
Setelah beberapa hari Nisa pun memberanikan diri mengajak Imam bertemu datang kerumahnya.
Imam pun hanya datang sendiri dengan alasan bertamu. Selepas Isya mereka berdua duduk diteras rumahnya.
"Nis. Ada sesuatu yang harus ku katakan pada mu."Ucap Imam ragu.
" Katakan aja Mam. Ada apa?" Sahut Nisa lembut yang ingin tahu apa yang sebanarnya Imam rahasia kan darinya.
"Sebelumnya aku minta maaf Nis, entah ini kabar baik tau kabar buruk untuk kita berdua."
" Tapi aku berharap kamu juga bisa menerimanya " Ucap Imam terdengar lirih.
Nisa hanya menatap Imam dalam, seakan menunggu kabar apa yang akan imam berikan padanya.
"Jujur. sebenarnya pertama kali kita berteman dekat aku sudah suka kamu Nis,."
"Dan Alhamdulillah disaat aku mengkhitbah kamu lewat orang tua mu, keluarga kamu menyambutku dengan baik. begitu juga kamu."
"Aku sangat bahagia, Akhirnya kamu menerima ku sebagai calon suami"
"Taapii...."
"Sebelum aku mengkhitbah mu, aku telah mendaftar kembali ujian beasiswa S2 di Bandung, Aku diterima, dan Aku juga bahagia mendengarnya." Ungkap Imam.
" Ya.. Alhamdulillah Mam. Terus..??" Jawab Nisa penasaran dengan hati yang masih mengganjal.
"Tau gak Nis, itu salah satu keinginan terbesarku setelah kita saling mengenal."
"Jadi masalah nya dimana?" Ucap Nisa kembali membuat dia semakin penasaran akan penjelasan Imam.
" Aku memutuskan untuk menunda lagi pernikahan kita". Jawab Imam memberanikan menatap mata Nisa.
Nisa sedikit terdiam akan ajuan Imam padanya.
"Berapa lama Mam, Insha Allah aku usahakan akan menunggu?" Tanya Nisa lembut seakan meredakan akan hatinya yang sedikit kecewa.
" Dua tahun." Ucap Imam.
Nisa menatap Imam tak percaya.
"Dua tahun. Kenapa harus selama itu Mam?."
"Kita juga bisa menikah disaat kamu melanjutkan S2 mu dibandung. Yang jadi masalah terberat kamu apa Mam untuk harus menundanya?" Tanya Nisa kembali menatar Imam.
__ADS_1
"Mungkin bagi kamu tidak ada masalah Nis. Tapi bagaimana dengan aku?"
"Awal melamarmu aku masih kurang percaya diri. Kamu itu wanita karir, mandiri, riwayat pendidikan mu juga bagus. Sedangkan Aku.?"
Nisa mulai kesal dan kecewa akan alasan yang didengarnya langsung dari mulut Imam sendiri. Yang ingin mensetarafkan posisinya dengan Annisa.
"Aku mohon Nisa, aku harap kamu ngerti perasaan ku sekarang. Beri aku kesempatan. Aku ingin jadi lebih pantas hidup bersama mu nanti." Ucap Imam dengan memelas meminta pada Nisa.
" Jujur Mam. Aku sedikit kecewa dengan keputusan kamu. Tapi aku juga gak bisa memaksakan orang yang belum bisa menjadi hak ku."
"Kalau kamu merasa posisi sosial yang menjadi penghalangnya, kamu salah Mam."
" Karna juga, Sedari dulu aku dan keluarga ku tak pernah mengungkit hal semacam itu."
"Aku hanya berharap bertemu dengan seorang lelaki yang bertanggung jawab, baik akhlaknya dan juga iman nya sebagai suami ku kelak. Tapi.. Ya sudah lah." Ucap Nisa dengan nada lirih, menahan emosi dan mencoba meredakan rasa kecewa yang dia tahan, yang sudah bergejolak dalam hatinya..
" Maaf Nis, aku mohon tunggu aku."Pinta Imam kembali dengan penuh harap.
"Apa keluarga kamu tahu akan keputusan mu Mam?" Tanya Nisa kembali Yang masih enggan menatap Imam yang berada didepannya.
"Ya..Awalnya mereka kurang setuju. Tapi, setelah aku menjelaskan semua, akhirnya mereka menyetujui keputusan ku. Dan aku harap kamu juga"
Nisa tertunduk, tak ingin sepatah kata pun yang dia lontar kan pada Imam. Seketika suasana saat itu hening tanpa suara dari mereka berdua.
"Aku juga tak ingin egois Nis,"
"Kita juga faham, bahwa ikatan kita bukanlah ikatan akad nikah, aku gak mau mengekang kamu nisa..Aku juga beri kebebasan kalau ditengah penantian merasa tidak kuat kamu boleh menikah dengan orang lain. Kamu masih bebas memilih." Ucap Imam kembali seakan pasrah dengan keputusannya ini.
Nisa pun tak menggubris hasil ucapan dari Imam, dia memilih diam seribu kata dari pada melanjutkan kata yang bisa menambah sakit hati dan rasa kecewanya lagi.
Ya ..Hampir sebulan dia mencoba belajar untuk mencintai Imam kembali, mencoba menggeser Richo dari hatinya. Tapi tak bisa dipungkiri, dia pun masih gagal dengan pernikahannya untuk kedua kalinya.
Setelah Imam mengungkapkan isi hatinya yang sudah menjadi keputusannya, Imam kembali kerumahnya dengan rasa bersalah, hanya saja dia masih kukuh dengan pendiriannya.
Sedangkan Nisa, setelah Imam izin pamit dari rumahnya..Diapun mencoba menjelaskan pada ayah dan ibu Nisa tentang kondisi hubungannya bersama Imam.
Iba dan kesal yang mereka rasakan sebagai orang tua saat melihat anaknya terluka kembali hatinya. Nisa mencoba menahan itu saat didepan orang tuanya. Seakan tak ingin mereka mengetahui keterlukaan hatinya saat ini.
" Sabar Annisa. Kalau kalian berjodoh pasti bertemu lagi" Ucap aYah Nisa mencoba menenangkan anaknya itu.
"Lebih baik gak usah berjodoh Nis kalau laki laki seperti itu. Plin plan !" Potong Ibu Nisa dengan kesal seakan Anaknya dipermainkan oleh Imam.
" Buuu...Jangan gitulah, ,," Sahut ayah Nisa pada Istrinya itu dengan tatapan menyudahi.
__ADS_1
Akhirnya Nisa pun memilih balik kekamarnya, merenung apa yang sedang terjadi akhir akhir ini.
Tanpa sadar , bulir bulir air mata Nisa mulai jatuh kepipinya. Dengan cepat dia mengusap air matanya, lalu menjatuhkan dirinya ditempat tidur dengan beberapa bantal yang menimpa tubuhnya. Yah..mungkin dengan cara begitu dia bisa meredakan rasa kesalnya terhadap apa dia rasakan kali ini.
***
Di RS. Audy yang terus penasaran dengan sosok Annisa, Akhirnya mencari tau info pada Bagian Staf, yang ternya Nisa sedang Cuti untuk beberapa hari.
Audy pun masih kukuh untuk mulai mendekati Richo. Mencari celah agar Dia bisa bersama Richo dimana pun dan kapan pun.
Dari beberapa kejadian yang di alami pasien di RS, membuat Audy merasa bangga bahwa dirinya bisa berdekatan dengan Richo.
Hari demi hari, Audy yang terlihat natural ingin mendekati Richo, hingga akhirnya membuat hubungan mereka semakin dekat.
Semenjak Betrand memberi masukan pada dirinya, akhirnya dia mulai membuka sedikit hatinya untuk orang lain. Mencoba tak mengharapkan cinta pada Nisa lagi, Karna dia tahu semangkin dia menanti kesempatan bersama Nisa membuat dirinya hanyut akan bayangan Cintanya.
"Gimana kabarnya Nisa ya?" Ucap Clarisa memikirkan sahabatnya itu, setelah 5 hari lamanya tak berjumpa.
" Ia.. Kangen." Sahut Kylin menopang dagu disaat mereka bertiga dikantin RS.
" Sudah lah..Kalau ada kabar bahagia darinya kan, pasti kita dapat kabar juga..Tunggu aja!" Potong Calvin menyuapkan makan siangnya.
"Udah 5 hari dia di indo. Kalau dia menikah dengan Imam, pasti dia kasih kabar ke kita kita. Ya gak?"Ucap Clarisa kembali.
"Ia ya..Apa mungkin...?" Sahut Kylin menahan katanya. Calvin dan Clarisa menatap kearah Kylin.
"Dia gagal lagi."Ucap Kylin.
"Hushhh!!Gak mungkin lah. Orang tua mereka kemaren udah sangat yakin koq. Kalau bulan Ini mereka akan melanjutkan pernikahan mereka." Sahut Clarisa.
"Ia. gak mungkin sih. Orang tua sudah saling setuju, mereka juga udah saling cinta. Terus mau alasan apa lagi pernikahan mereka sampe gagal ?" Sahut Calvin.
" heheh kan masih dugaan dok." Cengenges Kylin .
Tak berapa lama mereka saling mengobrol, Mereka mulai dikagetkan dengan kedatangan Richo bersama Audy di ruangan tersebut. Sangat jarang bagi mereka melihat Richo duduk berdua dengan seorang wanita, bahkan masih terbilang baru mengenal, selain dengan Nisa seorang.
Audy yang membawa 2 bekal siang, lalu meletakan diatas meja itu, membuka satu persatu tutup bekal, lalu mempersiapkan untuk porsi 2 orang, yang tak lain untuk Richo.
**BERSAMBUNG..
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN DUKUNGANNYA.
TINGGALIN JEJAKNYA YA DI KOLOM BAWAH..
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE NYA..
SEHAT SELALU**