
Richo menyodorkan sebuah berkas catatan itu pada Nisa, dengan sigap Annisa memeriksa semua rincian akan catatan pasien.
Jantungnya semakin tak karuan, disaat dia melihat keseluruhan isi dari catatan itu. Dengan Keliru ternyata Nisa salah memberi obat berupa suntikan ketubuh pasien, hingga menyebabkan tubuh pasien itu menolak dan mengakibatkan kejang kejang lalu tekanan darahnya mulai menurun.
Andai saja pihak RS atau Annisa kurang cepat menangani pasien itu, mungkin saja hal yang tak Nisa inginkan akan terjadi, yaitu kegagalan medis di akibatkan kelalaian.
" Maaf dok. Saya .. saya salah." Ucap Nisa sedikit gugup.
" Saya tadi tidak memperhatikan ini semua" Jawabnya lagi.
" Apa kamu kira, kamu sudah menjadi dokter yang hebat. Hah!" Bentak Richo kembali, tersontak Nisa dan juga beberapa perawat diruangan itu terdiam dan tertunduk.
Ruangan itu pun berubah menjadi ruangan yang mencekam bagi mereka lagi.
"Apa yang kamu pikirkan Annisa. Ada apa dengan Mu!"
"Apa kamu sudah mulai berbangga diri, hingga kamu lupa yang seharusnya dilakukan seorang dokter!"
"Apa karna sudah merasa bangga, bahwa orang orang disekitar mu selalu memuji mu, bahkan ke dua orang tua ku.! "Bentak Richo kembali meluapkan kembali kekesalannya, yang mungkin pertanyaan ini sedikit menyimpang dari kasus yang Nisa lakukan hari ini
Sedang Nisa, mendengar tiap pertanyaan yang keluar dari Mulut Richo, membuat dirinya ingin berlari. Baru kali ini dia mendapatkan Richo semarah itu dan mengeluarkan kata kata yang menyakitkan hatinya.
Sedikit menahan air matanya yang sudah ingin terjun bebas, akhirnya Nisa semakin tertunduk tak berani menatap sekitarnya bahkan Richo yang berada didepannya
"KELUARLAH! "Seru Richo diruangan itu.
Nisa masih tertunduk, sedangkan perawat yang diruangan itu saling melemparkan pandangan, seakan bingung, untuk siapa seruan Richo itu.
" ANNISA. KAMU KELUAR DARI RUANGAN INI!" Seru Richo dengan Lantang.
Mendengar bentakan itu, Nisa mulai membuka pintu, lalu pergi dari ruangan itu dengan wajah yang masih tertunduk. Setelah pintu itu tertutup kembali, Annisa berlari menuju Ruangan pribadinya.
Sedang diluar ruangan, beberapa orang yang melihat bahkan mendengar bentakan Richo dari dalam. Termasuk Lady dan Audy yang mulai melemparkan pandangan bahagia dari raut wajah mereka.
Dikamar mandi, Annisa meluapkan tangisannya yang sedari dia tahan. Dia tak menyangka, kelalaiannya membuat Richo memaki dirinya seperti itu.
Calvin melihat kejadian itu, akhirnya datang memasuki ruangan Nisa, mencari sesosok Nisa yang teryata sudah berada diruangan kamar mandi ruangannya.
" Nis. Kemarilah" Ucap Calvin mencoba menuntun Nisa dari kamar mandi yang masih terbuka menuju Sofa miliknya.
Nisa mendudukkan dirinya, bahkan dengan isakan tangisnya.
"Sabarlah. Ini minumlah dulu" Tawar Calvin lagi menyuguhkan Minum putih kehadapan Nisa.
__ADS_1
Nisa mulai menghapus air matanya dengan hijab yang terjulur dibagian dadanya lalu mengambil minuman itu dari tangan Calvin.
"Kami juga sudah mendengar semuanya. jadikan ini sebagai pelajaran untuk kita."
" Setidaknya dokter juga manusia, pasti pernah melakukan salah. Kamu jangan sampai berputus asa ya setelah mendengar ucapan Richo" Ucap Calvin kembali mencoba menenangkan Annisa.
"Terima kasih dok. Aku akan ingat kelalaian ku ini" Ucap Nisa serasa menyudahi tangisannya.
"Kamu istirahat lah dulu, mungkin dari pagi kamu kelelahan. Aku tinggal dulu,kalau kamu merasa pikiran mu sudah membaik, kembali lah bekerja." Ujar Calvin kembali mencoba menepuk nepuk bahu Annisa untuk menyabarkan.
Nisa hanya menganggukkan kepalanya, memberi izin kepergian Calvin untuk meninggalkan ruangannya.
Setelah Calvin sudah tak ada lagi, Nisa pun melanjutkan isak tangisnya, entah kenapa kata kata Richo seakan menyakitkan hatinya kali ini.
***
Diruangan Richo.
Dengan kasar dia mendudukkan dirinya dikursi kerjanya. Setelah memikirkan lagi, entah kenapa perkataan itu bisa keluar dari mulutnya untuk Annisa. Di akibatkan kesal terhadap Nisa yang menemui laki laki ditengah malam, hingga tak sadar dia menggabungkan 2 masalah yang berbeda.
" Yaa Allah, kenapa aku berbicara seperti itu..." Dengus Richo menggusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
" Annisa pasti sakit hati dengan ucapanku" Ucapnya lagi sambil meletakkan kepalanya di meja kerja dengan kedua lengannya.
Ketokan pintu ruangannya seakan membuyarkan kekesalan Richo. Dia mengangkat kepalanya, lalu melihat Audy telah memasuki ruangannya dengan membawa beberapa berkas pasien.
" Maaf dok, saya cuma mau berikan ini" Ucap Audy sembari menyerahkan Kertas yang dibawanya.
Dia melihat kondisi tubuh Richo mulai tak karuan, dari rambut bahkan wajahnya yang terlihat muram. Dia merasa Nisa lah yang menyebabkan Richo seperti sekarang ini.
Richo pun mengambil berkas itu dari tangan Audy, lalu mulai membaca.
" Kamu silahkan keluar. Aku harus periksa ini dahulu."Ucap Richo dingin.
Masih berat langkah Audy melangkahkan kakinya, dia pun menyusuri meja kerja Richo. Yang ternyata Richo belum memakan bekal siang darinya.
" Dokter belum makan siang?"Tanya Audy lembut mempertanyakan.
Dengan malas Richo menjawab, dia hanya menoleh kearah bekal yang masih terletak dimejanya itu lalu melanjutkan membaca berkas berkas yang masih ditangannya.
" Apa dokter tidak nafsu makan dengan sayur ku hari ini ?. Kalau dokter mau, aku bisa menggantinya...."
" Gk perlu Audy. Aku lelah, kamu keluar lah dulu." Sahut Richo dingin.
__ADS_1
"Tapi dok,,?" Ujar Audy lagi tertahan, diakibatkan mata Richo seketika menatap kearahnya dengan wajah yang menyeramkan walaupun tanpa kata kata yang menyakitkan lagi.
"Baik dok, saya permisi.." Audy berlalu dengan gusar meninggalkan Richo sendiri diruangannya.
Setelah Audy keluar, dengan kesal dia menghentakkan kakinya kelantai seakan tak terima akan perlakukan Richo padanya barusan.
" Huhh....Ini pasti karna Annisa.!" Dengus nya kesal, lalu pergi menemui teman teman nya yang lain.
Saat Audy keluar, Richo masih mengingat ingat kembali perkataan yang keluar dari mulut nya untuk Annisa.
Mencoba menenangkan pikirannya, Richo pun menetralkan pikirannya antara pekerjaan dan masalah pribadinya, agar kejadian serupa tidak terjadi lagi pada orang lain.
Lain halnya dengan Annisa, semenjak kejadian itu, dia mencoba bersikap biasa saja. Hanya saja, saat dia mulai bekerja di UGD, beberapa Staf dan perawat yang bekerja di RS itu, selalu bergosip dan menceritakan akan kejadiannya hari ini.
Entah kenapa hari ini, Nama Annisa menjadi bahan perbincangan hangat bagi mereka, walaupun dengan hal sepele.
" Nis, kamu gak papa kan?" Tanya Clarisa menghampiri dirinya tengah memeriksa pasien.
Nisa melihat kedatangan Clarisa, lalu melemparkan senyum manisnya, seakan mehilangkan permasalahan yang sudah terjadi padanya.
" Gak koq."Sahutnya, lalu melanjutkan mengecek pasien nya.
" Oh syukurlah, Kalau ada masalah berbagilah pada ku..Ya?"
Mendengar simpati sahabatnya itu, Nisa mulai bahagia, tersenyum lalu menganggukkan . Clarisa pergi dari ruangan itu meninggalkan Nisa sendiri dengan melanjutkan tugasnya.
Jam pulang, Dengan perasaan yang masih mengganggunya. Dia mencoba menghampiri ruangan pribadi milik Nisa, hanya saja diruangan itu sudah tidak ada siapa pun lagi. Dia pun terus mencari, hingga akhirnya dia menemui Clarisa diruangan pribadinya.
" Cla, kamu lihat Annisa?"Tanya Richo tengah berdiri di depan pintu yang terbuka.
Clarisa pun sedikit kaget akan kedatangan Richo diruangannya.
" Sudah pulang dok, katanya hari ini dia kurang enak badan."
" Ada yang bisa saya bantu dok??"Sahut Clarisa lagi.
Richo hanya menggeleng dan berlalu dari ruangan itu, sedikit heran Clarisa melihat sikap Richo kali ini.
**BERSAMBUNG
Bantu like , dan comennya ya teman teman,, Kalau berkenan Vote nya juga..
Sehat selalu**..
__ADS_1