
"Kenapa Nis?" Mengagetkan Nisa.
" Haa..gak papa bu. Udah selesai kan bu.
"Nisa bantuin nyuci piring aja ya bu."
"Eh gak usah, biar nanti mereka aja" Larang nya kembali menarik tangan Nisa.
" Yuk kita nikmati aja hasil buatan kita ini" Ajaknya kembali menuntun langkahnya kearah taman belakang rumah milik keluarga Richo sambil membawa sepiring kue buatan mereka.
"Cantik ya bu bunga bunga nya. Ibu suka bunga bunga juga?"Tanya Nisa melihat beberapa taman bunga yang tertata rapi.
"O..Sangat suka. Hehe." Jawabnya.
Setelah menikmati kue hasil buatan mereka, dan saling bercanda gurau. Hingga akhirnya Nisa izin undur diri, dan kembali ke apartement nya.
***
Selesai shalat maghrib, Richo pun bergegas pergi menuju basscam untuk ritual makan malamnya, hanya saja Audy yang tengah memperhatikan setiap gerak geriknya pun datang menghampiri.
"Malam dok" Sapa Audy dengan menenteng tas berisi mukena.
"Malam" Ucap Richo melemparkan sedikit senyum pada Audy, lalu berlahan berjalan menuju arah pulang.
Audy ikut berjalan mengikuti langkah kaki Richo. Masih ragu apa yang seharusnya dia katakan terlebih dahulu.
"Makasih ya dok, selama 3 pekan ini sudah banyak mengajari aku"Ucap Audy sedikit gugup sambil melemparkan senyuman manisnya.
"3 pekan?. Terasa lama sekali" Guman Richo pelan.
"Kenapa dok?, lama ? menurut aku sih terlalu singkat. Hehe serasa baru kemaren kita jumpa , dan bertemu di Basscam. Tinggal sepekan lagi kita semua akan berpisah" Ucap Audy serasa sedih.
"Oh ia dok. Dokter Richo pernah jatuh Cinta?" Tanya Audy dengan nada santai tapi hati bergetar seakan takut.
Richo mendengar pertanyaan Audy, hanya malah membuatnya tersenyum, seketika pikirannya membayangkan diri seorang Annisa.
"Wah kalau senyum berarti ada ya dok?" Mulai Audy, tapi dari dalam hatinya seakan kecewa melihat ekpresi Richo yang menunjukkan kebahagiannya.
"Ya. Aku pernah mencintai seorang gadis cantik, bahkan dia paling cantik bagiku" Ucap Richo sambil tersenyum lembut pada Audy.
"Oo . Apa kalian sudah ada hubungan?"
Richo mendengar itu malah menarik nafas lelah sambil melepaskan, seakan mengingatkan kembali bahwa gadis yang dia cintai itu akan menikah dengan orang lain.
"Belum". Menunduk melanjutkan berjalan dengan berlahan.
"Dia akan menikah dengan pilihan orang tuanya." Unggah Richo lagi.
__ADS_1
"Jadi. Dokter?" Tanya nya ragu.
"Aku akan bahagia kalau melihatnya bahagia. "
"Wah. Beruntung sekali wanita itu dicintai dokter Richo. Apa sih yang membuat dokter suka sekali dengannya?" Pancing Audy mencari tau.
"Banyak hal yang membuat aku jatuh cinta padanya. Terutama sikap yang dia miliki. Dia anggun dan juga wanita shaleha. Tapi...?" Ucap Richo sambil memikirkan Nisa.
" Tapi..?" Sambung Audy.
"Aku gak pernah tau. Dia mencintai ku juga atau tidak?. Karna aku tak pernah mengungkapkan padanya, bahkan dia tak pernah tau kalau aku mencintainya." Balas Richo lemas.
"Benarkah".
"Menurutku, andai dia tau perasan dokter. Mana mungkin dia akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya".Sambungnya lagi.
"Dan lagi...Pasti wanita yang dokter Richo bicarakan itu juga sudah tau tentang perasaan dokter ke dia. Apalagi dari kemaren Tim medis sedang menggosipkan Dokter dengan wanita yang bernama Nisa ". Ucap Audy memulainya.
"Benarkah mereka membicarakan ku?" Sahut Richo menatap Audy.
Audy menatap kembali, sambil mengganggukkan kepalanya.
"Hmm. Ternyata Rasa suka dan perhatianku padanya membuat orang orang disekitar mengetahuinya. Tapi kenapa dia tidak mengetahuinya ya?" Gumam Richo berlahan.
"Mungkin dokter Richo bukan tipe pria yang di inginkannya?."Jawab Audy spontan.
Richo seketika melirik ke arah Audy, ada rasa kesal ketika dia mendengar ucapan yang dia lontarkan barusan.
"Entah lah".
Richo sedikit tersadar, bahwa apa yang dikatakan Audy saat ini benar adanya. Dia tertunduk kembali sambil mempercepat jalannya.Hingga akhirnya mereka berdua sampai di bascamp, lalu menuju kekamarnya masing masing.
Setiba sampai kamarnya, Richo pun menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Rasa lelah yang dia rasakan kali ini. Membuat beban pikirannya menjadi sedikit kacau.
" Kenapa aku bodoh sekali" Ucap Richo dalam kesendiriannya didalam kamarnya.
"Kenapa sedari dulu aku tak berusaha menjadi lelaki yang dia inginkan"
"Ya Allah, engkau yang tau bahwa niat ku baik ingin lebih dengan Mu, dengan kehadiran ku disini."
"Andai aku dengan dia tak berjodoh, aku berharap dia bahagia dengan pilihannya".
Richo pun mulai bangkit dari tidurnya lalu menyandarkan dirinya didinding tempat tidurnya.
"Karna aku sadar, ini adalah kebodohanku."
Ucap Richo menyesal akan dirinya, bahwa dia lah yang tak pernah menyatakan perasaan nya terlebih dahulu pada Annisa. Hanya saja saat itu, Niat nya memang baik. Selain ingin memantaskan diri dan ingin memperbaiki diri dengan memperdalam agama yang jauh dari permukiman lingkungan sekitar nya, dia juga bahkan berniat ingin menikah dengan Annisa tanpa ada hubungan yang lain.
__ADS_1
Hari demi hari yang mereka lalui, baik bagi Annisa dan juga Richo. Sikit demi sedikit Nisa yang mulai menyukai dan menerima Imam akan kehadiran di dalam hidupnya, karna tak dipungkiri lagi hanya Imam lah yang seharusnya ada dihatinya, bukan lelaki lain yang belum tentu menjadi suaminya.
Begitu juga dengan Richo, walau dalam hati dia mencoba ikhlas. Tapi dia juga masih berharap bahwa masih ada kesempatan dirinya untuk menikah dengan Annisa. Walaupun mereka jauh dan tak pernah saling komunikasi, tetap saja Richo selalu memikirkannya.
Lain pula halnya dengan Annisa, selain Rasa kecewa dengan hatinya, Yang mengira bahwa Richo juga mencintainya selama ini. Setelah sebulan kepergian Richo tanpa kata bahkan komunikasi, dia pun mengganggap dan mencoba melupakan Richo.
***
Malam hari di ruangan Annisa. Setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka, Clarisa pun datang menemui nya diruangannya.
"Hmm.. Udah dengar berita kalau mereka besok kembali kesini lagi? " Ucap Clarisa berlahan pada Nisa yang masih tergeletak disofa nya.
"Hmm." Ucapnya malas.
"Gimana perasaan kamu, bisa bertemu kembali dengan..?" Ucap Clarisa terhenti.
"Apa? siapa Cla..? Dokter Richo, maksud kamu?" Jawab Nisa mengetahui arah pembicaraan Clarisa.
Nisa pun bangkit dari tidurnya, lalu duduk menghadap kewajah Clarisa yang tengah berbicara padanya.
"Kamu gak senang dia kembali setelah sebulan kalian tanpa komunikasi?" .
"Senang lah!. Karna sebentar lagi surat Risign ku akan disetujui sama pihak RS, lalu aku bisa balik ke indo, terus aku menikah dengan Imam. Ia kan. itu yang kamu maksud?" Cerocos Nisa, yang padahal tau bukan itu maksud dari pembicaraan sahabatnya itu.
"Ya ampun Nis. Bukan itu maksud aku." Sahut Clarisa kesal sambil menepok jidatnya.
"Tapi ia ya..Bentar lagi kita bakalan pisah." Sadar Clarisa menatap Nisa sahdu.
"Nis , bisa gak kalau gak usah Risign dari sini.Setelah Nikah kalian tinggal disini aja kenapa?.. Ya Ya Ya". Rengek Clarisa.
"Aduhh Cla...Aku gak bisa mutuskan sendiri Cla. Lagi pula aku makin jarang komunikasi dengan Imam disana. Dia masih sibuk dengan Ujian untuk S2 nya, aku takut ganggu dia". Jawab Nisa kembali.
"Hmm. Ya udah deh, Kalau gak bisa."
"Yok pulang!" Ajak Clarisa kesal.
"Ishh bentar lagi kita bakalan pisah, tapi kamu malah kesal gitu mukanya sama aku".Sahut Nisa sambil seakan merajuk.
"Kamu sih..."
Clarisa dan Nisa saling menatap. Tiba tiba mereka tertawa kecil dan akhirnya saling berpelukan.
Setelah haru dan bahagia yang mereka rasa saat ini, hingga akhirnya mereka memutuskan kembali kerumah nya.
BERSAMBUNG
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN DUKUNGANNYA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, COMENT, DAN VOTE NYA YA...
SEMOGA SEHAT SELALU**...