
Tapi tiba tiba, tinggg. Suara keranjang itu menabrak keranjang seorang wanita paruh baya.
"Eh maaf" Ucap Nisa sopan.
"Nisa.." Ucap wanita itu yang ternyata Mama Richo.
"Ibu.."Sambut Nisa senang sambil mencium tangan nya.
"Kamu lagi belanja apa sayang" Tanya Mama Richo sambil memegang tangan Nisa.
"Ini bu, nemani teman Nisa belanja perabot dapur. Ibu sama siapa?" Ucap Nisa sedang Clarisa hanya menyengir mendengar mereka yang bicara bahasa indo.
"Ibu sama supir Papi Richo. Papinya Richo mana mau nemeni ibu belanja Gini. Heheh selalu sibuk alasannya." Jawabnya jujur.
"Kamu dokter Clarisa kan?" Tanya nya kembali menuju pada Clarisa.
Clarisa pun seketika salam hormat pada istri ketua itu.
"Ia Dok." Jawab Clarisa yang memang Mama Richo dulu seorang dokter.
"Ah panggil Ibu aja kayak Nisa, saya kan udah lama gak kerja sebagai dokter lagi"
"Baik bu" Ucap Clarisa.
"Oh ya Nis, ibu boleh Minta no kamu?. Mana tau ibu suntuk dirumah ibu minta temani kamu masak masak kue dirumah ibu" Pinta Mama Richo.
""Haa...Beneran bu. Kalau itu Nisa senang bu bisa belajar bareng dari ibu heheh. NI" sambil menyodorkan Hp miliknya lalu menunjukkan kode miliknya. Seketika Mama Richo men scan kode milik Nisa.
"Udah." Ucap mama Richo.
"Ya udah kalian pilih pilih lagi, ibu udah selesai belanja koq."
Nisa dan Clarisa membalas dengan senyuman.
"Ibu luan ya Nis, Cla." Mereka spontan menyalami lalu memandang kepergian Mama Richo.
"Wah... hebat kamu Nis. " Tanya Clarisa.
"Kenapa?" Sambil mendorong kembali.
" Mamanya dokter Richo kayaknya suka sama kamu. "
"Beliau orangnya memang baik Cla sama semua orang. Gak heran kalau dia baik ke aku juga." Sahut Nisa senang.
"Kalian udah cocok jadi mantu dan mertua lo Nis. Hehe" Ejek Clarisa kembali.
"Mulai...." Ucap Nisa melirik tajam Clarisa.
__ADS_1
"Heheh. Bercanda sayang".
"Lagi pula Mama nya Imam juga baik koq Cla,.?" Tambah Nisa tak mau kalah.
"Oo.. Ceritanya udah mulai suka lagi nih sama Iman?" Ejek Clarisa.
Nisa tersenyum mendengar ucapan Clarisa yang padahal masih berat dihatinya.
"Bagaimana pun, Imam yang bersedia menemui kedua orang tua ku Cla. Jadi aku berusaha mencintainya sebagai calon suami ku." Sahut Nisa yang masih berjalan mendorong keranjang belanjaanya.
"Harus! Ku harap kamu bahagia dengan pilihanmu, dan aku harap Imam adalah yang terbaik buat kamu Nis. Udah yuk pulang. Udah lengkap sepertinya" Sambil merangkul bahu Nisa.
"Aamiin. Ayuk deh..." sahut Nisa. Hingga akhirnya mereka pulang membawa beberapa belanjaan hasil dari mereka nge mall.
***
Pagi hari yang cerah, matahari panas menyengat dikota yang saat ini mereka tempati, musim kemarau telah menghampiri beberapa bulan lamanya.
Beberapa diantara mereka disibukkan dengan kedatangan mobil Box yang membawa banyak jenis obat obatan dan beberapa alat medis yang sengaja dikirim pemerintah guna untuk masyarakat itu.
Setelah beberapa tentara yang mengangkut box itu masuk kedalam ruangan tim medis, lalu para tim medis mulai menyusun rapi obat obatan itu dengan rapi .
"Dok, apa benar dokter Nisa mau risign, terus pulang ke indo untuk menikah" Tanya Felicya yaitu salah satu dokter relawan yang bertanya pada Calvin.
"Kabarnya begitu." Jawab Calvin sambari mencatat nama barang barang yang datang, sedang beberapa dari mahasiwi harus menyusun nya termasuk Audy dan Kylin.
Tersontak Audy dan beberapa mahasiwa yang ikut andil dalam bekerja itu terkejut. Bahwa lelaki pujaan mereka telah menyukai wanita yang se profesi dengannya.
Audy mulai serius mendengar obrolan mereka yang mengarah tentang Richo, lelaki incarannya. Karna semakin hari Audy semakin menyukai Richo, dan berkeinginan untuk memilikinya.
"Dokter tau dari mana kalau dokter Richo menyukai Dokter Nisa?" Sahut Kylin sengaja agar Audy dan beberapa dari mereka mendengar gosip yang ada di RS mereka.
"Gosip di RS kita kan begitu. Dari dulu cuman dekat sama Nisa doang. Semenjak Nisa jadi Asst nya sampai rela terluka demi Nisa. Jadi kami kira mereka saling suka." Sahut felicya lagi.
"Ya itu memang benar dok, sampe dokter Richo rela pindah agama demi dokter Nisa" Sambut Kylin mengada ada.
"Bener kan kalau dokter Richo pindah keyakinan karna ikut dengan Nisa?" Sahut Felicy lagi serius menanggapi.
"Hushh! Jangan buat gosip yang gak enggak! Nisa gak pernah mempengaruhi siapa siapa. Lagi pula dokter Richo memang dari hati dengan agamanya yang baru. Bukan pengaruh dari yang lain!" Ucap tegas Calvin menyangkal ucapan Kylin. Sembari menatap Kylin agar tidak mengatakan yang bukan bukan.
Kylin melihat tatapan Calvin menjadi ciut. Dengan memberanikan diri Audy mendekati Calvin berpura pura menyusun beberapa obat yang ada disampingnya.
"Ia sih..Semenjak Nisa digosipkan lamaran dengan lelaki melayu itu aja, dokter Richo masih tekun dengan ibadahnya. Andai dia pindah agama karna Nisa pasti dia gak mau jalani ibadahnya lagi seperti Nisa jalankan.?" Sahut Felicy yang sudah sering melihat Richo shalat sewaktu di RS dulu bahkan sekarang.
"Emang Dokter Nisa kerja di RS itu juga dok?" Tanya Audy memberanikan diri menyambung pembicaraan mereka.
"Yess..Akhirnya kepancing juga kamu wanita kepala ular." Senang Kylin dalam batinnya.
__ADS_1
"Ia ! Dokter Richo dari dulu menyukai Nisa, makanya dia cuek dengan wanita lain." Jawab lantang Kylin.
Mata Calvin dan Felicya terbelalak mendengar ucapan Kylin, seakan takut andai yang diucapkan itu terdengar oleh Richo sendiri.
"Wah.. Ky , kamu . ish.."Kesal Calvin sambil menggaruk kepalanya karna semakin kesal dengan tingkah temannya itu.
Sebenarnya juga Calvin dan para Dokter yang bekerja di RS itu sudah beranggapan yang sama, bahwa Dokter Richo menyukai Nisa. Mereka mulai menyadari disaat Richo terluka demi Nisa, Hanya dekat dengan 1 gadis, yaitu Nisa seorang, bahkan Richo selalu ada disaat Nisa terluka. Tapi mereka tidak ada yang berani mencetuskan bahkan membuat gosip tentang mereka berdua.
"Tapi kalian janji ya. Jangan ada yang nyebarkan gosip ini. " Ucap Felicya sambil menunjuki beberapa wanita yang hadir diruangan itu.
"Emang kenapa dok kalau...." . Ucap salah satu mahasiswi yang masih penasaran.
"Coba saja kalau kalian berani, tanggung sendiri akibatnya ya?. " Sahut Felicya.
Calvin hanya tersenyum mendengar ancaman itu.
"Dokter Richo nampak sih wajah dan sikapnya dingin, belum tau kalau dia marah kan?. Bahkan itu lebih menakutkan dari genjatan senjata para tentara diluar." Potong Kylin menambahi.
"Benar kah!!" Ucap mereka mendengarkan dengan serius.
Lalu, beberapa dari mahasiswi itu ada yang mengangguk, ada yang kesal disaat mendengar kenyataan nya. Sedang Audy memilih diam seakan berfikir keras untuk mencari cara agar Richo semakin dekat dengannya selama di kota ini.
"Saya izin kekamar mandi ya dok."Izin Audy pada Calvin dan Felicya.
"Baru tau rasa kamu kan!, Pasti dia cari cara lain untuk dekatin Dokter Richo lagi nih?. Huhh.. Dasar!" Ketus Kylin memandang setiap gerak gerik bahkan wajah dari Audy.
"Hati hati ya.." Ucap Calvin manis pada Audy. sedang Audy membalas dengan senyum manisnya.
***
Ditoilet, Audy mulai terdiam memikirkan, terlihat matanya memandang kearah cermin tapi pikirannya melayang entah kemana.
"Apa yang kamu pikirkan Dy?." Tanya Lady yang memperhatikan wajah kusut temannya itu.
"Aku gak rela dy..kalau dokter Richo mencintai wanita lain selain aku."
" Gk! Aku Gak rela!." Ucap Audy menatap Lady dari arah cermin yang penuh penekanan.
**BERSAMBUNG..
MAKASI TEMAN TEMAN DUKUNGANNYA.
JANGAN LUPA LIKE YA..
TINGGALIN JUGA JEJAK NYA DIKOLOM KOMENTARNYA..
VOTE NYA JUGA YA...
__ADS_1
SEHAT SELALU**