Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat

Ketika Anak Pembantu Menjadi Istri Anak Konglomerat
Rasa Gelisah


__ADS_3

"Kamu terlihat ketakutan,ada apa?" tanya Arya begitu Tiara masuk.


Tiara langsung menceritakan apa yang tadi didengarnya.


"Tadi,aku ngikutin mas Andika sama mbak Mel,dan mereka membahas soal kerja sama antara..."


Tiara jadi lupa nama lelaki yang tadi di dengarnya,membuat dia kebingungan dan tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.


"Antara siapa Tiara?" tanya Arya penasaran.


"Tia lupa mas," jawab Tiara sambil tersenyum.


"Dia lupa lagi," lirih Arya terlihat kecewa.


"Tapi,Tiara ingat saat itu mbak Mel mengatakan begini... "Apa dia tahu kalau semua ini papa yang merencanakannya?" kata Tiara meniru gaya bicaranya Melisa.


"Dari cerita kamu,aku bisa menyimpulkan kalau Melisa itu punya seorang kakak,benarkan?" Arya meminta pendapat Tiara.


"Mungkin saja," jawab Tiara singkat,diiringi dengan anggukan kepalanya.


Saat dirasa kalau tidak ada lagi hal penting yang perlu dibahasnya dengan Arya,Tiara memilih untuk segera tidur,karena matanya sudah terasa berat,dia sudah sangat ngantuk.


\*\*\*


Hari ini Arya pergi buru-buru sekali,dia dengan cepat memakai jasnya yang sudah disiapkan oleh Tiara. Dia terlihat sangat bersemangat pagi itu,bahkan tidak sempat sarapan,kedua kakaknya dan sang mama heran melihat sikap dia pagi ini,dan ternyata hal itu membuat Andika dan Melisa terlihat khawatir.


Jarak kantor dan rumahnya itu cukup dekat,dia hanya butuh waktu 15 menit untuk tiba di kantornya. Begitu tiba dikantor Arya langsung masuk keruang kerjanya dan ternyata Desi sudah menunggunya.


"Gimana hubungan kamu sama Tiara?" itu pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulutnya Desi.


"Kamu memangnya tidak punya pertanyaan lain lagi,ya?" ujar Arya melirik sekilas ke arah Desi,dia kemudian duduk dengan santai di atas kursi kebesarannya.


"Nggak ada,akhir-akhir ini hubungan kamu dengan Tiara cukup mengalihkan perhatian aku,dan aku sudah tidak sabar ingin bertemu langsung dengan istri kamu yang katanya sangat cantik itu," goda Desi,yang membuat Arya jadi salah tingkah,tiba-tiba saja wajahnya terasa panas. Tapi,entah kenapa hatinya merasa senang mendengar sahabatnya itu memuji Tiara.

__ADS_1


"Hentikan omong kosongmu itu Des,aku menyuruh kamu kesini karena ada informasi baru tentang Melisa,yang baru aku dapatkan semalam," ucap Arya sengaja mengalihkan omongan Desi,biar dia tidak ketahuan kalau sebenarnya hatinya itu sudah merasa suka sama Tiara.


"Kebetulan aku juga mau mengatakan sesuatu," ungkap Desi.


"Kalau begitu kamu saja duluan!" suruh Arya.


"Tidak apa-apa,kamu duluan aja!" ucap Desi.


"Kamu saja!"


"Kamu duluan aja!" Desi masih tidak ingin mengatakannya,dia menyuruh Arya duluan yang mengatakan tentang info yang didapatnya.


Mereka terus seperti itu hingga waktu lima menit terbuang sia-sia,cuma sekedar mengatakan informasi doang harus saling berselisih dulu.


Hingga akhirnya Arya duluan juga yang bicara,dia menceritakan apa yang didengar oleh Tiara kepada Desi.


"Dan menurut aku,Melisa itu mempunyai seorang kakak,atau adik mungkin," pungkas Arya.


Arya tampak sangat terkejut mendengarnya,tapi sedikit merasa curiga dengan Desi,karena dia bisa begitu mudahnya mengetahui tentang keluarga Melisa,padahal dia sendiri yang adik iparnya saja tidak tahu kalau Melisa memiliki seorang kakak.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Desi,merasa risih dipandangi oleh Arya dengan tatapan menyelidik.


"Tidak ada,hanya sedikit heran saja," jawabnya kemudian sambil sedikit tersenyum.


"Aku mengetahuinya dari Steven,baru-baru ini aku menyuruh Steven untuk mengawasi gerak gerik Melisa. Eh,tidak tahunya dia malah memergoki Andika bertemu dengan seorang lelaki,dan kemudian dia mencari informasi tentang lelaki yang bertemu dengan Andika,setelah di selidiki lebih lanjut ternyata dia kakaknya Melisa," tutur Desi bercerita,mata Arya sedikitpun tidak berkedip,dia melongo mendengar informasi dari Desi. Arya semakin bingung saja.


Selama ini dia hanya mengetahui kalau Melisa itu anak tunggal,dia tidak punya saudara sama sekali,itu sebabnya berita yang didengarnya dari Desi benar-benar membuat dia terkejut.


Lalu apa mungkin hanya dia yang tidak tahu kalau Melisa itu punya saudara,atau mama dan kakaknya juga tidak tahu? Dia akan menanyakan hal ini nanti kepada sang mama,biar tidak perlu menerka-nerka lagi.


\*\*\*\*


Dua pelayan yang bertugas untuk mengurus semua keperluan Melisa sedang sibuk membersihkan halaman belakang rumah saat itu,ketika Tiara dengan santainya membuka gerbang yang menuju hutan belakang rumah.

__ADS_1


Tintin yang yang melihat hal itu tanpa sadar membelalakkan matanya,dan Sella menyadari perubahan wajah temannya yang terlihat tegang.


"Kamu kenapa jadi kelihatan tegang begitu Tin?" tanya Sella bingung.


"Eh... Eng-enggak kok. Gini,aku cuma heran aja ngapain coba Tiara itu membuka gerbang yang ada di sana,itukan pintu gerbang yang mengarah ke belakang rumah."


Sella kemudian melihat Tiara yang yang sudah keluar,namun dia hanya melihatnya sekilas saja dan berkata. "Biarkan saja,palingan dia cuma iseng doang,nanti kalau diterkam binatang buas baru tahu rasa," Sella terlihat tak peduli sama sekali.


"Tapi di sana tidak ada binatang buas Sella,hutan itu kan tuan Wijaya sendiri yang membuatnya,dia yang menanam pohon itu,mana ada binatang buasnya," kata Tintin.


"Berarti bagus dong,jadi dia tidak akan mati di sana." Ucap Sella.


"Kamu tidak mau menghentikannya,Sell?" tanya Tintin,kekhawatiran di wajahnya semakin terlihat jelas. Sella mulai merasa ada yang aneh,tadi Tintin sendiri yang bilang kalau disana tidak ada binatang buasnya,tapi sekarang kenapa dia malah menyuruh Sella untuk menghentikannya agar tidak masuk ke dalam hutan itu.


"Aku heran sama kamu Tin,tadi kamu bilang disana itu nggak ada binatang buasnya,tapi kamu malah terlihat khawatir,kenapa ya? Apa di sana ada semacam hantu,hantu penunggu?" pertanyaan Sella semakin memojokkannya,dia tidak bisa menjawab apa-apa,hanya sedikit tersenyum agar Sella tidak menaruh curiga pada dirinya.


"Huh..." Tintin membuang nafasnya yang terasa berat.


"Untuk apa ngurusin anak itu,pekerjaan kita sendiri aja belum kelar," pungkasnya,dia kemudian beralih menyapu lantai di samping kolam renang dan membuang semua daun kering yang ada di pinggiran kolam itu,dia terlihat tenang sekarang,namun itu hanya permukaannya saja,sedangkan dalam hatinya dia sangat khawatir jika Tiara sampai menemukan sesuatu di sana. Sebuah rahasia yang hanya dia yang tahu.


Sella terus memperhatikannya,dia merasa Tintin bersikap cukup aneh hari ini,Sella juga mulai penasaran memangnya ada rahasia apa di hutan itu.



\*\*\*


"Hutan ini terlihat indah." Tiara berdecak kagum,dia terpana melihatnya. Melihat burung-burung yang terbang dan kemudian hinggap di ranting pohon.


Tiara terus berjalan menyusuri hutan tersebut,dia sangat senang dan merasa sangat nyaman untuk bisa berlama-lama di sana. Namun,hatinya tersadar kemudian,dia baru ingat akan tujuan dirinya datang ke sana.


"Aku kesini kan ingin mencari bukti tentang kematian mbak Yuna,apa benar dia dibunuh dan kemudian di buang disini," batinnya.


Dia kemudian mulai melihat dengan teliti di sekitar pohon itu,dan betapa terkejutnya Tiara saat dirinya mendapati kalau ada kuku yang menancap di pohon besar yang ada di depannya,dia mulai merasakan aura dingin dan bulu kuduknya juga ikut berdiri,merinding rasanya. Tapi,dia tidak mungkin kabur begitu saja,dia harus tetap di sana dan mengambil bukti itu.

__ADS_1


__ADS_2