
" Astaqfirullah astaqfirullah astaqfirullah." Ucap Annisa sambil membuka lemari es, mengambil botol minumannya lalu meminumnya. Tampak tubuh dan wajahnya grogi untuk pertama kali bertatapan lama bersama Richo yang langsung menembus hatinya.
" Bodoh banget sih aku, koq bisa kalah sama tatapan gitu doang. Seharusnya tadi itu kesempatan aku buat permintaan sama dokter Richo."
"Aduhhh?.Kira kira apa ya hukumannya dari dia. Mudah mudahan gak aneh aneh deh".
Papar Annisa bingung di dapur Kylin.
Tak lama dia mendinginkan tubuh dan pipinya, dia pun datang kembali dengan yang lain.
" Hai..Ini aku bawaan pancake lagi?" Sambut Nisa ceria menghilangkan rasa groginya. Sedangkan Richo hanya memandang tingkah Annisa, yang kadang juga mereka bertemu dalam tatapan nya.
" Jadi dok, hukumannya untuk dokter Annisa apa dok?" Tanya Calvin lagi, membuat semua hening ingin tau akan kelanjutannya.
" Gak susah sih, cuman minta waktunya saja"
"Ih waktu. Contohnya dok?" Tanya Rino membuat Nisa semakin deg degan, takut richo meminta yang aneh aneh.
"Makanan siang" Jawab Richo singkat.
" Mak..Maksudnya dok?" Tanya Nisa gugup.
" Buatkan makanan siang setiap hari untuk ku, sayur masakan indo".
" Apa!! Maaf dok? " Kesal Annisa membuat yang lain bingung atas permintaan Richo.
" Bukannya kamu tiap hari bawa bekal ke RS untuk makan siang mu? Jadi, kedepannya siapin juga untukku". Jelas Richo ringan.
"Tapi dok, kadang saya gak sempat masak cuman makan mi instan doang".
" Pokoknya selama sebulan apa yang kamu makan, jam istirahat siang kamu harus siapkan untukku juga, karna ini hukuman bagi yang kalah".
Yang lain kaget atas permintaan Richo, sedangkan Barack spontan menghabiskan 5 botol sisa minumannya dari Clarisa.
" Apa dok, sebulan? Gak salah kan?(koq lama ya kedengarannya) " . Richo tak membalas pertanyaan Nisa.
" Jadi dokter Rino jangan minta dimasakin juga ya, aku gak bisa masak, mending dokter Annisa, masakannya emang enak dari dulu". Jelas Kylin pada Rino, membuat Nisa tambah kesal dan melemparkan kulit kacang kearah nya lalu memasang wajah cemberut.
" Insha allah deh". Balas Nisa lemas tak bergairah. Hingga akhirnya meraka berkumpul ria dan kembali kerumahnya masing masing.
****
Pukul 05:06 azan subuh berbunyi di alarm hp Annisa, membuatnya terbangun untuk kekamar mandi. Berwudhu dan mengerjakan shalat subuh. Selapas itu dia mulai memasak seperti biasa dan dengan sesuai permintaan Richo dia harus menyiapkan 2 bekal untuk dibawa ke RS.
Setelah sarapan pagi, Annisa mulai membersihkan rumah dan berberes rumah untuk berangkat kerja.
06:45 dia berngkat dari apartement nya yang hanya berjarak sekitar 20 menit ke RS trmpatnya bekerja.
__ADS_1
Dengan berlahan, Annisa berjalan memasuki ruangan Richo.
" Syukur deh, orang nya belum datang. letakkan disini ajalah". Gumam kecil Nisa.
Sembari membereskan meja kerja Richo dengan rapi, Annisa pergi menuju ruangannya sendiri yang tak jauh dari sini. Tapi tak berapa lama Richo pun datang dan berpapasan dengan Nisa.Seperti biasa Nisa hanya tunduk hormat saat mereka berjumpa.
" Pagi dok" Tambah senyum tipis Nisa lalu beranjak pergi.
"Bentar dokter Annisa, ". Cegah Richo.
" Ia dok" Menghentikan langkahnya.
"Jam 10 kita buka ruang operasi untuk kamar 308, karna pendonor ginjalnya udah siap. Jangan lupa!". Pinta Richo.
" Mrs. Erick? Baik dok" Lalu pergi masuk keruangannya.
Richo juga masuk keruanganya, dan melihat ruangannya sudah rapi.Tanpa sadar muncul lah senyum tipis dibibirnya, lalu membuka kotak bekal dari Annisa.
" HARUM" Richo mulai mencicipi sesendok, lalu mengulangi nya sekali lagi.
"Gak salah saya" Tambahnya sambari senyum senyum sendiri dan dikagetkan oleh kedatangan seorang dokter cantik, elegan, modis yaitu Rossa, dokter penyakit dalam khusus bagian siaran TV.
Dia sedikit genit ke Richo, bahkan mereka dulu satu kampus bersama dan sudah menaruh hati padanya. Richo juga menyadari itu bahkan dia tidak pernah merespon dan sesalu menghindar untuk berjumpa.
Syukurnya Rossa hanya aktif dalam siaran saja, sampai sampai banyak para lelaki termasuk hidung belang yang selalu memuji mujinya.
" Pagi" Jawab Richo dingin.
Sedangkan Rossa serasa tebar pesona dihadapan Richo. Rosa pun duduk dibangku depan meja Richo, tapi disaat itu juga Richo bangkit dari tempat duduk awalnya.
" Mau kemana Ric?" Tanya Rossa heran.
"Mau cek pasien lah, kan ini RS" Jawab Richo santai.
" Emang ada apa Ros?" Tanya Richo lagi.
" Hmm.. Besok malam kamu datang ya, aku ada party divilla aku"
"Besok malam? Kayaknya aku ada acara makan malam sama keluarga ku Ros.Gak bisa ditinggal, pesan mamaku".Richo berbohong, karna selain menghindar dari Rossa, Richo juga tidak suka pesta seperti itu.
" Ayok lah Rich? Tiap kali aku ajak, pasti ada aja alasan kamu. Plisss kali ini aja, aku berharap kali ini kamu datang ya?".
" Oh ia, tau gak? Teman teman kampus kita juga bakalan datang loh, masak kamu gak bisa luangkan waktu mu kali ini aja. Yayaya" Harap Rossa manja.
" Liat nanti ya Ros, aku udah telat ni mau cek pasien" . Richo langsung pergi meninggalkan Rossa sendiri diruangannya.
" Tega kamu Rich, masak kamu selama ini gak tau kalau aku dari dulu udah suka sama kamu. Aku bela belain berubah menjadi cantik demi dia, tapi aku masih gak bisa dapatin hati kamu. " Ucap Rossa kesal.
__ADS_1
"Tapi tenang Rosa! Lama lama juga dia bakal suka sama aku. Hahaha" Gumam Rossa percaya diri.
" Dan aku pastikan tidak ada seorang pun yang bisa dapatkan kamu selain aku". Ucap Rossa sambil pergi meninggalkan ruangan Richo menuju ke toilet untuk merias wajahnya kembali.
Seperti biasa kehidupan RS semakin ramai, banyak orang berlalu lalang, begitu juga Annisa. Selama dia masih ditempatkan bagian UGD, dialah dokter paling sibuk. Tapi sesuai kesepakatan, jam 10 akan melakukan operasi nya bersama Richo.
Dimana Annisa meng operasi sang pendonor, sedangkan Richo si penerima donor. Sesampai diruang operasi sudah ada 2 pasien yang sudah tidak sadarkan diri, dan hanya menunggu kedatangan richo.
Setelah semua sudah siap, Richo masuk ruangan operasi. Seperti biasa setelah steril, Richo pun mulai dipasangkan sarung tangan oleh salah satu perawat perawat.
"Perawat jeni, semua sudah lengkap?" Tanya
Richo.
" Sudah Prof." Tak lupa Richo melirik Nisa yang sedang mengotak atikkan alat tekanan darah pasien, hanya untuk memastikan kelancaran dalam operasinya.
" Baik, agar lancar operasi ini, mari berdoa menurut kepercayaan masing masing".
Serentak semua hening menundukkan kepala, hanya Annisa yang mengadahkan tangannya berdoa khalayaknya seorang muslim.
" Doa selesai" Akhir Richo.
Tapi seperti biasa mata richo selalu tertuju pada Nisa karna belum juga menyudahi doa nya.
" *Y*a tuhan, kenapa aku suka sekali liat kekhusukan dalam berdoanya? " Batin Richo, hingga tak berapa lama Nisa membuka mata untuk menyudahi, lalu mereka melakukan bedah terhadap pasien pasiennya.
Kurang lebih sejam mereka melakukan operasi, dan syukurnya tidak ada kendala. Hingga sampai titik dalam menjahit hasil robekan, Richo sesekali memandang cara kerja Nisa, bahkan dia sempat terfikir olehnya bahwa dia sangat menyukai mata nisa saat memakai masker dalam melakukan operasi.
" *H*mm. Koq jadi lapar yah". Batin Richo sambil menyelesaikannya.
Sedangkan Nisa hanya fokus menjahit dan juga mengecek tekanan bahkan jantung kedua pasien. Yang tanpa sadar, Richo selalu memperhatikannya.
Selesai operasi Richo kembali keruangannya, serasa tak sabar untuk makan siang masakan Nisa. Hingga mulai melahap sesendok bahkan sampai habis bekal nya.
" Kenapa bisa pas dilidah aku masakannya ya?. Sama persis seperti masakan mama dirumah. "
"Lagian kenapa cuma sebulan aku minta nya ya? "
"Ah .. Bodoh nya aku". Guman Kesal Richo sambil membereskan sisa kotak bekal itu.
Sedangkan disisi Annisa, setelah melakukan operasi, jam istirahat datang. Seperti biasa mereka berempat berkumpul dikantin untuk makan siang, sedangkan Nisa membawa bekal nya sendiri.
Dan Calvin selalu mengejek akan hukuman Richo padanya karna tidak biasanya Richo minta sesuatu pada orang lain, bahkan orang lain selalu memberi sesuatu padanya dan disaat itu pula dia menolaknya.
Maaf ya kalau masih banyak Typo..
Jangan lupa Like, coment dan Vote nya..
__ADS_1
sehat selalu