
Malam semakin larut, semua hening tak bersuara saat berada diruang kerja Paman Fahri, Sedangkan wajah Richo semakin kacau karana tak ada satu pertanyaan dari Paman yang lolos dia jawab .
Dengan percaya diri, dan sikap yang lantang, Richo mengungkapkan isi hatinya dengan tegas yang melegakan semua orang yang masih berada disekitar mereka.
"Paman. Bantu saya untuk masuk Islam. Bantu saya untuk mengenal Islam. Bantu saya untuk mengenal Allah. Bantu saya untuk lebih dekat dengan sang pencitpa . Mohon bimbingan Paman untuk kedepannya." Tegas Richo mengagetkan Imam dan kedua temannya.
" Alhamdulillah. Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepadamu nak Richo.Insha Allah pasti saya akan membimbing kamu untuk lebih mengenal Islam dan semakin bertawakkal kepada Allah SWT."Sambut Paman dengan bahagia.
Begitu juga dengan Fahri yang langsung memeluk Richo dengan haru.
Sampai waktu subuh pun tiba, Mereka pun shalat berjamaah bersama selain dihadiri oleh Richo dikarnakan belum nya dalam mengucap dua kalimat syahadat . Dengan shalat subuh kali ini di imami oleh paman Fahri sendiri, setelah shalat paman langsung mengumumkan pada Annisa, Istrinya dan 2 pegawai rumah tangganya yang ikut dalam shalat berjamaah. Bahwasannya mereka menjadi saksi akan islamnya Richo yang membuat Annisa tersenyum bahagia, tak lupa dia bersyukur dalam hati dengan bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW.
"Alhamdulillah ya Allah. terima kasih atas kabar baik ini. Hamba akan membantunya untuk lebih dekat dengan MU ya Allah. Semoga kau meridhai Niat baik kami semua dan selalu meridhai hidup kami. Aamiin." Doa Nisa sampai tak disadari telah meneteskan air matanya. Lalu dengan cepat dia menyeka dengan kedua tangannya.
Paman dan Richo pun saling bersalaman, dengan sedikit terbata Richo mengucapkan apa yang diucapkan Paman yaitu kata syahadat tersebut. Setelah mengulang kembali bacaan tersebut , Richo semakin lantang dan fasih dalam mengucapkannya hingga disambut bahagia yang melihat dan menyaksikan kabar gembira itu.
Paman Fahri pun memeluk erat tubuh Richo untuk memberi selamat lalu memberi sedikit nasihat.
" Perbanyaklah belajar, selalu bersabar, karna semakin kedepannya hidup akan tak mudah untuk dijalani untuk pertama kali. Tapi bersabar lah Anak ku, buatlah kebaikan. Karna sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang bersabar. Allah telah memberikan Hidayahnya sepanjang malam tadi, semoga kau menjadi orang yang shaleh. Beritahu Ayah Ibu nak Richo. Berkata baik pada mereka. Jangan pernah membantah kata mereka kecuali membantah perintah Allah." Pesan paman setelah memeluk Richo dan dibalas Richo dengan haru. Annisa yang melihat kejadian ini malah tak berbendung hatinya, dan tidak sangkaannya apa yang terjadi didepan matanya ini. Ya seorang dokter jenius telah menjadi Mualaf dan memulai hidup barunya sebagai seorang muslim.
"Selamat datang saudaraku , semoga berkah kedepannya, jangan berputus asa. Jalani dengan sabar pasti hasilnya akan lebih indah koq. Hehehe" Peluk Imam dan juga sambutan dari kedua teman nya yang lain.
Selepas acara itu, Akhirnya mereka makan terlebih dahulu agar Annisa dan Richo bisa pulang dan melanjutkan kerjanya diRS. Setelah sarapan mereka pun pamit untuk berangkat kerja. Karna memang masih terlalu pagi dikarnakan jarak tempuh yang mereka jalani menuju RS mereka lumayan jauh.
" Dok saya aja ya yang nyetir?" Pinta Nisa dikarnakan Khawatir pada Richo yang hampir semalaman tidak tidur bersama paman.
__ADS_1
" Gak papa saya aja, Masih sanggup kok" Jawab Richo lembut.
"Udah Dokter istirahat aja, Karna tadi malam kan gk tidur. Takutnya dokter kelelahan untuk operasi nanti siang".
" Baik lah. Ini." Serah Richo dan mengambil posisi duduk disamping Nisa yang menyetir. Lalu mulai mengatur duduk dimobil untuk posisi wenak.
Annisa melajukan mobil Richo menuju RS. Sedangkan Richo tertidur pulas disamping Nisa.
Hampir se jam diperjalanan, tibalah mereka di RS.
" Dok bangun, sudah sampai RS?" Bangunkan Nisa, Richo berlahan membuka mata dan mengusap usap wajahnya.
" yah.." Balas Richo sedikit sadar dan kikuk.
" Kenapa gak enak. Kita kan gak ngapa ngapain?"
" Hehe takut ada gosip yang lain muncul setelah liat kita keluar mobil berdua, apalagi kita masih pakai baju yang kemaren. Oh ia ini tadi ada bekal makan siang , yang masak Bibi Mala. Ntar aku letakkan dimeja dokter ya".
" Baiklah. Terima kasih banyak Nisa. " Jawab Richo malu malu.
"Oh ia (Sambil tersenyum). Selamat datang saudara seiman ku. Kedepannya, apapun yang dokter ingin atau butuh bantuan untuk belajar lebih dekat dengan Allah. jangan sungkan untuk memberitahuku. Insha Allah saya akan bantu apa pun itu. Aku yakin dokter pasti gak bakalan menyerah dan berputus asa. Aku turut senang untuk hari ini..."
"Hmmm.. Trima kasih Annisa. Aku hanya minta bantuan kamu untuk merahasiakan sementara tentang identitas aku di RS ini. Aku masih ingin mempersiapkan semuanya. Aku ingin keluarga ku yang paling utama tau. Dan satu hal lagi, aku butuh bantuan kamu . Ajari aku Shalat dan membaca Al Qur'an." Jawab Richo seserius mungkin didepan Annisa.
"Insha Allah . Waktu senggang setiap hari aku akan ajari dokter. Dan tetap merahasiakannya. Ya udah saya luan dulu dok" Izin Nisa lalu dibalas dengan anggukan dan senyum tulus dari Richo.
__ADS_1
Annisa keluar dari mobil dan berjalan masuk kekantor Richo untuk meletakkan bekal siangnya dan menuju ruangan untuk berganti pakaian dengan pakaian khusus RS. Kemudian mulai bekerja seperti biasanya.
" Claris.. Ntar makan siang temani aku keperpus ya?" Ajak Nisa pada Clarisa yang tengah duduk sambil mengecek pasien yang tak berjauhan.
" O. Oke deh" Balas Clarissa singkat tanpa mempertanyakan lagi.
Setelah selesai operasi dokter Richo dan Annisa keluar ruangan tanpa sepatah katapun, lalu menuju ruangan masing masing.
" Koq dokter Richo, Balik ke cuek lagi ya. Berjam jam dalam ruangan , tetap gak mau liat aku. Ih koq kesel ya?"Dengus Annisa diruangannya sambil membereskan barang barang untuk dibawa keluar.
" Astaqfirullah ya Allah, hatiku. kenapa masih berburuk sangka sama orang lain ya?" Ingat Nisa akan kesalahannya lalu bergegas pergi menemui Clarisa diruangannya untuk mengajaknya keluar menuju Perpus yang tak jauh dengan berjalan kaki.
Sedangkan Richo malah menyantap bekal siang dari Bibi Mala diruangan pribadinya.
Sambil menyantap dan membaca baca buku yang Nisa beri padanya untuk lebih memperdalaminya islam dihatinya itu.
"Koq masakan orang Indo. enak enak ya?. Gak Annisa, Mama, Bibi Mala pasti enak semuanya."Ucap senang Ricko berbicara sendiri diruangannya.
" Jadi pengen punya istri orang Indo?" Pikir Richo sambil membayangkan Nisa yang selalu memasakkan setiap hari untuknya . Selalu bercanda didapur bersama,dan menikmati makanan itu bersama. Sampai sampai tanpa sadar Richo tersenyum berseri memikirkannya. Yang fikirannya itu sudah melanglang buana.
"Astaga..Pikiranku!. Urggg ..Tuhan. Apa aku pantas menjadi suami Nisa? Apa aku bisa menjadi Imam yang baik untuknya seperti Paman Nya Fahri terhadap Bibi Mala? Ku harap dia bertemu dengan Jodoh yang memang benar benar mencintai nya, bagaimana pun juga dia seorang wanita yang harus dibimbing baik oleh suaminya kelak. "Cetus Richo lagi sambil menyudahi makan lalu membersihkan tubuhnya lagi.
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN ATAS DUKUNGANNYA
JANGAN LUPA LIKE, COMENT DAN VOTE NYA YAAA..
__ADS_1