santai di sini?" tanya Melisa yang datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Tiara. Tiara yang saat itu sedang duduk ditepian kolam seraya menjulurkan kakinya ke dalam kolam,langsung saja melihat ke arah kakak iparnya yang berdiri disampingnya dengan berkacak pinggang.


"Lagi menikmati pemandangan di sini saja,mbak," jawabnya santai.


"Buatin aku air dingin,cepat!" suruhnya memerintah dengan suara sedikit tinggi.


"Sekarang mbak.?"


"Tahun depan,ya sekarang lah!" jawabnya kesal menghadapi pertanyaan bodoh Tiara. Tiara langsung bangkit berdiri dan segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dingin yang di minta Melisa.

__ADS_1


"Biar mbak bantuin,Ra." Pinta Lia,akhir-akhir ini mereka berdua sangat akrab,sudah seperti kakak beradik. Tiara menggeleng pelan. "Nggak usah mbak."


"Pasti buat wanita itu kan?" tebak Lia.


"Ssst..." Tiara menempelkan telunjuknya dibibir Lia,menyuruh perempuan itu untuk mengecilkan volume suaranya.


"Jangan keras-keras ngomongnya,entar didengar mbak Mel," lanjutnya lagi.


"Kamu jangan mau diperbudak sama dia,kamu itu juga menantu di rumah ini,kamu berhak mendapatkan perlakuan yang sama," tutur Lia,dia sedang mengajari Tiara bagaimana menghadapi sikap Melisa yang suka seenaknya.


"Sudah nggak apa-apa,cuma buatin air doang mbak,apa susahnya," jawab Tiara sambil berlalu pergi,dia membawa sirup dingin itu untuk Melisa.


"Sudah selesai buatnya? Cepat banget,kuenya mana?" tanya Melisa,sebenarnya Tiara sangat kesal kala itu,tapi tidak bisa meluapkannya,dia hanya bisa bersabar.


"Aku ambil dulu,mbak!" ucap Tiara,dia kembali masuk kedalam.


"Buat siapa kue itu?" tanya Arya yang saat itu ternyata sudah pulang dari kantornya,dan kebetulan dia juga sedang berada di dapur,entah apa yang dilakukannya di sana.


"Untuk mbak Melisa,mas," jawabnya lembut.


"Ini kuenya,mbak!" Arya meletakkan kue itu dengan kasar di atas meja. Melisa jadi kaget melihat siapa yang membawa kue itu,dia mulai mengerjapkan matanya karena berpikir kalau itu hanya halusinasinya saja.


"Arya," ucapnya tanpa sadar.


Karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,Tiara segera datang untuk memastikan kalau semuanya baik-baik saja.


"Dia istriku,dia cuma berhak melayani aku,bukan yang lain apalagi mbak Melisa. Jadi,jangan coba-coba untuk menyuruh Tiara melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh pelayan. Ini yang terakhir,aku tidak ingin melihat mbak semena-mena sama istri aku lagi!" tegas Arya penuh amarah,kata-katanya tadi membuat hati Tiara berbunga-bunga dan Melisa melongo mendengarnya,dia tidak percaya kalau sekarang Arya malah membela istri kampungannya itu.


"Kamu ngebelain dia,Ar? Kamu nggak salah,kan?" tanya Melisa tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan dari mulut Arya.


Arya menatap tajam,tidak menjawab dia menarik tangan Tiara untuk menjauh dari tempat Melisa duduk bersantai saat itu.


"Aku tidak sedang mimpi kan?" Melisa bertanya pada dirinya sendiri seraya mencubit lengannya.

__ADS_1


"Ah,sakit..." ucapnya,bukan mimpi,ini memang kenyataan,Arya yang selalu mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mencintai Tiara,tapi dia tidak terima saat ada orang yang berlaku seenaknya terhadap Tiara,tanpa disadari dia sebenarnya sudah jatuh cinta pada istrinya.


\*\*\*


"Mas Arya tadi itu ngebelain aku atau gimana?" Tiara bertanya dengan polosnya,terdengar begok memang.


"Menurut kamu bagaimana?" Arya balik nanya.


"Nggak tahu." Tiara menggelengkan kepalanya.


"Lain kali kalau Melisa nyuruh kamu seperti itu lagi jangan mau,katakan saja kalau kamu itu bukan pelayannya dia!" suruh Arya.


"Tapi,dia itu lebih tua dari pada aku,nggak mungkin menolak permintaannya." Ucap Tiara,wajahnya terlihat bimbang.


"Kamu itu harus tegas jadi orang,jangan mau dimanfaatin,disuruh ini disuruh itu seperti tadi,mulai besok kamu nggak boleh lagi menuruti perintah Melisa seperti tadi,mengerti!" ucap Arya tegas sambil memegangi kedua lengan Tiara.


Tiara mulai menerka-nerka kalau Arya sudah bisa menerima kenyataan,bahwa dia sudah menjadi istrinya sekarang.


"Kok malah bengong sih,kamu mengerti kan dengan apa yang aku katakan barusan?" tanya cowok itu,saat melihat Tiara yang bengong dengan mata tidak berkedip sama sekali.


"Itu berarti mas Arya sudah bisa menerima Tiara,kan?" tanya Tiara penuh harap.


"Ya nggak lah!" jawabnya cepat.


"Lalu pembelaan tadi itu artinya apa?" Tiara semakin tidak paham dengan sikap Arya.


"Nggak ada artinya sama sekali,tadi itu aku ngebelain kamu karena aku memang tidak suka dengan sikap Melisa. Jadi,kamu jangan berpikir yang bukan-bukan ya," ucap Arya tersenyum sinis,jawabannya itu kembali menyadarkan Tiara.


"Ternyata itu semua dia lakukan bukan karena mulai mencintai aku,tapi karena dia sendiri juga tidak suka dengan mbak Melisa,dia memang tidak akan pernah menyukaiku. Tiara Tiara... mimpimu itu terlalu ketinggian," lirih Tiara dalam hatinya.


Arya kemudian berbalik dan berjalan menuju kamar mandi.


Tiara masih terpaku ditempatnya,dadanya terasa sesak,dia masih harus bertahan,dia harus bisa membuat Arya benar-benar mencintainya.

__ADS_1


Bisakah dia melakukannya? Dia sendiri juga tidak yakin. Menurutnya,hati Arya sangat sulit untuk diluluhkan.


__ADS_2