
"Masalah ini harus secepatnya diselesaikan,dan jika semua bukti sudah berada ditangan kita,mama akan langsung mengusir mereka berdua dari rumah." Ucap bu Amara dengan penuh semangat.
"Tapi satu hal yang harus kamu lakukan Amara,pastikan kalau tidak ada satupun yang bisa keluar dari rumah itu sebelum semuanya terbukti,jangan sampai mereka tinggal di rumah mereka sendiri,karena itu akan memudahkan mereka untuk melakukan semua hal,sesuai keinginannya,mereka akan mudah merebut harta keluarga ini,apalagi Ardian,sepertinya dia sangat mudah ditipu oleh istrinya sendiri," tutur oma panjang lebar.
"Aku akan terus memantau mereka ma,dan aku pastikan Melisa tidak akan pernah bisa mempengaruhi Ardian," ucap bu Amara meyakinkan.
"Besok Steven akan kembali bekerja,dia sudah memberitahukannya padaku tadi siang,dan katanya dia akan membawa salah satu saudaranya yang akan bekerja di rumah kita," ungkap Arya.
"Cewek apa cowok?" tanya Tiara cepat,responnya yang tidak biasa itu membuat ketiga orang disampingnya menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kenapa memangnya kalau cewek?" tanya Arya bingung.
Tiara tidak menjawab,wajahnya berubah cemberut. Oma dan bu Amara tahu kalau Tiara takut jika saudara Steven itu adalah seorang perempuan,mungkin dia cemburu.
"Aku hanya bertanya saja," jawabnya kemudian.
\*\*\*
Kediaman Steven...
"Bagaimana penampilanku sekarang?" tanya Mauren,sambil berputar didepan Steven memperlihatkan gaya barunya,dengan potongan rambut pendek dan memakai celana jeans dipadu dengan kemeja lengan panjang membuat gayanya terlihat tomboi,tapi itu tidak menghilangkan aura kecantikannya,hanya saja dia tidak terlihat seperti Mauren yang dulu. Jadi,kalaupun dirinya bertemu dengan anak buahnya Marvel mereka tidak akan bisa langsung mengenalinya.
"Masih tetap cantik,tapi aku yakin,dengan penampilan kamu yang sekarang tidak akan ada seorang pun yang bisa mengenali kamu,termasuk Marvel dan anak buahnya." Ucap Steven,dia sangat kagum melihat penampilan Mauren yang sekarang.
"Tidak akan ada yang tahu juga kalau aku anaknya pak Doni,pengusaha yang dibunuh secara brutal oleh seorang bajingan," sorot mata Mauren menampakkan kebencian yang mendalam.
"Jangan mengambil kesimpulan dulu Ren,kita tidak tahu siapa yang mengirim surat itu untuk kamu,dan apa benar Marvel yang membunuh papa kamu,kita bahkan tidak memiliki buktinya." Steven mengingatkan,dia tidak ingin Mauren langsung mengambil kesimpulan begitu,hanya karena selembar surat dari orang yang tidak dikenal.
.
.
Dalam mobil Mauren terus diam,merenungi nasibnya,rasa sedih kehilangan sosok seorang ayah membuat hatinya hancur,dia terpuruk begitu dalam,hanya ayah yang dimilikinya didunia ini,tapi sekarang lelaki itupun juga ikut meninggalkannya seperti mama,dari kecil Mauren sudah dijaga oleh papanya semenjak mamanya meninggal,jadi bisa dibayangkan bagaimana rapuhnya dia sekarang.
"Sudah sampai,Ren!" ucap Steven yang seketika membuyarkan lamunan panjangnya,cowok itu tahu saat ini hati Mauren masih merasakan kesedihan yang cukup dalam karena kehilangan orang tersayang dalam hidupnya.
"Kita sudah sampai,kok cepat bangat ya,aku sampai nggak sadar," ucap Mauren tersenyum.
__ADS_1
"Kamu sih keasyikan ngelamun," ujar Steven. Mauren menatap kagum rumah mewah milik keluarga Ardian yang memiliki halaman luas itu,disepanjang perjalanan masuk kehalaman rumah itu dihiasi dengan bunga-bunga yang tumbuh dengan subur dan indah.
"Halaman rumahnya begitu besar Steven,banyak bunga-bunga lagi," ucap Mauren kagum.
"Namanya juga rumah konglomerat," mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan ketempat dimana Tiara dan Arya sedang berdiri menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda. Steven dengan senyum ramahnya menyapa tuan rumah dengan sopan. "Selamat pagi pak Arya Wijaya," sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat pagi? Seharusnya yang kamu tanya itu kabar aku,bukan ngucapin selamat pagi," celetuk Arya yang membuat Steven terkekeh,rupanya mereka berdua sangat akrab,tidak kelihatan seperti bawahan dan seorang bos,lebih tepatnya mereka seperti dua orang sahabat.
"Ya elah,gitu aja jadi masalah," balas Steven,matanya kemudian beralih menatap Tiara.
"Eh,mas Steven ya? Kenalin,aku Tiara istrinya mas Arya," suara Tiara terdengar begitu lembut,dia tak lupa tersenyum,bahkan senyumannya itu menampakkan giginya yang berjejer rapi seperti mutiara.
"Steven," ucap Steven ikut tersenyum sambil menyambut uluran tangannya Tiara.
"Oh ya kenalin,ini Mauren,saudara aku." Ucap Steven memperkenalkan Mauren kepada Arya dan Tiara.
Mereka saling berjabat tangan,suasana tidak terlihat canggung sedikitpun,mereka tampak sudah akrab.
"Masuk dulu yuk! Biar Tiara buatin minum," ajak Tiara,dia merasa tidak sopan jika membiarkan tamu berada diluar tanpa di suguhin makanan dan minuman,mungkin bagi orang kaya seperti Arya itu hal biasa karena Steven hanya seorang supir,sedang kan bagi Tiara yang hidupnya di pedesaan merasa itu adalah kewajibannya menjamu tamu,ya... bagi Tiara, Steven itu adalah tamu,apalagi disana juga ada Mauren yang baru pertama kali datang ke rumah mereka.
"Silahkan duduk dulu mbak!" Tiara mempersilahkan dengan sopan. Melisa yang kebetulan lewat disana dan melihat sikap Tiara segera menegurnya.
"Kamu bersikap seperti tuan rumah disini,tidakkah itu terlalu berlebihan Tiara?" ucap Melisa sinis.
Arya langsung menanggapinya. "Memangnya ada yang salah dengan sikapnya Tiara,dia hanya mempersilahkan Mauren dan Steven untuk duduk," sergah Arya.
"Tiara minta maaf mbak,kalau sikap Tiara terlalu berlebihan," Tiara menundukkan wajahnya dan segera pergi ke dapur.
"Kamu mau kemana? Tetap disini!" perintah Arya.
Tiara membalikkan badannya,dan menatap Arya bingung. "Mau buatin minuman untuk...
"Biar Tessa saja yang membuatkannya," potong Arya,dan kebetulan juga Tessa saat itu baru saja turun dari lantai dua,mungkin baru selesai membersihkan kamarnya Olivia. Melisa tersenyum sinis melihat reaksi Arya yang dirasa sudah mulai menyukai Tiara,wanita itu pergi begitu saja,dia juga tidak ingin ribut dengan orang-orang yang menurutnya tidak penting.
"Itu dia Melisa,istrinya Ardian," bisik Steven. Mauren hanya manggut-manggut saja.
Tiara kembali duduk di samping Arya,berhadapan dengan Mauren dan Steven. "Kebetulan sekali,mbak Olivia kan lagi butuh sopir nih,tentunya Mauren mau dong jadi sopir pribadinya mbak Oliv.?" Arya kembali memulai percakapan.
__ADS_1
"Wah,kebetulan sekali kalau begitu,gimana Ren,kamu mau nggak?" Steven meminta kepastian dari Mauren.
"Tentu mau,kan aku kesini memang mau kerja,kalau pak Arya memberikan saya pekerjaan jadi art saya juga mau," jawab Mauren,karena disisi lain dia tidak berharap jadi sopir,dia lebih suka jadi pelayan saja disana,dengan begitu dia akan lebih mudah mengawasi Melisa.
"Memangnya mbak Mauren nggak keberatan jadi pelayan disini?" tanya Tiara heran,jelas saja dia heran,karena jadi pelayan di rumah keluarga Arya itu sangat melelahkan,bekerja mulai dari pagi sampai malam.
"Saya malah senang," jawab Mauren meyakinkan.
Arya menatap Steven,seolah meminta penjelasan dari cowok itu. Steven tidak menjawabnya dia hanya memberi isyarat dengan tangannya untuk mengecek handphone,Arya pun tanpa disuruh dua kali langsung saja mengambil hp yang berada disaku celananya,melihat ada satu pesan masuk dari Steven yang isinya.
"Kalau kamu ingin permasalahan ini cepat terselesaikan,sebaiknya izinkan saja Mauren untuk menjadi pelayan disini,dengan begitu dia bisa ikut membantu Tiara mencari bukti tentang Melisa."
Arya kembali menyimpan ponselnya,cowok itu setuju dengan usulan dari Steven.
"Kalau begitu,mulai sekarang kamu tinggal disini saja dan menjadi pelayan di rumah ini. Tapi,kamu harus mengawasi Tiara,bukan yang lainnya,urusan kamu adalah melayani Tiara!" tutur Arya,dia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan,seolah memperjelas tugas Mauren.
Ampun deh,ucapannya itu membuat Steven menepuk jidatnya. "Ternyata dia memiliki konsepnya sendiri," gumam cowok itu dalam hati,padahal maksud Steven nggak kayak gitu juga,mungkin Arya punya rencana sendiri.
"Menjadi pelayan untuk non Tiara juga tidak apa-apa,saya tetap mau,bahkan saya merasa sangat senang." Mauren berkata sopan,seolah dia benar-benar pelayan. Tiara yang mendengar Mauren memanggilnya dengan sebutan non,mulai merasa tidak nyaman.
"Jangan dipanggil non mbak,panggil saja Tiara. Rasanya tidak sopan,saya tidak enak mendengarnya."
"Bukankah seperti itu lebih sopan,ini merupakan batasan antara majikan dan pembantunya," ujar Mauren memperjelas.
"Disini semua memanggil saya Tiara,saya juga anak seorang pembantu,jadi nggak ada bedanya," jawaban Tiara seketika membuat mereka tercengang,Mauren merasa sakit dihatinya saat mendengar ucapan Tia,dan Steven merasa sedih,sedangkan Arya merasa sangat bersalah terhadap Tiara karena seringkali merendahkan istrinya itu.
Melihat ketiga orang itu bungkam,Tiara tersenyum. "Kok pada diam?" tanya Tiara,dan saat itu mereka tersadar.
"Diminum dulu airnya,aku mau kedapur dulu!" tanpa menunggu respon dari mereka,Tiara langsung pergi,saat pergi tatapannya hampa,ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya.
"Kita bahkan tidak sadar saat Tessa meletakkan air disini." Ucap Steven begitu Tiara hilang dari pandangan mereka.
"Mendengar omongan dia tadi,membuat aku merasa sangat bersalah," lirih Arya.
"Dia sosok istri yang baik,tapi sayang,beban hidupnya terlalu besar," tambah Mauren.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Arya,raut wajahnya sangat gelisah. "Ini soal hati,para lelaki sulit untuk mengerti." Ucapnya seraya meminum seteguk air yang disuguhkan untuk menjamu mereka.
__ADS_1